Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

Ragam Doa dalam Salat

5 min read

Sumber gambar: Tongkrongan Islami.

3,232 total views, 4 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Bidang Agama dan Tradisi Keagamaan BLAM)

Doa dan salat memiliki kaitan yang erat. Kedua kata ini diserap dari bahasa Arab, yakni du‘aa dan shalaat.

Dari segi bahasa kata salat mempunyai beberapa arti. Salah satu di antaranya adalah ‘doa’. Menurut penjelasan ulama, salat dinamai demikian, karena ia mengandung doa (ad-Dimyati, I, 1993: 29).

Kata doa berarti permohonan atau permintaan dari seorang hamba kepada Tuhan dengan menggunakan lafal yang dikehendaki dan dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan (Dahlan, ed., I, 2000: 276).

Sementara itu, salat menurut Sayid Sabiq, adalah sejenis ibadah yang mengandung ucapan dan gerakan tubuh yang telah ditentukan, dimulai dengan membaca takbiratul ihram (Allahu Akbar) dan ditutup dengan mengucapkan salam (Assalamu ‘alaikum warahmatullah) (Arraiyyah, 2016:1).

Salat mempunyai ketentuan yang sudah diatur secara terperinci. Ketentuan ini bersifat mengikat. Ketentuan ini dipedomani oleh kaum Muslimin di berbagai belahan bumi.

Salah satu dari ketentuan itu adalah bacaan dalam salat harus bersumber dari Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad Saw. Nabi bersabda yang artinya, Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat (HR. al-Bukhari).

Pada hadis yang lain dijelaskan, Sesungguhnya salat ini tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena salat itu pada dasarnya adalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur’an.

Demikian terjemah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadis yang hampir sama redaksinya diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dua hadis di atas memuat prinsip utama dalam menunaikan salat. Prinsip ini diterapkan dengan ketat, tak boleh dilanggar. Dalam pelaksanaan salat, ada ketentuan yang disebut syarat sah, rukun dan, sunat salat.

Karena adanya ketentuan ini, seorang Muslim dapat menunaikan salat secara berjamaah dengan umat Islam di berbagai tempat dan di berbagai negeri dengan tata cara yang sama.

Umat Islam dari berbagai negara di dunia mengikuti salat berjamaah di al-Masjidil al-Haram di Mekah dengan tenang. Sebab, setiap orang yang mengikuti kegiatan itu mengetahui apa yang mesti dilakukan. Masing-masing orang sudah biasa melakukan salat dengan tata cara yang serupa.

Ketentuan salat yang sifatnya wajib senantiasa dipatuhi. Adapun ketentuan salat yang sifatnya sunat (anjuran) memberi kebebasan untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Meskipun demikian, terdapat banyak ketentuan sunat yang juga senantiasa diamalkan.

Salah satu pengalaman rohani yang mengesankan bagi seorang Muslim (Muslimah) ialah, menunaikan salat berjamaah di mancanegara. Ia memasuki masjid di negeri yang ia kunjungi tanpa rasa canggung.

Ia merasa berada di suatu tempat yang diperuntukkan bagi semua Muslim, termasuk dirinya. Ia datang ke rumah ibadah itu dengan niat untuk menunaikan salat dan mengharapkan rida Allah. Rasanya, tak ada kecurigaan di antara jamaah.

Setiap orang diyakini memiliki niat luhur di tempat yang suci. Masing-masing orang memusatkan perhatian untuk melaksanakan ibadah salat dengan khusyuk.

Doa wajib dan sunat

Dilihat dari segi makna, bacaan dalam salat dapat dibedakan atas dua macam. Yaitu zikir dan doa. Selanjutnya, dari segi hukum, doa dalam salat dibedakan atas dua macam. Yaitu, wajib (rukun) dan sunat.

Artinya, kesempurnaan salat diusahakan dengan mengamalkan doa wajib dan sunat. Akan tetapi, jika dalam keadaan tertentu dan darurat, orang yang menunaikan salat dapat mengamalkan doa wajib saja.

Menurut M. Quraish Shihab, doa merupakan bagian dari zikir. Ia adalah permohonan. Setiap zikir kendati dalam redaksinya tidak terdapat permohonan, tetapi kerendahan hati dan rasa butuh kepada Allah yang selalu menghiasi pezikir, menjadikan zikir mengandung doa (Shihab, 2008:177).

Sebagian lafaz zikir, termasuk ayat Al-Qur’an, yang dibaca pada waktu salat mengandung doa secara tersirat. Lafaz basmalah (Bismillahir Rahmanir Rahim), misalnya, secara tersirat mengandung permohonan untuk mendapatkan rahmat Allah Swt. di dunia dan akhirat. Selain itu, terdapat sejumlah bacaan dalam salat yang berisi doa secara tersurat.

Berikut ini beberapa lafaz doa wajib dalam salat yang maksudnya tersurat.

Pertama. Ayat 6-7 dari surah surah al-Fatihah berisi doa. Ayat yang dimaksud, Ihdinash shiraathal mustaqiim. Shiraatal ladziina an‘amta ‘alaihim, gairil magdhuubi ‘alaihim wa laa dhaaliin.

Artinya, Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (al-Fatihah/1:6-7).

Kandungan doa ini sangat luas dan dalam. Di antaranya, Muslim berdoa kepada Allah Swt. untuk memelihara keyakinan dengan teguh secara terus-menerus, taat menjalankan ibadah, mematuhi hukum-hukum agama, menunaikan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya sepanjang hayat (Arraiyyah, 2016:101).

Muslim meyakini, jika hal-hal pokok seperti itu dipertahankan, maka mereka akan masuk surga dan bertemu dengan Allah di akhirat kelak. Islam sebagai jalan lurus, jalan hidup yang benar bersumber dari Allah Swt. dan diikuti agar dapat bertemu dengan-Nya (Lihat misalnya, al-Kahfi/18:110).

Kedua. Tahiyat akhir termasuk rukun salat. Sebagian lafaz tahiyat mengandung doa. Lafaznya, Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahi-sh shaalihiin.

Artinya, Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami dan kepada sekalian hamba-hamba Allah yang saleh. Demikian menurut riwayat Imam Muslim (Arraiyyah, 2016:127-128).

Ketiga. Salawat kepada Nabi Muhammad Saw. termasuk rukun salat. Lafaznya, Allahumma shalli ‘alaa Muhammad (Ya Allah, limpahkanlah anugerah bagi Nabi Muhammad). Sebagian ulama menyebut kata Sayyidina di depan nama Nabi.

Keempat. Salat ditutup dengan salam. Salam yang pertama termasuk rukun salat, atau ketentuan wajib. Lafaz yang lazim diucapkan, Assalamu ‘alaikum warahmatullah. (Semoga anda memperoleh kesejahteraan dan rahmat Allah).

Salam kedua hukumnya sunat. Salam dua kali mengandung pesan agar umat Islam mengupayakan kedamaian di lingkungannya dengan sungguh-sungguh. Upaya untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan perlu diperbanyak dan berkelanjutan.

Terdapat sejumlah doa dalam salat yang tergolong sunat. Di antaranya, (1) doa iftitah setelah takbiratul ihram, (2) ta’awudz sebelum al-Fatihah, (3) mengucapkan amin setelah al-Fatihah, (4) zikir atau doa pada waktu rukuk, (5) doa pada waktu bangkit dari rukuk kemudian berdiri tegak atau i‘tidal.

Selanjutnya, (6) zikir atau doa pada waktu sujud, (7) doa pada waktu duduk di antara dua sujud, (8) salawat bagi keluarga Nabi Muhammad Saw. (9) salawat bagi Nabi Ibrahim a.s. dan keluarga Nabi Ibrahim a.s., (9) doa sebelum salam, (10) salam yang kedua, dan (11) sebagian ayat Al-Qur’an yang dibaca sesudah al-Fatihah berisi doa.

Peruntukan Doa

Pada waktu menunaikan salat, seorang Muslim berdoa untuk beberapa pihak. Yakni, (1) diri sendiri; (2) Nabi Muhammad Saw.; (3) keluarga Nabi Muhammad Saw.; (4) sesama Muslim. Ini dinyatakan dalam sejumlah ungkapan, yaitu orang yang ditemani menunaikan salat, orang yang memuji Allah, dan hamba-hamba Allah yang saleh;

Kemudian, (5) Nabi Ibrahim a.s. dan keluarga Nabi Ibrahim a.s.; dan (6) para Muslim di lingkungan sekitar orang yang menunaikan salat. Kata Muslim dalam konteks ini memiliki makna yang lebih luas.

Dengan demikian, para Muslim saling mendoakan walaupun sebagian di antara mereka tidak saling mengenal dan tidak pernah bertemu.

Pada waktu salat, Muslim memohon kepada Allah Swt. kebaikan yang bersifat spiritual dan material di dunia dan di akhirat. Ragam permohonan tersebut dapat dilihat pada lafaz doa pada waktu duduk di antara dua sujud.

Yakni, Rabbi-gfirli, warhamni wajburni, warfa‘ni, warzuqni, wahdini, wa ‘aafini. Artinya, Ya Tuhan, ampunilah aku, berilah aku kasih sayang, berilah aku kecukupan, angkatlah kedudukanku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, dan berilah aku kesejahteraan. Pada sebagian teks terdapat kata wa‘fu ‘anni (maafkanlah aku).

Dalam salat, Muslim berdoa agar dijauhkan dari siksaan kubur, dijauhkan dari siksaan api neraka, dijauhkan dari cobaan hidup yang berat di dunia, dijauhkan dari cobaan yang berat pada waktu mati, dan dijauhkan dari keburukan yang ditimbulkan oleh al-masih ad-dajjal.

Redaksi doa sebelum salam, antara lain;

Allahumma inni a‘uudzu bika min ‘adzaabil qabri, wa ‘dzaabin naar, wa fitnatil mahyaa wal mamaat, wa syarril masiihid dajjal.

Ya Allah, aku mohon perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur, siksa api neraka, fitnah hidup dan mati, dan kejahatan al-masih ad-dajjal (HR. Muslim). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *