Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Membimbing Peneliti di Kendari, Prof Kadir Usulkan Teori Terpaan Media

3 min read

Prof. Dr. H. Kadir Ahmad (kanan) mengobrol dengan Peneliti BLAM di Kendari. Foto: Dok. BLAM

10,028 total views, 2 views today

KENDARI, BLAM — Ketua Tim Pengendali Mutu Kelitbangan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Prof. Dr. H. Abd. Kadir Ahmad, MS, melakukan bimbingan teknis (bimtek) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Di kota ini, tiga peneliti melakukan penelitian, yaitu Paisal, Asnandar Abubakar, dan Muh. Subair.

Paisal meneliti “Media Online dan Pemahaman Keagamaan Siswa Madrasah”; Asnandar Abubakar, “Pemahaman Kebhinekaan Peserta Didik Madrasah Aliyah; dan Muh. Subair,  “Moderasi Beragama dalam Kearifan Lokal Suku Morenene: Tradisi Kohala. Bimtek dilaksanakan selama lima hari, 27 Februari hingga 2 Maret 2020.

Prof. Kadir, dalam arahannya, menyatakan, perlu memetakan paham keagamaan di Kota Kendari.

Menurutnya, aktualisasi paham keagamaan akan memberikan gambaran pola persebaran, sosialisasi, dan pemanfaatan media yang digunakan, serta respon masyarakat terhadap paham keagamaan tersebut.

“Selain paham keagamaan, yang perlu juga dicermati adalah suku dan budaya. Apakah pernah terjadi gesekan budaya di Kendari, bagaimana sikap penerimaan masyarakat terhadap keragaman budaya. Jangan sampai muncul sikap etnosentrisme dalam memahami budaya orang lain,” kata Kadir Ahmad.

Kondisi sosial, budaya, dan agama, lanjut Kadir Ahmad, akan memengaruhi persepsi atau pandangan siswa terhadap pluralisme di masyarakat. Persepsi ini merupakan salah satu konstruksi dari konseptualisasi kebhinekaan atau keragaman.

Kadir Ahmad menyatakan, interaksi sosial siswa di masyarakat secara tidak langsung memberikan wawasan tentang kebiasaan yang terbentuk di masyarakat, sesuai norma sosial dan nilai-nilai agama. Sebisa mungkin, interaksi siswa di masyarakat dikelola dengan baik, karena siswa memiliki waktu pembelajaran yang padat.

“Apalagi, setiap hari, siswa menyelesaikan pembelajaran sekitar pukul 16.00 setempat dan berlangsung selama sepekan, yaitu Senin sampai Sabtu,” kata Kadir Ahmad.

Saat pembimbingan, Subair mengemukakan temuannya, bahwa tradisi Kohala adalah denda adat dalam bentuk upacara ketika terjadi pelanggaran pada kehidupan sosial masyarakat suku Moronene atau Tomaronene.

Menurut Subair, tradisi Kohala dilaksanakan oleh para pemangku adat Suku Morenene dan disaksikan warga Tomaronene. Kohala juga merupakan media rekonsiliasi, atau media perdamaian, ketika masyarakat bertikai.

“Ketika Kohala sudah dimusyawarakan, tidak ada lagi yang bertikai. Mereka sudah mempunyai ikatan saling menjaga dan saling menghormati,” kata Subair.

Peneliti Asnandar menjelaskan, paham kebhinekaan dan keagamaan siswa, selain diperoleh dari proses pembelajaran melalui substansi mata pelajaran. Juga, didapatkan dari media sosial dan kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan di masyarakat.

“Media sosial dimanfaatkan untuk mendapatkan bahan-bahan pengembangan atau penguatan tema-tema dan substansi pembelajaran serta bahan-bahan pendukung menyelesaikan tugas pembelajaran,” katanya.

“Sedangkan paham kebhinekaan dan keagamaan dari masyarakat didapatkan melalui kegiatan seremoni seperti peringatan hari besar agama atau peringatan hari besar nasional yang menampilkan pagelaran seni dan budaya,” lanjut Asnandar.

Sementara Paisal, menemukan, media sosial selain dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran, juga banyak dimanfaatkan siswa untuk membuka kanal-kanal, atau tautan-tautan yang memuat segmen acara yang lagi viral.

“Seperti mendengarkan ceramah agama mubaligh-mubaligh kondang di youtube, meskipun juga ada kanal yang dikunjungi siswa bersifat entertainment,” kata Paisal.

Setelah mendengar paparan para peneliti, terutama terkait penelitian media online, Prof Kadir kemudian mengusulkan menggunakan teori exposure media, atau teori terpaan media.

“Teori ini dapat membantu peneliti untuk menggambarkan kecenderungan, atau perilaku individu maupun kelompok, dalam melihat atau mendengar pesan tertentu di media sosial. Terpaan media yang terus menerus dapat memengaruhi pikiran dan perilaku siswa,” katanya.

Menurutnya, ceramah-ceramah agama yang diminati siswa dan sering dikunjungi pada media sosial, dikarenakan isi ceramah mudah dicerna, diterima oleh akal, dan mengandung unsur humor.

“Substansi ceramah adalah yang berhubungan dengan fiqih, akidah, akhlak, dan fenomena sosial keagamaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat,” kata Kadir Ahmad. (dal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *