Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Peran Strategis Ormas Islam dalam Menguatkan Kebudayaan Nasional

5 min read

Penulis (paling kiri) pada seminar ABI, di Kaltim. Foto: Dok. Pribadi

4,053 total views, 8 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Sabtu, 1 Februari 2020, saya dalam kapasitas sebagai peneliti Balitbang Agama Makassar diundang oleh pengurus Ormas DPW Ahlulbait Indonesia (ABI), Kalimantan Timur (Kaltim), sebagai pembicara dalam acara seminar yang mereka selenggarakan. Seminar tersebut diadakan sebagai rangkaian Musyawarah Wilayah ke III DPW ABI Kaltim.

Seminar tersebut mengusung tema; “Peran Ormas Islam dalam Menguatkan Strategi Kebudayaan Nasional”. Seminar tersebut dimaksudkan menjadi bahan masukan bagi penyusunan program kerja ABI Kaltim periode 2020-2025. Ketua DPP ABI, Habib Zahir bin Yahya, MA, juga hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut.

Pada seminar tersebut, saya memaparkan makalah berjudul; “Peran Ormas Islam dalam Menguatkan Islam Nusantara sebagai ‘Cetak Biru’ Kebudayaan Nasional”. Tulisan ini merupakan ringkasan dari makalah yang saya paparkan pada seminar tersebut.

Kebudayaan Nasional

Kebudayaan Nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasonal. Menurut TAP MPR No II tahun 1998, kebudayaan nasional berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia, dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan hakat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa.

Memajukan kebudayaan nasional merupakan amanat UUD 1945 Pasal 32. Dalam ayat 1 dinyatakan; “Negara memajukan kebudayaan nasionalIndonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara danmengembangkan nilai-nilai budayanya.”

Integrasi dan transformasi berbagai kebudayaan lokal dalam konteks Indonesia melahirkan kebudayaan nasional.

Kebudayaan nasional adalah sebagai puncak kebudayaan daerah, yang di dalamnya merupakan panduan seluruh lapisan kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencerminkan semua aspek kehidupan bangsa.

Kebudayaan nasional adalah totalitas berdasarkan aspek kerohanian bangsa dan segala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia Indonesia.

Kebudayaan nasional menghimpun dan mengekstraksi lokalitas dan globalitas sekaligus, sehingga kita akan jumpai pengaruh “asing” dalam berbagai aspek.

Kebudayaan nasional tak bisa dilepaskan dari agama, utamanya Islam, yang telah mewarnai pembentukan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Islam Nusantara sebagai “Cetak Biru” Kebudayaan Nasional

Secara posisi geografis Indonesia berada pada titik peripheral dari dunia Islam, Inodnesia berada jauh dari pusat sentral Islam yang berada di Timur Tengah. Sisi lain, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan budaya dan etnik yang beragam.

Hal ini menjadi faktor penentu pembentukan identitas budaya Islam Indonesia yang lokal, yang khas, dan yang plural. kesemua hal itulah yang menjadi esensi dari identitas kebudayaan Indonesia.

Islam hadir di Indonesia membawa transformasi pada kebudayaan lokal.. Transformasi adalah sebuah proses pengalihan total dari bentuk lama menuju suatu bentuk baru yang akan mapan. Transformasi dapat diandaikan sebagai sebuah proses yang berlangsung lama secara gradual.

Selain itu, transformasi dapat diandaikan sebuagai sebuah titik balik yang cepat bahkan absolut. Transformasi kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan bentuk-bentuk kebudayaan, melainkan juga berkenaan dengan nilai-nilainya.

Kehadiran Islam yang melakukan transformasi kebudayaan di Indonesia, membuat kebudayaan lokal di Indonesia mengalami pengalihan sistem kebudayaan menjadi sebuah bentuk baru yang kemudian dianggap mapan, bercita-rasa Islam namun tetap tak kehiangan identitas lokalnya.

Islam Indonesia adalah Islam yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan dan pengaruh tradisi lokal. Langkah-langkah yang ditempuh untuk memasyarakatkan ajaran Islam dalam konteks keindonesiaan dalam kemasan lokal dimulai semenjak Islam masuk di negara ini.

Islam yang kini menjadi agama mayoritas di Indonesia merupakan hasil dari proses panjang inkulturasi budaya yang tentu saja mengilustrasikan adanya sebuah dialektika intensif antara ajaran Islam dengan tradisi dan tata nilai masyarakat Indonesia.

Hal ini membuat Islam tampak seperti tradisi asli yang sulit untuk dihilangkan begitu saja. Sehingga, bicara tentang Islam, juga kerap identik dengan etnik atau budaya Indonesia.

Islam Nusantara merupakan perwujudan integrasi Islam dan budaya lokal di Indonesia yang berlangsung sejak awal kedatangan Islam di wilayah Indonesia.

Islam Nusantara sebagai “cetak biru” identitas kebudayaan nasional merupakan hasil dari startegi kebudayaan Muslim Indonesia yang akhirnya melahirkan wajah dan warna Islam yang khas.

Islam Nusantara adalah potret akumulasi budaya lokal dalam beragam nilai, ekspresi hingga pernak-pernik yang bersifat fisik.

Dalam konteks keislaman, Budaya lokal tidak dipahami sebagai lokalitas an sich, karena pada kenyataannya pengaruh “asing” cukup kuat memengaruhi. Khazanah Arab, Persia, India, Cina, bahkan Eropa berpadu dan memengaruhi corak dan bentuk kebudayaan tersebut.

Mengapa digunakan diksi Islam Nusantara bukan Islam Indonesia? Karena, diksi Islam Nusantara lebih punya akar historis yang panjang dimulai dari kedatangan Islam menyapa penduduk Nusantara jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Nusantara yang dimaksud bukan sekadar zona geografis, tapi Nusantara dalam pengertian ruang sejarah, sosial, budaya hingga politik.

Islam Nusantara bisa diartikan sebagai kultur Isam yang berkembang di Nusantara. Berbeda dengaan istilah Islam Indonesia karena perbedaan dalam muatan konteks dan kronologi historis.

Islam Nusantara sebagai “cetak biru” pilar utama kebudayaan Indonesia secara politik terkristalisasi dalam Pancasila yang menjadi dasar negara. Pancasila merupakan objektfikasi dari agama-agama, terutama Islam (Nusantara), sehingga posisi Islam dan Pancasila tidak layak untuk dipertentangkan.

Pancasila merupakan karakteristik khas dalam model sistem politik sebuah bangsa muslim terbesar seperti in dan politik bangsa Indonesia, meski bukan secara simbolik, tapi lebih pada tataran nilai universal dari Islam yang bersesuaian dengan kultur dan tradisi masyarakat Indonesia.

Peran Strategis Ormas Islam

Langkah-langkah strategis ormas Islam dalam menguatkan Islam Nusantara sebagai “cetak bitu” kebudayaan nasional Indonesia perlu dirancang secara taktis dan sistematis serta diejawantahkan melalui kerja-kerja terstruktur, kolektif, dan massif.

Kerja-kerja strategi kebudayaan oleh ormas Islam dalam hal ini bermain pada empat segmen, yaitu; inernal organisasi, antarorganisasi, relasi dengan masyarakat, serta relasi dengan pemerintah.

Strategi kebudayaan ormas harus dimulai dari membangun strategi kebudayaan secara internal. Segmen inernal organisasi adalah dengan kerjasama internal dalam mewujudkan kultur organisasi dan organisasi kultur.

Yaitu, menjadikan organisasi sebagai organisasi yang menghmpun kader dalam sebuah sistem bersama yang dianut bersama. sistem bersama tersebut dijaankan dengan sepenuh komitmen organisatoris.

Sebagai organisasi kultur sebuah ormas Islam harus bercorak inklusif dengan membangun kerjasama aktf dengan ormas lain yang se visi. Sekaitan dengan kerja-kerja penguatan Islam Nusantara dariupaya pelemahan oleh kelompok keagamaan baru.

Maka, ormas Islam yang bercorak tradisionalis dan bervisi nasionalis. Kerjasama antar ormas menjadi penting untuk membangun kekuatan besar menjaga Islam Nusantara sebagai “cetak biru” kebudayaan nasional.

Kelompok kultural seperti pesantren, kelompok tarekat, masyarakat adat, LSM, dan lainnya harus digandeng sebagai mitra bersama menjalankan misi ini.

Kerjasama lintas iman pun menjadi penting dalam rangka menguatkan dan menjaga kebhinekaan sebagai salah satu pilar bangsa. Karena, memecah kebhinekaan merupakan salah satu target sasaran dari kelompok trans-nasional,  yang hendak memecah keutuhan NKRI.

Tantangan besar ormas Islam dalam menguatkan Islam Nusantara sebagai “cetak biru” kebudayaan nasional adalah gencar dan massifnya kelompok puritanis mencerabut masyarakat Muslim Indonesia dari akar kultural keislamannya.

Untuk itu strategi dakwah kultural sebagai langkah-langkah strategis pencerahan pada masyarakat dari berbagai lapisan perlu dirumuskan secara sistemik.

Kerja-kerja kutural di tengah masyarakat adalah dengan melakukan edukasi dan advokasi untuk menghidupkan tradisi keislaman yang perlahan mulai ditinggalkan. Mimbar masjid, media, dan lembaga pendidikan menjadi sarana vital untuk melakukan kerja-kerja tersebut.

Kerja pemberdayaan masyarakat dalam bidang ekonomi juga tak kalah penting, karena pendekatan ekonomi kerap dijadikan modus dan strategi dakwah dari kelompok puritan-radikal.

Strategi kebudayaan yag dilakukan juga penting menggandeng kalangan aparat dan birokrat. Muncul berbagai peraturan atau surat edaran di daerah yang berisikan pelarangan kegiatan kebudayaan maupun keagamaan menunjukkan, kalangan aparat dan birokrat telah dipengaruhi oleh virus radikalisme agama yang menghabisi kebudayaan dan menegasi kebhinekaan.

Maka, segmen ini juga perlu direbut dan didekati untuk diajak kerjasama strategis menguatkan kebudayaan nasional demi keutuhan NKRI. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *