Wed. Feb 19th, 2020

BLAM

KEREN

BLAM Tertarik Meneliti Perempuan dan Penyandang Difabel

2 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si. Foto: Dok. BLAM.

3,208 total views, 254 views today

MAKASSAR, BLAM – Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar (BLAM) akan memberi perhatian khusus mengenai isu-isu perempuan, penyandang difabel (keterbatasan diri), minoritas, dan media digital, untuk tema-tema penelitian pada tahun mendatang.

“Selama ini, kita sepertinya belum memberi perhatian khusus mengenai isu-isu perempuan, difabel, minoritas, dan media digital. Karena itu, pada tahun-tahun mendatang, saya mencoba menawarkan grand desain penelitian kita menyasar isu-isu seperti itu,” kata Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, Jumat, 14 Februari 2020.

Meski berkutat di seputaran isu tersebut, bukan berarti BLAM lantas mengabaikan tema besar penelitan mereka, yaitu Moderasi Beragama.

Menurut Saprillah, fokus penelitian BLAM tetap mengacu kepada Moderasi Beragama. Hanya saja, isu yang diangkat tidak lagi menyasar pada lembaga pendidikan, komunitas tertentu, dan organisasi masyarakat.

“Pada penelitian 2020, kita ingin melihat praktik dan nalar Moderasi Beragama yang berkembang di semua segmen masyarakat, seperti komunitas, organisasi masyarakat, dan lembaga pendidikan. Sementara pada penelitian 2021, kita tidak lagi berbicara Moderasi Beragama sebagai objek, tetapi (Moderasi Beragama) sebagai sudut pandang,” jelas Saprillah.

Banyak hal yang bisa diangkat mengenai isu perempuan, difabel, minoritas, dan media digital. Misalnya, kata Saprillah memberi contoh, pelayanan pendidikan terhadap kaum difabel, atau pelayanan pendidikan terhadap anak-anak Papua di madrasah.

“Setidaknya, kita ingin mengamati bagaimana praktik multikultural yang dialami anak difabel sebagai minoritas di sekolahnya, atau bagaimana teman-teman sekolahnya memerlakukan anak difabel itu. Apakah ia mengalami body shaming, di-bully, dan sebagainya,” kata Saprillah.

Sementara untuk anak-anak Papua yang bersekolah di madrasah, misalnya, peneliti bisa memotret, antara lain, pola relasi sosial antara murid Papua sebagai orang lokal yang bersekolah di madrasah dengan teman-teman sekolahnya yang kebanyakan non Papua atau “pendatang”.

“Apakah relasi mereka tergolong akur, atau justru saling memberikan stigma satu sama lain. Dan, bagaimana pihak sekolah melakukan rekonsiliasi. Saya kira, temuan penelitian ini akan menjadi menarik,” kata Saprillah.

Pada 2021, BLAM sebenarnya telah merencanakan penelitian mengenai pelayanan haji berkebutuhan khusus (lansia dan disabilitas). Berdasarkan data yang diperoleh, dari sekian jamaah haji itu, banyak pula yang berusia lanjut dan disabilitas.

Hanya saja, tidak semua bidang penelitian BLAM dapat diarahkan melakukan riset mengambil isu-isu perempuan, difabel, minoritas, dan media digital.

“Barangkali, Peneliti di Bidang Lektur tidak akan diarahkan ke situ. Sebaliknya, Bidang Pendidikan dan Bidang Bimas, sangat tepat untuk meneliti isu-isu seperti itu. Tapi, nantinya, semua akan kita bicarakan dan diskusikan bersama lagi,” kata pria asal Palopo, ini. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.