Tue. Mar 31st, 2020

BLAM

KEREN

Pantauan Peneliti BLAM di Perum Griya Agape, Polisi Berjaga-jaga, Kanwil Kemenag Sulut: Kondisi sudah Membaik

3 min read

Kakanwil Kemenag Sulut, Dr. Abd. Rasyid (tengah) dan Kankemenag Minut, Anneke, di mushalla Perum Griya, Agape, Senin, 3/2/2020. Foto: Dok. BLAM

3,453 total views, 6 views today

MINAHASA UTARA, BLAM – Ketegangan akibat kasus penyerangan dan perusakan Balai “Mushalla” Pertemuan Umat Muslim Majelis Ta’lim Al-Hidayah, di Perum Griya Agape, Minahasa Utara (Minut), yang sempat menjadi viral di media sosial, sudah mulai reda.

Hanya saja, untuk mengantisipasi sesuatu hal yang tidak diinginkan, puluhan petugas kepolisian dari Polisi Daerah Sulawesi Utara dan Polres Minut, terlihat berjaga-jaga di sepanjang jalan masuk ke areal bangunan tersebut. Mereka berjaga-jaga dalam waktu yang belum ditentukan.

Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Muh. Irfan Syuhudi dan Sitti Arafah, yang mendatangi lokasi kejadian, Senin siang, 3 Februari 2020, melaporkan, masih banyak petugas kepolisian yang bersiaga di tempat itu. Ada dua truk bertuliskan polisi terparkir di pinggir jalan. Belum lagi, polisi yang menggunakan kendaraan dinas dan pribadi.

Petugas tidak membolehkan sembarangan orang untuk masuk, apalagi mendekati hingga ke lokasi kejadian. Hanya warga perumahan, yang kebetulan berdomisili di sekitar bangunan, diperbolehkan masuk.

Dua Peneliti BLAM, akhirnya bisa menyaksikan dari dekat, dan ikut masuk ke dalam bangunan, karena berada satu rombongan dengan Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Sulut dan Kepala Kemenag Minut.

Siang itu, di tengah hujan deras yang mengguyur Minut, Kepala Kemenag Minut, Anneke M. Purukan, M.Pd, mendampingi Kepala Kanwil Kemenag Sulut, Dr. H. Abdul Rasid, M.Ag, yang ingin melihat, sekaligus memantau dari dekat bangunan tersebut.

Aksi penyerangan dan perusakan balai pertemuan itu terjadi Rabu malam, 29 Januari 2020, yang dilakukan oleh beberapa oknum ormas Waraney.

Penyebabnya, kehadiran kelompok agama tertentu yang dianggap menyalahi perizinan yang diberikan oleh warga untuk mengadakan kegiatan di bangunan tersebut.

Kelompok ini diberi izin mengadakan kegiatan dengan membawa 10 anggota jamaah. Namun, faktanya, yang berada di dalam bangunan itu berjumlah lebih dari 10 orang.

Selain itu, sebagian warga di perumahan itu sejak dulu memang mempersoalkan status bangunan itu. Dari sejumlah informasi diperoleh, status bangunan itu adalah balai pertemuan, bukan mushalla.

Aksi ini kemudian menjadi viral di media sosial, lantaran ada orang yang merekam saat terjadinya penyerangan dan perusakan, dan lalu membagi-bagikan ke media sosial.

Sontak, aksi kurang terpuji yang bisa mengancam kerukunan antarumat beragama di Sulut ini, mendapat reaksi keras umat Islam. Bukan hanya di Sulut, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia.

Beruntung, pemerintah provinsi dan daerah beserta aparat keamanan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, langsung bereaksi cepat. Mereka berusaha sekuat tenaga agar ketegangan ini tidak sampai menjurus ke arah konflik antarpemeluk agama. Salah satunya, melarang ormas-ormas Islam dari luar Sulut, yang selama ini dikenal radikal, untuk memasuki wilayah Sulut.

Kakanwil Kemenag Sulut

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sulut, Dr. H. Abdul Rasid, M.Ag, yang ditemui Peneliti BLAM, di ruangan Kepala Kemenag Minut, sebelum bersama-sama berangkat ke lokasi kejadian, mengemukakan, kondisi di Minut sudah aman terkendali.

“Alhamdulillah, (kondisi) semuanya sudah membaik. Ini berkat kerjasama semua pihak, yang sama-sama tidak menghendaki terjadinya ketegangan antarumat beragama di Sulut,” katanya.

Pada berbagai kesempatan bertemu masyarakat, Rasyid juga tak henti-hentinya mengimbau kepada semua umat beragama untuk bersama-sama menahan diri, dan menghindari terjadinya gesekan-gesekan.

“Kita harus selalu menjaga nama baik Sulut, yang selama ini dikenal dengan tingginya ïndeks kerukunan umat beragama dan toleransi antarpemeluk agama,” katanya, yang diangguki Kepala Kemenag Minut.

Dari hasil amatan peneliti, segala kerusakan akibat insiden sudah mengalami perbaikan. TNI, Polri, dan beberapa warga Islam dan Kristen yang tinggal di perumahan, merenovasi bagian-bagian fisik bangunan yang dianggap rusak.

Meski letaknya tak jauh dari pintu gerbang masuk perumahan, posisi balai pertemuan ini agak tersembunyi ke dalam. Sekilas, tidak ada yang membedakan dengan rumah warga sekitar. Apalagi, posisinya memang berdempetan dengan rumah warga.

Fisik bangunan juga terlihat sederhana. Pada sebagian dinding, ada yang sudah menggunakan batu bata, tetapi sebagiannya lagi tripleks.

Meski begitu, lantainya bertegel, dan atapnya memakai seng. Pada beberapa bagian, terlihat papan yang difungsikan sebagai tiang untuk menyanggah atap. Tidak ada lemari dan kursi yang terlihat pada bagian dalam bangunan.

Hanya ada satu “dudukan”Al-Quran, yang biasa dipakai mengaji, dan diletakkan mengarah ke jamaah. Artinya, kalau pun bisa difungsikan untuk shalat, bangunan ini bisa menampung sekitar 50-an lebih jamaah.

Pasca kejadian ini, Kemenag Minut mengeluarkan Surat Rekomendasi pada 31 Januari 2020, yang isinya menyetujui Majelis Taklim Perum Griya Agape, yang diketuai Hadi Sasmito, untuk menjadikan bangunan itu menjadi masjid. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *