Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Nilai Universal Al-Quran tentang Moderasi Beragama

5 min read

Sumber gambar: artikula.id

6,265 total views, 10 views today

 Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan, hanya kepada Allah kembali kamu semuanya, lalu diberitahu kepadamua apa yang kamu perselisihkan itu (al-Maidah (5):48).

Tauhid sebagai Doktrin Dasar

Tauhid merupakan doktrin dasar yang paling fundamen dalam ajaran Islam. Seorang muslim, diwajibkan untuk menginternalisasi tauhid sebagai paradigma (pandangan dunia) dalam mengarungi kehidupan.

Selama lebih separuh masa dakwah Rasulullah saw (+13 tahun) memfokuskan perjuangannya pada internalisasi tauhid di masyarakat Arab (Quraisy).

Tauhid, bukan sekadar pengakuan atau persaksian bahwa tiada Ilah selain Allah, tapi pemaknaan terhadap tauhid melampaui dari sekadar pengakuan atas eksistensinya yang tunggal.

Jika kita tarik pemaknaan tauhid dalam ranah realitas ciptaan (makhluk), maka tauhid berarti adalah pengakuan akan pluralitas atas selain Dia (makhlukNya).

Hanya Dia yang tunggal, dan selain Dia adalah plural. Pluralitas adalah bagian dari kehendak Allah, dan Allah menciptakan berbagai variabelnya agar pluralitas tidak mengalami benturan.

Olehnya itu, tauhid murni adalah meyakini keesaan hanya milik Allah, sedangkan pluralitas adalah keniscayaan makhluk, dan pluralisme adalah prinsip dasar masyarakat.

Perbedaan sebagai Keniscayaan

Bahwa, semua umat manusia berbeda adalah fakta yang tak terbantah. Secara fisik dan psikologis, tidak ada manusia yang sama persis.

Di samping perbedaan ras, suku, bangsa, dan bahasa, yang merupakan perbedaan bawaan manusia, terdapat sekian banyak perbedaan perolehan manusia. Antara lain dalam gagasan, pengetahuan, pendekatan, prioritas, dan penilaian.

Agama merupakan salah satu varian perbedaan manusia, baik dalam ruang bawaan maupun perolehan. Moderasi beragama merupakan prinsip dasar kehidupan sosial yang diarahkan pada pengakuan akan perbedaan.

Melalui sikap moderasi, akan hadir pengakuan terhadap perbedaan yang diarahkan pada terwujudnya nilai-nilai kemanusiaan universal. Seperti, kebebasan, koeksistensi damai, egalitarianisme, kasih-sayang, amar ma’ruf-nahy munkar, fastabiqul khaerat, dan keadilan.

Seluruh nilai-nilai tersebut bermuara pada nilai kesucian dan kesempurnaan Tuhan sebagai Wujud Mutlak dan modus eksistensi seluruh realitas.

 Pluralitas dalam Al-Quran

Secara eksplisit, Al-Quran dalam surat 30:22 dan 49:13 mengakui pluralitas sebagai sunnatullah dalam kehidupan. Karena itu, secara hakiki moderasi merupakan suatu kebenaran alamiah, hukum universal, pandangan hidup yang legal, dan rahmat Ilahi.

Moderasi sebagai prinsip dasar sosial sangat jelas dalam wahyu Al-Quran ketika memperlakukan manusia secara sama. Tidak ada perbedaan dalam warna kulit, bahasa, suku, bangsa dan keturunan semuanya sama di mata hukum.

Al-Quran juga mengemukakan, alih-alih merancang suatu sistem masyarakat yang seragam, Allah menakdirkan pluralitas yang abadi dalam hal peradaban, sistem, hukum, pendapat, dan agama.

Tujuan pluralitas dalam ciptaan bukanlah untuk mendorong ketidakharmonisan dan perang, melainkan hal ini merupakan tanda dari Tuhan, bahwa manusia harus berjuang untuk mempunyai saling pengertian dengan baik.

Aspek yang terpenting, sebagaimana diisyaratkan Allah dalam Surat 5:48, tujuan dari penciptaan realitas yang plural adalah supaya manusia saling berlomba-lomba untuk berjuang mewujudkan masyarakat utama. Hal ini berarti, Islam tidak berupaya mengingkari maupun melenyapkan atau memaksa “yang lain” (2:256).

Karena Tuhan menciptakan perbedaan sebagai sarana untuk mendorong perlombaan dalam kebaikan di antara umat manusia. Selain itu, Allah juga menghendaki jalan tengah, sebagaimana ditunjukkan dalam kenyataan, bahwa Ia menciptakan masyarakat muslim sebagai ummatan washatan, suatu masyarakat (per)tengah(an), masyarakat yang menghindari ekstrimitas.

Al-Quran telah mencapai puncaknya dalam berbicara soal moderasi beragama, yaitu ketika menegaskan sikap penerimaan Al-Quran terhadap agama-agama selain Islam.

Al-Quran dengan sangat jelas menyatakan, Allah menghendaki pluralitas agama dengan berbagai perbedaan, yang lahir dari hukum-hukum sosial, yang Allah tetapkan bagi masyarakat.

Penerimaan Al-Quran terhadap eksistensi agama lain, bukan hanya sekadar pengakuan terhadap umat agama lain sebagai sesama entitas sosial belaka, sebagaimana umat Islam.

Melainkan, Al-Quran menegaskan jaminan keselamatan eskatologis penganut agama lain selama mereka meyakini eksistensi Allah, eksistensi hari akhir, dan beramal saleh, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:62 dan 5:69.

Secara implisit, lewat kedua ayat tersebut, Allah ingin mengatakan, bahwa semua agama juga mengimani adanya Allah dan hari akhir, serta pengakuan bahwa semua agama menganjurkan untuk beramal saleh.

Sayyed Ali Khamene’I (pemimpin spiritual Iran) dalam pertemuan agama-agama di Teheran mengatakan, semua agama menganggap keselamatan dan kesejahteraan umat manusia sebagai tujuannya. Setiap agama menampilkan “program Tuhan” kepada umat manusia sesuai tuntutan zaman, ruang, dan kapasitas umatnya.

Perjuangan dan jerih payah yang dilakukan oleh pembawa risalah agama dan pengikutnya, tak lain ditujukan untuk keselamatan umat manusia dan demi jalan Tuhan.

Agama-agama Tuhan tidak hanya menghendaki keselamatan umat tertentu, masa tertentu, dan kawasan tertentu saja. Melainkan, agama Tuhan menghendaki keselamatan universal untuk semua manusia. Lepas dari sekat ruang, waktu, maupun golongan tertentu.

Di satu sisi, manusia pasti berbeda. Namun, pada sisi lain, umat manusia secara keseluruhan adalah satu kesatuan yang secara substansial memiliki fitrah yang sama, dan menuju pada cita ideal, dan nilai universal yang sama pula. Moderasi beragama membuka ruang terhadap penerimaan realitas yang plural.

Namun, di sisi lain, pengakuan pluralitas realitas meniscayakan pengakuan, bahwa realitas tersebut mendasarkan dirinya pada kesamaan nilai dan tujuan kemanusiaan yang mengikat semua manusia; terlepas dari apa pun identitasnya yang berbeda, baik bawaan maupun perolehan.

Moderasi Beragama

Moderasi beragama adalah bentuk kelembagaan, di mana penerimaan terhadap keragaman melingkupi masyarakat tertentu atau umat manusia secara keseluruhan. Secara praksis, makna moderasi beragama lebih dari sekadar toleransi moral atau koeksistensi pasif.

Sikap moderasi di satu sisi mensyaratkan ukuran-ukuran kelembagaan dan legal yang melindungi dan mensahkan kesetaraan dan mengembangkan rasa persaudaraan di antara sesama manusia sebagai pribadi atau kelompok.

Moderasi menuntut suatu pendekatan yang serius dalam upaya memahami pihak lain dan kerjasama yang yang membangun untuk kebaikan semua.

Moderasi dalam beragama juga berarti, bahwa kelompok-kelompok minoritas dapat berperan serta secara penuh dan setara dengan kelompok mayoritas di dalam masyarakat, sembari mempertahankan perbedaan dan identitas mereka yang khas.

Sikap moderasi mensyaratkan pengetehuan dan pengertian akan keragaman manusia (49:13). Dengan demikian, tumbuhnya saling pengertian akan melahirkan penghargaan yang timbal balik, mencegah kecurigaan, sehingga memunculkan keterikatan moral dan membantu terpeliharanya keadilan.

Keterikatan moral pada keadilan adalah hal mendasar untuk terwujudnya keadilan yang merata di antara semua manusia.

Al-Quran memerintahkan untuk berbuat adil tanpa memandang perbedaan atau diskriminasi golongan (4:135). Sebab, keadilan adalah hak semua manusia, dan hal ini hanya akan terwujud jika pluralisme diinternalisasi sebagai pandangan dan sikap hidup bermasyarakat.

Al-Quran memang menyatakan kebenaran dan jalan keselamatan adalah satu, karena berasal dari Yang Satu.

Namun, pengakuan akan ketunggalan kebenaran dan jalan keselamatan tidak meniscayakan pengingkaran terhadap keragaman pengetahuan, pemaknaan, gagasan, tanggapan, penilaian, dan praktik sebagai perolehan manusia dari kebenaran yang tunggal tersebut.

Kebenaran dan jalan keselamatan yang tunggal menjadi plural, setelah dipersepsi dan diinterpretasi oleh kerangka pemikiran manusia yang berbeda.

Allah dalam Al-Quran sebagai pemilik kebenaran tunggal membuka ruang terhadap keragaman tersebut, dan bahkan dengan tegas menyatakan, bahwa keragaman tersebut merupakan “bagian dari kehendakNya.” (5:48). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *