Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Bawakan Kuliah Umum di IAIN Ternate, Saprillah Sebut Kelompok Salafi

3 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, membawakan kuliah umum di IAIN Ternate, Selasa, 2 Maret 2020.

9,693 total views, 4 views today

TERNATE, BLAM – Kehadiran kelompok salafi di Indonesia, ternyata berhasil mengusung kembali isu-isu keagamaan yang sebenarnya dianggap tuntas di masa lalu. Salah satunya, pengucapan selamat Natal bagi umat muslim kepada umat Kristen.

“Mengucapkan selamat Natal merupakan salah satu isu agama yang setiap tahun dihembuskan oleh kelompok salafi. Padahal, isu seperti ini sudah selesai tahun 1981, ketika Buya Hamka menjadi Ketua Umum MUI. Buya Hamka waktu itu memfatwakan haram merayakan Natal, bukan keharaman mengucapkan selamat Natal,” kata Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si.

Saprillah menyampaikan hal tersebut, saat memberikan Kuliah Umum bertema “Kontestasi Antarkelompok Keagamaan dalam Masyarakat Islam”, di depan dosen dan puluhan mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Ternate, di Aula Rektorat IAIN Ternate, Selasa, 3 Maret 2020.

Kuliah umum ini, akhirnya menjadi diskusi menarik. Sebab, Saprillah tak hanya menyajikan data dari sumber bacaan. Ia juga menyajikan temuan lapangan para Peneliti BLAM, termasuk dirinya, ketika meneliti fenomena kehadiran kelompok keagamaan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Memang, sejak beberapa tahun lalu, kelompok keagamaan Islam, yang dianggap menganut paham fundamental, mulai hadir di kota yang dijuluki Kie Raha ini. Mereka umumnya menyasar kalangan mahasiswa di sejumlah kampus Islam maupun kampus umum.

Alhasil, beberapa tradisi keagamaan yang selama ini dianut masyarakat tempatan, dianggap sebagai bukan ajaran Islam, dan tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman. Padahal, Ternate sendiri, selama ini dikenal sebagai daerah yang lumayan kental dengan kearifan lokal. Penduduk di kota ini pun, sebagai besar memeluk Islam.

Tak heran, kota ini memiliki beragam tradisi dan ritual. Antara lain, kololi kie (mengelilingi gunung), fere kie (mendaki puncak gunung), serta bentuk kerjasama lainnya, yang berlandaskan azas gotong-royong atau rorio dan leleyan.

Hingga kini, beberapa tradisi dan ritual tersebut, tetap diadakan setiap tahun oleh masyarakat, serta diagendakan oleh pemerintah setempat.

Saprillah melanjutkan, selain pengucapan selamat Natal, kalimat kembali ke Al-Quran dan Sunnah juga kerap didengungkan kelompok salafi, yang seolah-olah menuding, bahwa kelompok lain tidak merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah.

“Semua kelompok agama (Islam) mengacu kepada Al-Quran dan Sunnah. Namun, tentunya, yang membedakan antara kelompok satu dengan kelompok lain adalah cara memahaminya (Al-Quran dan Sunnah). Oleh sebab itu, NU, Muhammadiyah, dan Salafi, semuanya benar, karena mereka bersandar pada ulama mereka,” kata Ketua Lakpesdam NU Sulawesi Selatan, ini.

Masalahnya, yang seringkali menjadi sumber pertengkaran belakangan ini adalah, adanya kelompok agama tertentu yang memahami pendapat ulama mereka, dan kemudian menyalahkan pendapat kelompok yang berbeda dengan mereka.

“Maka, yang sering kita lihat adalah terjadi perdebatan. Tetapi, saya melihat, perdebatan itu hanyalah pada tataran simbolik, bukan pada ranah subtantif,” ujar mantan aktivis PMII, ini.

Pada kondisi seperti ini, umat Islam semestinya memahami juga di mana letak posisinya berada, dan jangan lantas memosisikan dirinya seperti ulama.

“Sebagian besar posisi kita itu, umat. Dan, kita sebagai umat, hanyalah menerima pendapat para ulama, karena kita belum sampai pada derajat ulama,” katanya.

Sebagai kata kunci, ia mengimbau kepada semua kelompok keagamaan untuk membuka diri dengan cara mendialogkan perbedaan, saling memahami, dan kemudian bersikap arif dalam melihat perbedaan yang ada.

“Sebab, boleh jadi, kita menganggap telah memahami agama, padahal sesungguhnya hanyalah serpihan-serpihan pengetahuan saja,” imbuh Saprillah.

Tandatangan MoU

Sebenarnya, kehadiran Saprillah di IAIN Ternate, tidak hanya untuk memberikan kuliah umum. Lawatan orang nomor satu BLAM ini ke Ternate, juga untuk meneken kerjasama dengan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Ternate, yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan, atau Memorandum of Understanding (MoU).

Dengan demikian, BLAM hingga awal Maret 2020, telah melakukan kerjasama dengan empat kampus berbeda, yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Tadulako Palu, dan IAIN Ternate.

Pada penelitian 2020 hingga 2025, BLAM akan berkonsentrasi mengangkat tema Moderasi Beragama. Namun, Moderasi Beragama ini tidak hanya kepada persoalan teoritik, tetapi juga fokus pada tataran praktik di lapangan.

Sementara untuk penelitian 2021, BLAM bakal mendalami Moderasi Beragama dengan menyasar berbagai komunitas seperti kaum perempuan, penyandang difabel, serta kelompok minoritas lainnya di KTI.

Tahun lalu, di bawah nahkoda Saprillah, BLAM menggandeng sejumlah kampus di KTI, antara lain, Universitas Muhammadiyah Makassar, UIN Makassar, IAIN Parepare, IAIN Palopo, Universitas Haluoleo Kendari, dan Universitas Hasanuddin. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *