Tue. Jul 14th, 2020

BLAM

KEREN

Pertautan antara Masjid dan Surga

5 min read

Masjid 99 kubah di Makassar Foto gambar: pegipegi.com

9,876 total views, 2 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset pada Balai Litbang Agama Makassar)

Perbincangan tentang masjid dan surga (Arab: jannat) adalah perbincangan tentang dua hal yang berbeda. Masjid terdapat di alam nyata, kini dan di sini; sedangkan surga terdapat di alam gaib, kelak, dan di sana.

Masjid dapat diketahui melalui pengamatan dan pengalaman berada di dalamnya, sedangkan surga diketahui melalui pemberitaan wahyu dan baru akan dialami pada hari kebangkitan, setelah kehidupan dunia berakhir.

Meskipun demikian, di antara keduanya terdapat pertautan yang erat. Sebab, keduanya dibicarakan dalam kitab suci yang diyakini kebenarannya. Kitab suci memberi banyak penjelasan dan argumen yang kuat tentang kebenaran tersebut.

Baginda Nabi Muhammad Saw. menyebut setiap masjid sebagai baytun min buyuutillah. Dengan demikian, secara umum setiap masjid adalah baitullah (rumah atau tempat untuk menunaikan ibadah kepada Allah).

Adapun baitullah dalam arti khusus adalah ka‘bah yang ada di al-Masjid al-Haram di Mekah. Ungkapan ziarah ke baitullah dipakai untuk menyebut kegiatan menunaikan ibadah haji dan umrah.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa masjid itu untuk Allah. Artinya, Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah (al-Jinn/72:18).

Selanjutnya, kata surga terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata ini diartikan dengan alam akhirat yang membahagiakan roh manusia yang hendak tinggal di dalamnya (dalam keabadian) (1997:979).

Kata surga dipakai untuk menerjemahkan kata jannat atau jannaat (bentuk jamak) yang banyak disebut dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad Saw.

Dengan demikian, penjelasan tentang surga dalam tulisan ini mengacu pada kata jannat yang diterangkan dalam dua sumber utama ajaran Islam tersebut.

Jannat dari segi bahasa berarti ‘taman’ atau ‘kebun’. Dalam at-Tafsir al-Wadhih, jannat diartikan dengan tempat keabadian yang disiapkan bagi orang-orang beriman (Hijazi, I, 1, 1968:23).

Al-Qur’an memberikan sejumlah penjelasan tentang jannat. Di antaranya, Di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya (az-Zukhruf/43:71).

Ayat lain, menjelaskan, Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (ialah seperti taman) mengalir di bawahnya sungai-sungai; senantiasa berbuah dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang yang ingkar kepada Tuhan ialah neraka (ar-Ra‘d/13:35).

Taman yang dipahami dengan surga berbeda dari taman yang ada di dunia. Nabi Muhammad Saw. menjelaskan, Allah berfirman, Aku menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang belum terlihat oleh mata, belum terdengar oleh telinga, dan tidak terbayangkan dalam hati manusia. Bacalah kalian, jika berkehendak (ayat), Falaa ta‘lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurrati a‘yunin (Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati (HR al-Bukhari dan Muslim, Abdul Baqi, II, 1995:432).

Taman Firdaus

Bahasa manusia memiliki keterbatasan kosakata untuk menjelaskan keindahan surga. Menurut at-Tafsir al-Wadhih, Allah Swt. memberi perumpamaan tentang hal yang tidak tampak dengan apa yang disaksikan dan dikenal manusia untuk memudahkan pemahaman (Hijazi, II, 13, 1968:52).

Terdapat beberapa nama surga yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Di antaranya, Jannat al-Firdaus (Taman Firdaus). Nama ini dekat dengan kata paradise dalam bahasa Inggris. Surga dinamai juga dengan Daar as-Salaam. Frasa ini dapat dipahami dengan arti ‘Surga milik Allah as-Salaam.’

Surga sebagai milik Allah dijelaskan dalam sejumlah ayat. Di antaranya, ayat yang menyatakan: Lahum daar as-salaam ‘inda rabbihim wa huwa waliyyuhum bimaa kaanuu ya‘maluun. Artinya,  Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai (surga) di sisi Tuhannya. Dan Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang mereka kerjakan (al-An‘am/6:127).

Frasa daar as-salaam juga berarti bahwa surga itu adalah tempat atau negeri yang penuh dengan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan. Dengan kata lain, surga penuh dengan kenikmatan. Surga penuh daya tarik bagi orang yang beriman dan mendalami firman Allah Swt.

Keinginan masuk surga tertanam kuat di hati kaum Muslimin. Demikian kuatnya keinginan tersebut hingga ada nama negara yang memakai frasa Darussalam. Yakni, negara Brunei Darussalam.

Di Bandar Seri Begawan, ibukota Brunei, terdapat masjid-masjid yang indah. Salah satunya adalah Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. Lingkungan di sekitarnya sangat menawan. Letaknya dekat dari sungai.

Ulama mengingatkan umat Islam memiliki keinginan yang kuat untuk masuk surga. Caranya, antara lain, masjid diberi nama dengan nama surga. Contohnya, Masjid Agung Darussalam, di Kota Watan Soppeng, Sulawesi Selatan.

Nama masjid itu juga mengingatkan, bahwa orang yang sering masuk ke rumah ibadah itu memberi andil pada terciptanya lingkungan yang damai dan sejahtera.

Harapan orang tua agar anaknya kelak masuk surga ditunjukkan dengan banyak cara. Misalnya, mereka memberi nama putranya dengan Darussalam atau Firdaus. Bagi anak perempuan, nama Nur Jannah (Cahaya Surga) sangat lazim. Nama seperti itu dijadikan doa untuk kebaikan anak.

 Masjid dan Jannat

Terdapat sejumlah kata kunci yang dapat diuraikan untuk menjelaskan pertautan antara masjid dan jannat. Salah satunya adalah konsep tentang rahmat.

Rahmat adalah kasih sayang yang menghendaki kebaikan bagi yang dikasihi. Rahmat dari Allah mendatangkan nikmat dan kemuliaan (al-Ashfahani, 1992:347). Rahmat mencakup semua kebaikan yang datang dari Allah Swt.

Dengan demikian, pada kata rahmat terdapat makna yang luas. Dimensi maknanya mencakup material dan spiritual, dunia dan akhirat.

Anugerah berupa iman dan Islam adalah rahmat terbesar dari Allah Swt. kepada seseorang. Itu menjadi keyakinan dari setiap Muslim. Setiap Muslim diarahkan agar senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah Swt. sepanjang hidup di dunia hingga hari kemudian. Masuk surga di akhirat adalah rahmat.

Doa memohon rahmat dari Allah terkandung pada salam yang diucapkan kaum Muslimin ketika saling menyapa. Seorang Muslim yang meninggal didoakan agar memperoleh rahmat dari Allah Swt.

Teksnya, antara lain, Allahumma-gfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa‘fu ‘anhu. Artinya, Ya Allah ampunilah dia, sayangilah dia, berilah dia kesejahteraan, dan maafkalah dia. Warhamhu dapat diterjemahkan dengan ‘sayangilah dia’ atau ‘berilah dia rahmat’ (untuk laki-laki). Warhamhaa berarti ‘sayangilah dia’ (untuk perempuan).                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Rahmat dapat diartikan dengan ‘kasih sayang’. Makna kata ini mencakup pula ‘ampunan’ dan sejumlah makna yang lain. Salah satu tempat untuk mendapatkan kasih sayang dan ampunan dari Allah Swt. adalah masjid.

Sejalan dengan itu, sebelum masuk masjid, setiap Muslim dianjurkan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. kemudian membaca doa, Allahumma-gfir lii dzunuubii waftah lii abwaaba rahmatika. Artinya, ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (Syihab, 2008:377-378).                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Beramal di Masjid untuk Akhirat

Masjid adalah tempat beramal. Berbagai macam ibadah dilakukan di tempat ini. Di antaranya, salat, berdoa, berzikir, membaca Al-Qur’an, tafakur, belajar agama, itikaf, dan menyalurkan infaq, zakat dan shadaqah. Berbagai macam amal itu mendatangkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah, Muslim dan Muslimah akan dimasukkan ke dalam surga di akhirat kelak.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tidak ada amal seseorang pun yang dapat menyelamatkannya.” Para sahabat bertanya: “Juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Juga aku, hanya saja Allah menutupi aku dengan rahmat-Nya, beramallah kalian dengan benar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, Yusuf, I, 2014:298).

Masjid sebagai tempat beramal dapat dilakukan dalam beragam bentuk. Banyak arsitek Muslim memberi sumbangan dalam bentuk rancangan bangunan masjid yang kokoh, indah, dan sejuk.

Misalnya, Majid Al-Markaz Al-Islami Jenderal Muhammad Yusuf di Makassar. Masjid ini mengakomodasi ciri khas bangunan di kalangan orang Bugis dan Makassar. Contoh lainnya adalah Masjid Raya Sumatera Barat di Kota Padang.

Masjid ini sangat kental dengan ciri bangunan di tanah Minangkabau. Sumbangan jenis ini untuk masjid memiliki dimensi intelektual yang sangat kuat.

Bangunan-bangunan ini mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal yang relevan. Perpaduan itu melahirkan kreativitas dan produktivitas.

Nabi Muhammad Saw. Bersabda, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, Man banaa masjidan lillahi  ta‘ala banaa-llahu lahu baytan fil jannah. Artinya, Barang siapa membangun masjid karena Allah Ta‘ala, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga (Muslim, I, 2011:240).

Hadis ini memberi motivasi kepada umat Islam untuk membangun masjid. Sumbangan untuk pengadaan tanah dan bangunan masjid tergolong shdaqah jariyah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *