Sun. Apr 5th, 2020

BLAM

KEREN

“Melawat ke Suriah Berburu Surga?”  

6 min read

Sumber gambar: Republika.com

5,447 total views, 10 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Sakit menimpa, sesal terlambat.” Kurang lebih, begitulah gambaran sosok Aref Fedulla, orang yang menjual habis hartanya demi bergabung dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah). Tentunya, penyesalan yang terlambat, setelah kesengsaraan datang melanda.

Pada 2015, Arief Fedulla memboyong keluarganya ke Suriah untuk berjihad. Jika harus mati, ia mati dalam jihad. Mati syahid ganjarannya surga. Jika bisa hidup, kehidupan di bawah naungan khilafah ISIS adalah kehidupan surga di dunia.

Begitulah yang Arief impikan. Sayangnya, harapan tinggallah harapan. Rupanya, kenyataan yang ditemukan jauh panggang dari api.

Menjadi bagian dari ISIS, ternyata kehidupan yang pahit. Keluarga Arif Fedulla terbengkalai. Anaknya, Nada Fedulla, yang ikut diboyong ke Suriah putus sekolah, dan hidup terlunta-lunta di negeri itu. Cita-cita menjadi dokter, kandaslah sudah.

Pengalaman tak jauh berbeda juga diceritakan seorang perempuan, yang diberi nama samaran Aleeyah oleh Tempo.  Pada 8 Desember 2015, Aleeyah bersama suami menuju Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Ia ke sana menyongsong impian menjadi bagian dari negara khilafah ala minhaju nubuwah.

“Kami ingin meraih better life.” Begitu, katanya. Lalu, perempuan ini pun melanjutkan ceritanya ke Tempo:

Better life bukanlah soal mencari kehidupan ekonomi yang lebih baik. Kami ke sana karena melihat propaganda ISIS di youtube tentang hidup di bawah naungan khilafah ala minhaju nubuwah. Itulah kehidupan yang terbaik. Tanpa pikir panjang, kami segera menuju Suriah, kendati perjalanan ke sana tidak mudah.”

Namun, seperti halnya Arief Fedulla, yang ditemukan Aleeyah dan suaminya di bawah naungan ISIS bukanlah Islam yang ramah, tapi orang yang selalu marah-marah. Kezaliman merajalela. Banyak di antara tentara ISIS berkelakuan ibarat gangster atau mafia yang berjubah agama.

Kisah yang nyaris sama juga dituturkan Lasmiati. Seperti pengakuannya di youtube, Lasmiati bergabung dengan ISIS, karena mau hidup di bawah negara yang menerapkan hukum Islam secara kaffah.

Tetapi, begitu tiba di Suriah, kenyataan yang sangat jauh berbeda ia temukan. Sikap kasar dan kekerasan yang justru sering terlihat. Adab beberapa laskar ISIS justru tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

Semua orang tentu memiliki impian, dan impian umat Islam adalah hidup bahagia dunia – akhirat. Mendapatkan kenikmatan di dunia, dan ganjaran surga di akhirat. Impian inilah yang seringkali dimanipulasi oleh kelompok-kelompok radikalisme dan terorisme.

Dengan dan atas nama surga, mereka membuai angan-angan beberapa kalangan umat Islam.  Brainwash ini terbukti berhasil.

Di antara yang paling mudah tertipu memang adalah kalangan anak muda dan kalangan yang secara ekonomi tidak mampu. Selain iming-iming surga jika mati dalam jihad versi ISIS, mereka dijanjikan pula kehidupan dan pekerjaan yang lebih baik di bawah naungan Khilafah ISIS.

Hal ini sejalan temuan Ahmad Syafii Mufid dalam kasus lain, yang menunjukkan, sekitar 63,6 % pelaku terorisme adalah tamatan SMA. Mereka rata-rata anak muda yang tidak memiliki pekerjaan jelas.

Namun, kita tidak bisa semata-mata bertumpu pada penjelasan mengenai faktor ekonomi yang menjadi alasan utama seseorang bergabung dengan kelompok semacam ISIS, atau organisasi lain yang bercita-cita mendirikan khilafah.

Banyak orang yang bergabung dengan ISIS dan sejenisnya, bukan karena persoalan kehidupannya yang morat-marit. Contohnya Arif Fedulla, Aleeyah, atau pun Lesmiati. Mereka semua tidak hanya mampu dari segi ekonomi, tetapi juga orang-orang terpelajar.

Contoh lainnya adalah Abdul Subhan Qureshi. Orang ini melakukan sejumlah aksi teror di India,  dan dianggap berafiliasi dengan jaringan yang serupa ISIS.

Ia adalah pemegang sejumlah proyek besar. Posisinya istimewa, gajinya fantastis. Semua yang diimpikan oleh anak muda telah diraihnya. Faktor ekonomi jelas bukanlah alasan utama dia terlibat dalam jaringan terorisme ini.

Jika ingin disebut lagi, masih banyak deretan orang terpelajar dan orang kaya yang terlibat dalam jaringan-jaringan semacam ISIS. Sebutlah di antaranya: Umar Farouk, seorang mahasiswa cemerlang jurusan teknik mesin University College London.

Ada pula Bekkay Harrach, mahasiswa teknologi laser dan matematika di Jerman. Juga, Azhari Husin, dosen penyandang gelar Ph.D.

Propaganda

Apa yang menyebabkan orang-orang yang harusnya memiliki nalar dan terbiasa berpikir rasional ini, terlibat dalam organisasi yang kerap melakukan gerakan yang berlawanan dengan akal sehat?

Ada banyak jawaban. Dan, di antara jawaban itu banyak menyebutnya sebagai kejanggalan. Tetapi, saya sendiri, khususnya dalam tulisan ini, cenderung melihat hal itu terjadi karena keberhasilan propaganda mereka tentang tatanan yang Islami. Mereka mampu memikat umat Islam dengan janji penegakan khilafah ala minhaju nubuwah.

Dengan menggunakan teknologi informasi, mereka mempropagandakan ajaran-ajarannya.  Orang-orang yang selama ini tidak pernah berguru, tetapi yakin bahwa belajar Islam itu harus langsung pada Al-Qur’an dan Hadits biasanya yang paling mudah termakan oleh propaganda ini.

Dengan kata lain, ajaran pemurnian Islam yang mendorong orang untuk langsung kembali pada Al-Qur’an dan Hadits, seringkali membuat orang mudah terpengaruh propaganda yang menyetir ayat-ayat Al-qur’an atau pun Hadits.

Seakan ayat-ayat Al-qur’an dan hadits dengan serta merta langsung bisa dipahami dengan terang maknanya. Padahal, untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an atau pun hadist, bukanlah perkara gampang. Tidak serta merta makna Al-qur’an dan Hadits itu hanya sebatas arti tekstualnya saja. Di sinilah dibutuhkan ulama untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif .

HTI

Maka jangan heran, jika di Indonesia beberapa kalangan mahasiswa dan orang terpelajar juga terpengaruh masuk ke HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), organisasi politik yang juga sibuk mengampanyekan khilafah. Tidak lain, karena sebagian di antara mereka, juga merasa mampu langsung memahami Al-qur’an dan Hadits.

Saya masih ingat salah satu pernyataan dari anggota pengusung khilafah di media sosial. Katanya: “Rasulullah SAW hanya memerintahkan: ‘Jika ada perselisihan atau permasalahan di antara kalian, maka kembalilah pada Al-qur’an dan Hadits’. Tidak pernah Rasulullah SAW menyuruh kembali atau bertanya pada para sahabat atau ulama.”

Pernyataan si pengusung khilafah tersebut jelas parokial. Sebab, Al-qur’an dan Hadits, tidak mungkin bisa langsung sampai pada kita, tanpa perantaraan sahabat, tabi’in, tabii-tabi’in dan ulama.

Begitu pun, bagaimana mungkin kita bisa memahami Al-Qur’an dan Hadits tanpa ilmu alat (nahwu dan sharaf ), ilmu tafsir, ilmu Ushul Hadits dan ilmu-ilmu lainnya yang dibuat oleh para ulama tersebut?

Pernahkah kita berpikir bisa membaca Al-qur’an tanpa razm (titik dan tanda huruf)? Ilmu itu didesain oleh sahabat dan para ulama. Kita dipermudah membaca Al-Qur’an dan Hadits, di antaranya karena jasa al-Farahidi dan Sibawahi. Keduanya ulama.

Karena itu, orang-orang yang bergabung secara sadar dengan ISIS, sejatinya kesadarannya adalah kesadaran palsu. Mereka menganggap, bergabung dengan ISIS adalah kesadaran seorang muslim yang baik, karena mengikuti ayat-ayat Al-Qur’an ataupun Hadits yang disodorkan ISIS.

Padahal, kesadaran tersebut adalah kesadaran yang telah dimanipulasi. Mereka hanya disodorkan tafsir terhadap ayat-ayat tersebut sesuai dengan kepentingan ISIS.

Kini, setelah mereka bergabung dan menyaksikan kenyataan, barulah kesadaran sejati muncul. Di Suriah tak ada surga. Yang ada cuma perang. Yang ada adalah orang-orang yang sedang memburu kekuasaan dengan mengatasnamakan agama.

Pada saat seperti itulah, mereka sadar kembali. Surga itu ternyata adalah kampung halamannya sendiri. Hamparan sawahnya, gunung-gunung hijau yang menjulang, dan sungai-sungai yang mengalir, itulah surga dunia.

Semua itu, ternyata ada di Indonesia. Negaranya sendiri. Lantas, mengapa harus melawat ke negeri lain jika surga dunia dan para bidadari justru ada di kampung halaman sendiri?

Orang tua yang menunggu bakti anaknya, kaum miskin yang butuh disantuni, anak yatim yang perlu dipelihara, ternyata bisa dilakukan di negerinya sendiri. Itulah pintu-pintu menuju surga akhirat. Mereka tidak harus berjihad ke Suriah.

Mulai dari saat ini, kita perlu mengingat baik-baik. Siapa pun yang mengajak memberontak dan mendirikan negara baru, kendati mengatasnamakan khilafah, jangan mudah dipercaya. Bahkan,  terhadap mereka yang mengatakan ingin menegakkan satu pemerintahan berdasarkan agama  tanpa mengangkat senjata.

Perlu diingat, perang dan senjata, ternyata tidak bisa dipisahkan dari para pemburu kekuasaan. Ed Husein (2007), mantan Hizbut Tahrir, mengutip kata Oemar Bakri, pimpinan Hizbut Tahrir di Britania:

“Kami hanya membutuhkan senjata, bukan makanan atau pakaian, dalam perang kami bisa memakan musuh kami.” Sebuah pernyataan yang angker. Jangan pernah mau terjatuh pada lubang yang sama!

Kendati penyesalan selalu datang terlambat, tapi bagi Tuhan, tidak ada sesal yang tak berguna. Tuhan selalu menunggu hamba-Nya untuk pulang. Kembali ke kasih sayang-Nya, bersimpuh dalam ampunan-Nya.

Kata Rumi dalam syairnya:

“Datanglah datang, siapa pun kalian,

Para pengembara, pemuja dan pencinta kebebasan.

Ini Bukan kafilah keputusasaan.

Tidak masalah jika kalian telah melanggar janji beribu kali

Tetaplah datang dan teruslah datang

 Karena itu, wahai para mantan pengagum ISIS, Tuhan menantimu untuk kembali kepada-Nya. Tetapi, mohon maaf. Sebagian besar rakyat di Indonesia, saat ini, belum siap menerimamu. Darah dan air mata, belumlah kering benar. Entah, kelak di kemudian hari. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *