Tue. Mar 31st, 2020

BLAM

KEREN

Moderasi Beragama: Perspektif Filsafat Perennial

4 min read

Sumber: Kompasiana.com

6,038 total views, 12 views today

 Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

 “Lampu-lampu adalah berbeda, namun cahaya tetaplah sama.”  (Maulana Jalal al-Din Rumi)

Dalam membahas moderasi beragama dari kacamata filsafat, kurang lengkap rasanya bila tidak menyajikan konsep filsafat perennial sebagai salah satu perspektif filosofis dalam memandang tema tersebut.

Filsafat Perennial

Filsafat perennial merupakan salah satu studi dalam filsafat yang memandang agama dari sudut pandang esoterik (batin), dan bukan dari aspek lahir (eksoterik). Melalui filsafat perennial kita akan diantar pada pemahaman tentang titik temu agama-agama dengan tanpa menyamakan agama-agama tersebut.

Secara sederhana, filsafat perennial menurut Aldoux Huxley, setidaknya dapat didekati dengan tiga sudut pandang, yaitu epistemologis, ontologis, dan psikologis.

Secara epistemologis, filsafat perennial membahas makna, substansi, dan sumber kebenaran agama, serta bagaimana kebenaran itu berproses “mengalir” dari Tuhan Yang Absolut kemudian tampil dalam kesadaran akal budi manusia, serta mengambil bentuk dalam tradisi keagamaan yang menyejarah.

Sedangkan dari pendekatan ontologis, filsafat perennial berusaha menjelaskan adanya sumber dari segala yang ada (wujud qua wujud), bahwa segala wujud ini hanyalah nisbi, realitas alam tak lebih dari sekedar jejak, kreasi, maupun cerminan dari Dia (theophany).

Pendekatan psikologis menjelaskan, filsafat perennial berusaha mengungkapkan apa yang disebut sebagai “wahyu batiniah”, “kebenaran abadi”, atau “sophia perennis” yang terukir di dalam lembaran hati seseorang yang paling dalam yang senantiasa rindu pada Tuhan dan senantiasa mendorong seseorang untuk berpikir dan berperilaku benar.

Dengan kata lain, secara psikologis filsafat perennial meyakini pandangan bahwa dalam setiap diri manusia terdapat –dalam istilah Hindu- “atman” yang merupakan pancaran dari “Brahman”.

Sepuluh Prinsip

Dalam membangun konsep moderasi beragama, filsafat perennial mendasarkan pandangannya pada kesatuan dan universalitas esoterik dari semua agama dan ajaran spiritual.

Kesatuan universal esoterik tersebut menurut Hazrat Inayat Khan, didasarkan pada sepuluh prinsip fundamen dari seluruh ajaran esoterik agama.

Kesepuluh prinsip dasar tersebut menggambarkan secara universal dan prinsipil dari dimensi esoteris alam dan manusia.

Dari kesepuluh prinsip esoterik tersebut dapat diambil kesimpulan, semua agama pada dasarnya mengalami keberangkatan yang berbeda (plural) pada ranah eksoterik menuju kesatuan dalam keabadian universal esoterik.

Kesepuluh prinsip dasar esoterisme agama menurut Hazrat Inayat Khan adalah: 1) Hanya ada satu Tuhan, abadi, satu-satunya Wujud, tak ada yang eksis kecuali Dia. 2) Hanya ada satu guru, pembimbing semua jiwa yang senantiasa membawa pengikutnya menuju cahaya. 3) Hanya ada satu kitab suci, manuskrip alam yang sakral, satu-satunya teks suci yang dapat mencerahkan pembacanya.

Lalu, 4) Hanya ada satu agama, jalan kebenaran yang kokoh menuju cita-cita yang memenuhi tujuan hidup setiap jiwa. 5) Hanya ada satu hukum, hukum timbal balik yang dapat dilihat oleh kesadaran yang tidak egois, dan rasa keadilan yang terbangkitkan.

Kemudian, 6) Hanya ada satu persaudaraan, persaudaraan manusia yang menyatukan anak-anak bumi “dalam diri” Tuhan. 7) Hanya ada satu moral, yakni cinta yang memancar dari penolakan diri dan merekah dalam prilaku kebajikan

Selanjutnya, 8) Hanya ada satu objek pujian, keindahan yang mengangkat hati hamba melalui semua aspek, dari yang terlihat menuju yang tak terlihat. 9) Hanya ada satu kebenaran, pengetahuan sejati tentang wujud kita, di dalam dan di luar, yang merupakan esensi dari segala kebijaksanaan. 10) Hanya ada satu jalan, pelenyapan ego palsu ke dalam ego sejati, yang mengangkat ego yang fana’ menuju keabadian, tempat segala kesempurnaan.

Pendekatan Memahami Moderasi Beragama

Filsafat perennial memberikan suatu pendekatan lain untuk menuju konsepsi pluralisme. Filsafat perennial membangun konsep moderasi beragama dengan menggunakan metode kritis-kontemplatif.

Filsafat perennial mendasarkan konsep moderasinya pada pendekatan trans-historis dan metafisis serta tidak terpaku pada pendekatan akademik historis atau sosiologis belaka.

Kearifan sosial yang terbangun dalam bentuk-bentuk sebagaimana dipaparkan Muhammad Fathi Osman pada masyarakat pluralis, merupakan implikasi dari pendekatan pemahaman agama yang trans-historis dan metafisis.

Filsafat perennial tidak meyakini bahwa semua agama sama atau tidak menghargai religuisitas yang partikular serta mereduksi praktek-praktek keberagamaan yang eksoterik menjadi tidak bernilai.

Apalagi, sampai “menelanjangi” identitas dan simbol-simbol lahiriyah agama, karena hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai perennial itu sendiri.

Filsafat perennial berpandangan, Kebenaran Mutlak hanyalah satu, tetapi dari Yang Satu itu memancar berbagai “kebenaran” sebagaimana matahari yang secara niscaya memancarkan cahayanya.

Hakikat cahaya adalah satu dan tanpa warna tetapi spektrum cahayanya ditangkap oleh mata manusia dalam kesan yang beraneka warna.

Artinya, meskipun hakekat dari agama itu satu sebagaimana yang diuraikan dalam kesepuluh prinsip universalitas esoteris. Tetapi karena agama muncul dalam ruang dan waktu tidak secara simultan, pluralitas dan partikularitas bentuk dari bahasa agama tidak bisa dielakkan dalam realitas sejarah.

Dengan kata lain, pesan kebenaran yang Absolut itu bersimbiose dan berpartisipasi dalam dialektika sejarah.

Itulah sebabnya, secara eksoterik-historis agama tampil dalam berbagai wajah, namun pada ranah esoterik-transhistoris agama pada dasarnya satu karena berasal dari realitas trans-historis yang tak mengenal partikularitas dan pluralitas.

Dalam konsep eskatologis, karena filsafat perennial memandang semua agama menuju pada tujuan yang sama dan berdasar pada kearifan dan kebanaran yang sama pula.

Maka, akan terbangun sikap pluralis karena memandang keselamatan eskatologis terbuka untuk seluruh manusia, dari berbagai latar belakang agama maupun keyakinan.

Dengan memahami kesatuan agama secara substansial, maka filsafat perennial akan mengantarkan kita untuk memahami agama -meminjam istilah Godon W. Alport- secara intrinsik dan tidak beragama menurut pola ekstrinsik.

Pola keberagamaan intrinsik akan mengantarkan kita untuk selalu memaknai dan menghayati agama secara obyektif dalam ranah kehidupan kita.

Secara sosiologis, hal ini akan membuat kita senantiasa bersikap arif dan menghargai terhadap berbagai perbedaan yang tampak dengan orang lain.

Ruang dialog, saling memahami, kerjasama, dan persaudaraan sebagai perwujudan konsep pluralisme akan lebih mudah untuk terbangun dalam ranah kehidupan sosial umat beragama yang berbeda.

Moderasi beragama dalam perspektif filsafat perennial, akhirnya terpraksis dalam bentuk ko-eksistensi aktif. Beranjak dari perbedaan kemudian menyusuri jalanesoteris untuk sampai pada titik temu kebenaran. Akhirnya, sampailah pada kesalingpahaman dalam perbedaan.

Dari Yang Satu terciptalah yang jamak dan karena Yang Satu, yang jamak pun niscaya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *