Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Menemukan Moderasi Beragama pada Ritual Belian Nondoi di Penajam, Kaltim

2 min read

Peneliti Ahli Utama BLAM, Dr. H. Ab. Kadir M., melakukan pembimbingan kepada Hamsiati. Foto: Dok. BLAM.

6,994 total views, 4 views today

BALIKPAPAN, BLAM – Peneliti Ahli Utama Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Dr. H. Abd. Kadir Massoweang, memberi beberapa masukan kepada Hamsiati, yang sementara melakukan penelitian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

Kadir menyambangi Hamsiati, Peneliti Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi BLAM, untuk melakukan pembimbingan selama lima hari, terkait penelitian yang tengah dikerjakan Hamsiati tentang Moderasi Beragama dalam Kearifan Lokal Masyarakat di Kabupaten PPU.

Saat pembimbingan berlangsung, Hamsiati mengemukakan apa yang ia temukan di lapangan. Menurutnya, salah satu kearifan lokal masyarakat PPU, yang berkorelasi dengan Moderasi Beragama adalah, Upacara Adat Belian Nondoi.

Belian Nondoi merupakan ritual bersih-bersih kampung yang sejak dulu dilakukan leluhur Paser, yang kemudian masih dilanjutkan dan dilestarikan oleh penerusnya, hingga kini.

Makna pelaksanaan ritual tersebut adalah menghormati para leluhur agar mereka mendapatkan hasil melimpah saat berladang, atau melaksanakan aktivitas pekerjaan.

“Belian Nondoi adalah kearifan lokal masyarakat Paser, yang kemudian menjadi program tahunan Pemerintah Kabupaten PPU untuk melestarikan tradisi dan budaya masyarakat. Prosesi upacara adat dipimpin oleh pemimpin ritual yang mereka sebut mulung, atau dukun,” kata Hamsiati.

Pada saat ini, kata Hamsiati, pelaksanaan upacara Belian Nondoi bekerjasama dengan Lembaga Adat Paser. Segala yang berkaitan dengan ritualnya diambilalih Lembaga Adat Paser. Sementara untuk kegiatan kesenian dan lomba-lomba diambilalih Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten PPU.

Yang menarik, saat prosesi adat berlangsung, sang dukun yang memimpin upacara mengucapkan mantra-mantra atau besoyong.

“Nantinya, mantra atau besoyong yang saya peroleh dari hasil wawancara akan saya transliterasi, lalu terjemahkan, dan kemudian menjelaskan apa makna di baliknya, terutama yang berhubungan dengan Moderasi Beragama. Sebab, inti dari Belian Nondoi terletak pada besoyong, yang dilafadzkan oleh mulung,” papar Hamsiati.

Kadir menyatakan, data yang ditemukan Hamsiati sudah cukup bagus. Hanya saja, untuk memudahkan dalam penulisan laporan, ia mengingatkan untuk mendeskripsikan perolehan data lapangan, dan kemudian memberikan kode sesuai komposisi bab laporan penelitian.

“Setelah wawancara atau observasi, hasil wawancara atau observasinya langsung dideskripsikan. Jangan lagi menunda-nunda supaya datanya tidak ada yang terlupa,” imbuh Kadir. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *