Tue. Mar 31st, 2020

BLAM

KEREN

Spirit Kebangsaan dan Keislaman: Refleksi Sejarah Pendirian HMI

4 min read

Sumber gambar: geotimes

4,851 total views, 8 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

 “Lafran Pane mendirikan HMI untuk kepentingan besar kebangsaan, bukan kepentingan sempit kekuasaan, untuk inovasi pemikiran dan karya tiada henti dan bukan stagnasi kreativitas dan program kerja, untuk keseimbangan ajaran Islam, bukan kesenjangan antara pemikiran dan perbuatan,” (Bima Arya Sugiharto)

Pendirian HMI

Sekitar 20 mahasiswa berkumpul pada suatu sore, tepatnya Rabu, 5 februari 1947/14 Rabiul Awwal 1366 H, di sebelah timur kantor pos jalan Setiyodiningratan (sekarang Jalan Senopati), Yogyakarta, dalam sebuah ruangan yang dijadikan tempat kuliah Sekolah Tinggi Islam (STI saat ini bernama Universitas Islam Indonesia).

Sore itu, yang mestinya jadwal pembelajaran mata kuliah tafsir, berubah menjadi suatu acara yang bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Di tengah kobaran api revolusi kemerdekaan. Saat kemerdekaan RI sedang terancam, anak-anak muda tersebut justru semakin bersemangat untuk menyatukan visi dan berhimpun dalam suatu wadah organisasi bernama kemahasiswaan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pendirian HMI diinisiasi oleh seorang mahasiswa tingkat I STI bernama Lafran Pane. Ia menginisiasi kawan-kawannya sesama mahasiswa STI untuk membentuk sebuah wadah organisasi kemahasiswaan yang diorientasikan pada pembangunan bangsa dan umat islam.

Dikomandani Lafran Pane, anak-anak muda muslim tersebut bertekad untuk menghimpunkan kekuatan demi dua tujuan mulia; mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia, mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

HMI lahir dari kobaran api revolusi yang meletup-letup di dada anak-anak muda tersebut, yang menyadari dirinya sebagai bagian dari warga negara Indonesia dan umat Islam, yang bertanggung jawab untuk selalu mengabdi pada bangsa dan agamanya.

Berdirinya HMI diprakarsai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta. Pendirian HMI oleh Lafran Pane dan kawan-kawan merupakan murni dicetuskan dan diprakarsai oleh kalangan mahasiswa sendiri, tanpa ada campur tangan dari pihak luar.

Kelahiran HMI didasarkan pada pandangan Lafran Pane dan kawan-kawan akan kondisi konfigurasi politik, keislaman, ekonomi, dan kebudayaan yang mewarnai kehidupan bangsa Indonesia, pada saat itu.

Inspirasi Pendirian

Ada beberapa hal yang menginspirasi Lafran Pane, sehingga membentuk HMI. Menurut Lafran Pane, agama Islam tidak akan dapat dikembangkan dengan baik, jika umat Islam Indonesia, baik fisik maupun ruhani, belum bebas dari kekuasaan penindasan penjajah Belanda.

Bangsa Indonesia harus merdeka dan berdaulat secara penuh, sebagaimana yang dinikmati bangsa yang bebas dari penjajahan kolonial. Selain itu, secara ekonomi, perekonomian bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, sangat jauh terbelakang.

Kekayaan dari bumi Indonesia dieksploitasi dan diangkut ke Belanda untuk kepentingan rakyat Belanda, sedangkan rakyat Indonesia, terlebih umat Islam hidup dalam keprihatinan ekonomi dan kemiskinan yang berkepanjangan.

Di bidang pendidikan, umat Islam Indonesia masih jauh tertinggal, rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, tidak dapat menikmati pendidikan dengan baik. Pendidikan hanya dapat dikecap oleh kalangan tertentu saja, hingga banyak kalangan masyarakat yang tidak dapat mengakses pendidikan.

Selain pada ketiga hal tersebut di atas, Lafran Pane juga melihat kondisi keislaman umat islam di Indonesia yang masih konservatif dan normatif.

Islam yang dikenal adalah Islam yang lebih menekankan pada aspek hukum, masalah-masalah keislaman yang dipersoalkan masih seputar persoalan halal dan haram, serta sunnah dan bid’ah.

Melihat kondisi tersebut, Lafran Pane, berpandangan, Islam tak lebih seperti “gudang larangan”. Padahal, Islam terdiri atas berbagai aspek yang mampu membawa umatnya pada kemajuan, mengikuti perkembangan zaman, serta dapat menyelaraskan diri dengan masyarakat yang senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan.

Namun, karena Islam dipandang lebih pada persoalan hukum (syariat) an sich, maka terkesan Islam yang dipandang menjadi begitu kolot dan ortodoks. Sehingga, Islam yang dianut sebagian besar masyarakat Indonesia tidak mampu menyelaraskan diri pada situasi dan kebutuhan masyarakat, dan perubahan zaman yang senantiasa berkembang.

Persoalan lain yang juga menjadi perhatian Lafran Pane sebagai pemrakarsa pendirian HMI ialah, masalah kebudayaan umat Islam Indonesia.

Umat Islam Indonesia mengalami serangan kultural dari budaya Barat yang dibawa penjajah, yang bercorak materialistik. Dengan kata lain, westernisasi telah menyerang umat Islam Indonesia, khususnya kalangan terdidik muslim.

Selain itu, di kalangan umat Islam Indonesia juga berkembang paradigma kebudayaan kebangsaan yang diwarnai paham sosialisme-Marxisme. Sedangkan di sisi lain, sebagian besar umat Islam masih mempertahankan budaya tradisional, yang diwarnai paham kebatinan animis.

Dalam aneka ragam kebudayaan yang berkembang di masyarakat muslim Indonesia pada saat itu, kebudayaan Islam menempati derajat yang lebih rendah. Padahal, umat Islam mayoritas serta ajaran Islam serba lengkap dan sempurna, sebagaimna yang terdapat dalam Alquran.

Kala itu, kehadiran HMI membawa angin segar bagi pergerakan mahasiswa. Ketika mahasiswa Islam mulai terbaratkan oleh gaya hidup yang tidak sesuai ajaran agama, seperti anggapan tidak modern kalau tidak bisa berdansa. HMI hadir dengan membawa gerakan dan kultur tentang bagaimana mahasiswa seharusnya berbuat untuk bangsanya.

Spirit Kebangsaan dan Keislaman

Spirit kebangsaan dan keislaman menjadi pemantik kelahiran HMI sebagai wadah berhimpunnya calon-calon sarjana muslim, yang diharapkan dapat memberi kontribusi besar bagi negara dan umat.

Sejarah perjalanan bangsa ini sangat terkait erat dengan sejarah perjuangan dan gerakan HMI, terhitung sejak berdirinya di tahun 1947.

Tak ada satu pun momentum besar dalam perjalanan bangsa ini, mulai dari masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, hingga masa reformasi di mana HMI tak ikut terlibat dan memberikan peran vital bagi tiap momen tersebut.

Begitu vitalnya peran dan posisi HMI bagi bangsa ini, terlebih ketika banyak alumni HMI telah menduduki pos-pos penting di negera ini.

Kader-kader HMI, tentu saja, tidak boleh larut dalam “romantisme sejarah”. Juga, kader-kader HMI tidak boleh tenggelam dalam kejayaan, serta mabuk dalam ambisi kekuasaan, sehingga melupakan khittah pendirian HMI dan Nilai Dasar Perjuangan sebagai wadah untuk berbuat bagi bangsa dan agama.

Oleh karenanya, spirit dan kesadaran kebangsaan, serta keislaman harus menjadi ruh yang menggerakkan aktivisme kader-kader HMI dalam beragam aspek kehidupan.

HMI adalah wadah berhimpun untuk berkhidmat kepada umat dan bangsa dan bukan sekadar kendaraan untuk meraih ambisi pribadi maupun kelompok.

Sejatinya, HMI harus mengutamakan kepentingan umat dan bangsa, karena kedua hal itulah HMI didirikan 73 tahun yang lalu.

Milad Mubarak ke-73. Dirgahayu HMI. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *