Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Moderasi Beragama: Problem Asumsi Sosiologis

6 min read

Sumber gambar: Poliklitik.com

6,639 total views, 2 views today

Oleh: Badruzzaman (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Moderasi beragama, merupakan sebuah konsep paduan antara “Moderasi” dan “Beragama”. Penulis pikir, konsep beragama sudah dipahami oleh sebagai besar masyarakat Indonesia.

Penulis dapat juga mengatakan, beragama adalah berpendapat, berperilaku, dan bergaul dengan cara yang disampaikan oleh ajaran agama.

Ajaran agama secara umum mencakup tiga hal, yaitu sistem kepercayaan, sistem peribadatan, dan sistem etika. Tiga hal yang menjadi cakupan ajaran agama ini, merupakan ciri dari setiap agama.

Tiga sistem ajaran tersebut, mengindikasikan, bidang keilmuan yang mengamatinya adalah bidang studi humanis. Sebuah bidang yang menjadi induk semua bidang keilmuan yang menjadikan manusia sebagai objek atau subjek studi.

Ia merupakan bidang keilmuan yang mempelajari tentang cara membuat atau mengangkat manusia menjadi lebih manusiawi dan berbudaya.

Secara khusus terdapat beberapa bidang keilmuan yang mengkaji tiga sistem ajaran agama itu, antara lain, teologi dan antropologi.

Teologi merupakan bidang keilmuan yang menjadikan ajaran agama sebagai objek studi. Sementara antropologi menjadikan pikiran dan perilaku manusia sebagai objek studi.

Pikiran dan perilaku yang teraktualisasi itu didasari oleh nilai-nilai yang  dipahami oleh manusia. Nilai-nilai ini dapat bersumber dari hasil dari kristalisasi dari keinginan dan harapan sebuah komunitas tertentu atau dapat pula berasal dari ajaran agama tertentu, yaitu sistem kepercayaan, peribadatan dan etika.

Berdasarkan asumsi di atas, konsep “beragama” dapat digolongkan sebagai objek kajian ilmu  antropologi.

Penulis mengingat pendapat Koentjaraningrat yang membagi tujuh sistem kebudayaan, yaitu sistem kepercayaan, kemasyarakatan, pengetahuan, bahasa, mata pencaharian, teknologi, dan seni.

Sementara konsep moderasi masih relatif baru. Ia berasal dari kata moderat. Secara epistemologi, konsep moderat sering digunakan dalam bidang keilmuan politik.

Kita biasa mendengar dan membaca konsep tertentu, yang sering diucapkan oleh orang Belanda,  saat menjajah Indonesia, ekstremis. Konsep ini disematkan pada kelompok orang yang bergerak memperjuangkan kemerdekaan.

Kemudian muncul konsep ekstrem kanan dan ekstrem kiri, di masa pemerintahan Orde Baru. Ekstrem kiri disematkan pada kelompok yang menginginkan negara dikelola berdasarkan paham komunisme. Secara organisatoris, kelompok yang berpaham ini mengorganisir diri dalam bentuk partai PKI.

Ekstrem kanan merupakan kelompok yang menginginkan negara dikelola berdasarkan ajaran agama tertentu, termasuk ajaran Agama Islam. Sementara politik moderat adalah kelompok yang tidak berafiliasi pada dua kelompok ekstrem itu, yaitu menginginkan Pancasila sebagai dasar negara.

Karena itu, kata moderat, dipergunakan untuk menggambarkan sebuah posisi di antara dua posisi tertentu. Kelompok moderat merupakan posisi tengah di antara dua posisi kanan dan kiri, depan dan belakang, atau atas dan bawah.

Posisi moderat ini tentunya tidak disamakan dengan posisi sebuah benda di antara dua benda. Moderat merupakan konsep abstrak yang batas-batasnya tidak dapat dilihat secara kasat mata seperti melihat batas-batas posisi benda.

Makna inti dari moderat adalah posisi tengah. Identifikasi diri pada posisi tengah dapat dimaknai sebagai penetapan posisi diri di luar dari posisi-posisi yang lain yang telah lebih dahulu muncul.

Realitas adanya ekstrem kanan dan ekstrem kiri, menjadi objek respons dari sekelompok tertentu masyarakat yang tidak sependapat atau seminat.

Respon tersebut diorganisir, sehingga membentuk sebuah kelompok baru yang pendukungnya memberi nama kelompok moderat. Jadi ia merupakan sebuah upaya untuk memosisikan diri dari dua realitas kelompok yang berbeda.

In Group dan Out Group

Pola pengelompokan ini (moderat) memunculkan kategori sosial tertentu, in group dan out group. Individu yang sepaham atau seminat dengan kolompok moderat cenderung meng-identifikasikan diri sebagai in group.

Sementara individu/kelompok yang tidak sepaham dan seminat oleh kelompok moderat dilabeli sebagai out group. Konsep-konsep posisi sosial, in group dan out grup, sering sekali kita temukan pada bidang keilmuan sosiologi.

Kembali kepada konsep moderasi beragama. Karenanya, konsep ini merupakan paduan antara bidang antropologi dan sosiologi. Kedua bidang keilmuan ini memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya pada objek materi kajian, yaitu manusia.

Sementara perbedaannya pada objek formal. Antropologi mengkaji manusia sebagai makhluk berbudaya, sementara sosiologi mengkaji manusia sebagai makhluk bermasyarakat.

Secara realitas, identifikasi diri sebagai makhluk sosial lebih banyak menimbulkan masalah.  Hal ini disebabkan, identifikasi diri ini cenderung menimbulkan klaim diri memiliki posisi tertentu dalam suatu masyarakat.

Identifikasi diri pada posisi tertentu itu melahirkan pola interaksi tertentu terhadap individu/kelompok tertentu yang dianggap menempati posisi tertentu yang lain, mungkin terhadap individu/kelompok  yang sesama posisi atau berbeda posisi.

Demikian halnya kelompok moderat yang mengklaim diri memiliki posisi sosial tertentu. Pendukungnya cenderung melahirkan pola interaksi tertentu terhadap kelompok ekstrim.

Pola interaksi pada sesama anggota kelompok moderat cenderung dominan berbentuk kerja sama. Namun, pola interaksi terhadap kelompok ekstrem dapat berupa, kerja sama, antipati, stereotip, atau konflik.

Sementara mengidentifikasi diri sebagai makhluk berbudaya cenderung melahirkan keragaman, harmoni, akulturasi, bahkan kedamaian. Banyak sekali realitas ini muncul karena, individu mengidentifikasi diri sebagai mahluk berbudaya.

Tiga Datuk

Ketika Agama Islam masuk ke nusantara, di mana ajaran agama Islam yang monoteisme bertemu dengan ajaran agama animisme.

Dua ajaran agama yang saling bertentangan yang dianut oleh manusia sebagai makhluk budaya dan mahkluk sosial.

Ajaran agama Islam dapat diterima dengan baik oleh penduduk di Jawa karena para wali saat itu mengidentifikasikan diri sebagai makhluk budaya. Akibatnya, ajaran agama Islam diterima sebagai bagian kepercayaan masyarakat bahkan melahirkan akulturasi.

Awal masuknya Islam di Sulawesi, dibawa oleh tiga Datuk, Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk ri Pattimang.

Meskipun beberapa ahli menyatakan Islam masuk ke Sulawesi melalui wadah politik, karena ketiga Datuk menyasar langsung para raja sebagai sasaran dakwah, dan para raja pun masuk Islam.

Namun, para Datuk tidak memosisikan diri sebagai sebuah  kelompok sosial tertentu yang berbeda dengan sistem sosial (kerajaan) saat itu. Tiga datuk malah mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari sistem sosial (kerajaan).

Beberapa legenda muncul yang menceritakan tentang kompetisi ketinggian ilmu supra natural antara raja Luwu dengan tiga Datuk. Namun, kompetisi itu tetap didudukkan sebagai bagian budaya. Mereka tidak melibatkan sejumlah rakyat dalam meraih dukungan kemenangan.

Raja Luwu mampu menyusun ratusan telur, sementara tiga datuk mampu menarik satu persatu telur di antara susunan telur itu dan telur yang tersisa tetap tersusun (tidak berjatuhan).

Realitas sosial yang saling berbeda, tidak menjadi halangan  agama Islam diterima seebagai bagian sistem kerajaan di tengah agama Lagaligo (animisme).

Kasus-kasus yang sama banyak kita temui di seluruh wilayah nusantara. Keragaman tradisi, hamonis kehidupan masyarakat yang berbeda, tradisi akulturatif, dan kondisi masyarkat yang damai.

Betapa harmoni-nya  para penganut agama yang mengidentifikasi diri sebagai makhluk berbudaya dari pada makhluk sosial.

Kondisi serupa tidak terjadi di Eropa. Islam masuk ke Eropa melalui invasi Muslim Afrika Utara abad VIII – X. Selama beberapa abad, intensitas politik muslim berdiri di wilayah Spanyol, Portugal, Italia, dan Malta.

Penganjur agama yang masuk ke wilayah itu mengidentifikasikan diri sebagai makhluk sosial (politik), sehingga melahirkan identifikasi diri pada posisi tertentu yang berbeda dengan masyarakat setempat.

Muncul kemudian pola interaksi, yaitu konflik. Komunitas muslim terusir keluar Spanyol pada abad XV. Yang tersisa hanyalah jejak kejayaan Islam di masa lalu berupa bangunan bernuasa Islam difungsikan sebagai objek wisata.

Kita belum pernah mendengar temuan penelitian satu pun tradisi masyarakat yang muncul akibat  akulturasi antar tradisi Islam dan Eropa.

Bahkan, hingga saat ini, pola interaksi dalam bentuk kerja sama antar dua jenis pendukung kepercayaan (Muslim dan Kristiani) ini belum intensif. Pola interaksi hanya dapat bergeser pada stereotif bahkan antipati.

Beragama, sejatinya dikategorikan sebagai bagian berbudaya. Realitas munculnya sekelompok penganut agama yang berpaham fundamental dan liberal hendaknya diasumsikan sebagai keragaman budaya.

Asumsi ini nantinya akan berimplikasi pada munculnya keragaman, harmoni, bahkan akulturasi paham keagamaan, seperti akulturasi ajaran Islam dengan Kejawen.

Penganut agama hendaknya menahan diri untuk mengkategorikan realitas perbedaan paham sebagai kategori sosial.

Karena hal ini nantinya bakal melahirkan gejala sosial, seperti indentifikasi diri, pemosisian diri, pembentukan kelompok baru, klaim in group dan out group, bahkan muncul klaim kebenaran, dominasi, dan paling berhak.

Gejala-gejala yang muncul akibat kategorisasi ini dapat menimbulkan problema sosial, antara lain, stereotip, antipati, bahkan konflik.

Perbedaan paham keagamaan (fundamental dan liberal) merupakan realitas sosial. Namun,  asumsi kita terhadap realitas sosial itu hendaknya tidak didasarkan pada asumsi sosial.

Realitas sosial itu hendaknya tidak dianggap sebagai sekolompok komunitas yang memiliki paham tertentu yang berbeda dengan paham keagamaan yang kita pahami. Karena asumsi ini bakal melahirkan asumsi baru bahwa kelompok tersebut adalah bukan bagian dari kelompok kami.

Asumsi terakhir inilah yang berpotensi melahirkan perbedaan pola interaksi tertentu, stereotif, antipati, bahkan konflik.

Realitas sosial (fundamental dan liberal) hendaknya diasumsikan sebagai bagian budaya. Ia merupakan hasil pemikiran manusia untuk menjelaskan makna ajaran agama dalam bentuk pengetahuan, peribadatan, perilaku dan hasil  karya.

Jika asumsi ini kita pakai dalam merespon segala gajala keagamaan, maka persentuhan antar komunitas bisa kita hindari.

Kemungkinan muncul kelompok baru yang mengidentifikasi diri sebagai kelompok fundametal, liberal, moderat dapat dihindari, bahkan konsep moderasi beragama.

Namun, yang muncul kemudian adalah, keragaman paham keagamaan, kaharmonisan beragama, bahkan dapat muncul akulturasi antara paham keagamaan fundamental, libaral, dan moderat.

Kondisi terakhir yang bakal muncul adalah kedamaian dalam beragama, karena yang bersentuhan hanyalah aspek budayanya, bukan pendukung budaya itu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *