Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Islam dan Pancasila dalam Konteks Kebangsaan

5 min read

Sumber gambar: Geotimes.com

14,185 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Islam dan ke-Indonesia-an

Islam merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia. Sekitar 88% dari lebih kurang 250 juta penduduk Indonesia memeluk muslim. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara dengan jumlah penganut Islam terbesar di dunia.

Meskipun Islam tidak disebutkan dalam konstitusi negara Indonesia, Islam mempunyai peranan penting dalam kehidupan sosial, kultural, dan politik di negara ini.

Sejak berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia pada 1297 di Samudera Pasai (Aceh), Islam telah menjadi satu sumber inspirasi utama dalam pembentukan pandangan hidup, nilai-nilai, norma-norma, dan tingkah laku rakyat Indonesia.

Pada masa pemerintah kolonial Belanda, Islam telah membantu memelihara, mempertahankan, dan bahkan mensimbolisasikan identitas, serta ciri khas rakyat Indonesia, serta oposisinya terhadap kekuasaan kolonial Belanda.

Di era Indonesia merdeka, Islam masih dipelihara fungsinya sebagai tolok ukur moralitas, dan tingkah laku bagi umat Islam, bahkan bagi masyarakat Indonesia.

Acap kali pula Islam menjadi dalil legitimasi dalam hal pengambilan kebijakan publik dan bahkan menjadi legitimasi terhadap proses pembangunan politik, terutama masalah-masalah prinsip, seperti persoalan dasar negara, kekuasaan, dan otoritas.

Meskipun dasar negara adalah Pancasila, selalu saja dicarikan pembenaran dan persesuaian dengan Islam agar mendapat legitimasi dan dukungan dari rakyat dan tokoh Islam di Indonesia.

Tanpa legitimasi dari Islam, melalui tokoh-tokohnya, proses pembangunan politik atau program pembangunan nasional pada umumnya, tidak akan berjalan secara efektif. Ini menunjukkan keunikan sistem sosio-kultural dan politik bangsa Indonesia,

Ketika banyak negara proses pembangunan politik dan nasional berjalan searah dengan kecenderungan sekularisasi, tapi untuk kasus Indonesia, kebijakan atau keputusan politik yang diambil tidak dapat mengabaikan otoritas keagamaan (Islam) yang berlaku.

Sedemikian vital peran Islam di Indonesia, meski tidak disebutkan secara formal, tapi Islam memberikan kontribusi dan pengaruh yang signifikan dalam pri-kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Malik bin Nabi pada dekade 90-an, memprediksi, Indonesia akan menjadi tempat bagi cahaya fajar Islam yang menyemburat.

Asghar Ali Engineer, meyakini jika moderasi Islam terus dipertahankan di Indonesia, hal ini akan menjadi model negara Islam di dunia. Tentu saja, dengan Pancasila sebagai kekhasannya, yang menggabungkan cita rasa keislaman dan cita rasa keindonesiaan.

Islam memberikan pengaruh yang sangat besar bagi tatanan sosio-kultural, bahkan politik di masyarakat Indonesia.

Sejak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam mulai abad XIII, Islam telah menancapkan pengaruh politiknya dan pengaruh ini terus berlanjut bahkan tidak hilang, meski penjajah Belanda datang. Malah, Islam menjadi spirit dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah dengan doktrin jihad dan cinta tanah air.

Masa Indonesia modern, Islam tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, yang menjadi kekhasannya adalah, Islam yang tampil memengaruhi bukan pada aspek simbol, tapi pada aspek nilai. Bukan pada aspek ideologi, tapi pada aspek kultural.

Pancasila merupakan hasil kompromi antara Islam dan budaya lokal Indonesia dalam sebuah pandangan hidup, ideologi, dan sistem politik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pancasila sebagai Sintesa Politik

Keunikan yang dimiliki NKRI, yang berbeda dengan negara-negara lain di dunia, termasuk negara-negara muslim yang lain.

“Indonesia bukan negara agama, tapi bukan juga negara sekuler”, itulah jargon yang selalu didengungkan dalam berbagai kesempatan untuk mendeskripsikan pilihan model NKRI.

Pancasila merupakan wujud sintesa politik yang mengakomodir berbagai kepentingan kebangsaan yang majemuk (multi agama dan multi etnik), yang mewakili aspirasi mayoritas tanpa menegasi eksistensi kalangan minoritas.

Pancasila merupakan model yang unik, sebagai pandangan hidup dan ideologi negara, yang menempatkan Indonesia dalam posisi yang benar-benar unik dalam pilihan model negaranya.

Pancasila sebagai pandangan hidup dan ideologi negara, tetaplah menjadi kajian yang unik dan dapat menjadi ikon yang mencitrakan kekhasan Islam di Indoensia. Eksistensi negara Indonesia acap kali dipandang positif dan optimistis oleh para pemikir Islam dunia.

Menurut Kuntowijoto, Pancasila sebagai ideologi adalah “objektifikasi” dari agama-agama, sehingga pancasila memeroleh dukungan ganda, yaitu ideologi yang mempunyai “categorical imperative”, dan melalui proses “internalisasi” pancasila bisa masuk ke dalam agama.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Pancasila merupakan bentuk kompromi politik, sekaligus sintesa nilai dan kebudayaan Islam dan lokalitas nusantara.

Keberterimaan terhadap Pancasila sebagai dasar negara serta menjadi karakteristik khas sistem politik Indonesia, serta sudah cukup mengakomodir nilai dasar dan universal dari ajaran Islam dengan tidak menegasi kelompok agama minoritas.

Pancasila dan Islam

Prof. Hasbullah Bakry, secara obyektif menyatakan ideologi negara yang terdapat dalam pancasila sudah cukup mewakili ajaran Islam.

Islam sejalan atau paralel dengan Pancasila. Hasbullah Bakry juga menegaskan, ulama Islam modern, menerima pancasila bisa diartikan mendekatkan diri kepada Islam dan akan semakin memperkuat ajaran Islam dalam konteks keindonesiaan.

Menurut Hasbullah Bakry, Indonesia yang berasaskan pancasila merupakan sebuah Negara Islam dengan mengemukakan lima (5) alasan, yaitu:

  1. Pancasila adalah ajaran Islam.
  2. Tidak ada penamaan negara Islam, baik dalam Alquran maupun Sunnah.
  3. Mayoritas mutlak rakyat Indonesia adalah beragama Islam.
  4. Indonesia adalah Negara “duniawi” yang anti sekularisme.
  5. Kepala negara Indonesia adalah selalu seorang muslim.

Nurcholish Madjid juga menyatakan, banyaknya unsur di dalam Pancasila seperti tercermin dalam konsep, adil, adab, hikmat, musywarah, rakyat, dan wakil. Bahkan, menurut Cak Nur, rumusan sila ke empat mirip dengan ungkapan Arab, “pangkal kebijaksanaan adalah musyawarah.

Pernyataan yang nyaris senada juga diungkapkan Ahmad Syafii Ma’arif, bahwa negara Pancasila bisa dijadikan sarana yang kukuh untuk mencapai dan melaksanakan cita-cita moral Islam, kebebasan, keadilan, kemakmuran, persamaan, persaudaraan, dan lain-lain.

Dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan, posisi pancasila, sebagaimana diungkapkan Fachry Ali, mengandung empat unsur, yaitu:

  1. Pencerminan realitas usaha menjaga kestabilan “harmonisasi dinamis” dari keragaman budaya dan agama amsyarakat Indonesia.
  2. Sebagai faktor pemersatu, nilai yang memberikan alternative baru, baik bagi perkembangan individu ataupun masyarakat untuk mencapai suatu tujuan, sistem cita-cita, dan sistem berpikir yang integral pada tingkat nasional.
  3. Sebagai ideologi yang mengandung harapan baru untuk melangkah pada kehidupan bersama yang lebih baik.
  4. Mempunyai kemampuan mempengaruhi berbagai kehidupan dan corak keberagaman masyarakat Indonesia dan mampu mempunyai kemampuan menyesuaikan dengan pertumbuhan masyarakat.

Posisi agama (Islam) dan Pancasila tidaklah layak untuk dipertentangkan secara vis a vis apalagi dengan mempertanyakan posisi agama (Islam) dihadapan pancasila, apakah sejajar atau subordinasi.

Pancasila bukanlah agama, namun –sebagaimana dikatakan oleh Kuntowijoyo- Pancasila merupakan objektfikasi dari agama-agama, terutama Islam,

Pancasila merupakan karakteristik khas dalam model sistem politik sebuah bangsa muslim terbesar seperti Indonesia.

Melalui Pancasila, Islam tetap akan selalu mewarnai corak sosio-kultural dan politik bangsa Indonesia, meski bukan secara simbolik, tapi lebih pada tataran nilai universal dari Islam yang bersesuaian dengan kultur dan tradisi masyarakat Indonesia.

Pilihan terhadap Pancasila sebagai dasar negara tak akan pernah menggerus peran Islam dan umat Islam. Melalui Pancasila, akan semakin menempatkan peran Islam dan umat Islam dalam peran yang proporsional sesuai konteks kebangsaan Indonesia yang majemuk.

Berideologikan pancasila, akan mengantarkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat “sosialistis-religius”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *