Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Sunda Empire; “Halunya” Orang  +62 Atau Perlawanan Lokalitas?

5 min read

Sumber foto: detiknews.com

5,958 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Beberapa hari terakhir ini, kita terhenyak dengan berita kemunculan Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire, dan King of the King. Jagat +62 menjadi heboh. Media sosial menjadi perbincangan, dan nitizen pun kasak-kusuk.

Sementara itu, media cetak, online, dan elektronik, berlomba memberitakan, bahkan salah satu program talk show, yakni ILC, menayangkan episode khusus mengenai Sunda Empire.

Apa lacur, cerita Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire ini adalah kekonyolan, tetapi kita pun ikut menjadi lancut dengan sibuk, dan serius memperbincangkannya.

Para sejarawan pun tak kurang ripuhnya. Mereka sibuk membantah sejarah yang dibangun oleh para pentolan Sunda Empire. Bahkan, seorang Roy Suryo, pun harus melaporkan Sunda Empire ke polisi sebagai penyebar berita palsu.

Tentu, apa yang dilakukan para sejarawan atau pun Roy, tak lain karena merasa sejarah telah dilencengkan. Publik secara telanjang dibohongi. Adalah kewajiban para sejarawan dan Roy Suryo untuk meluruskannya. Kurang lebih, mungkin, begitulah yang ada di pikiran mereka.

Akhirnya, memang cerita tentang Keraton Agung Sejagat atau pun Sunda Empire, harus ambruk. Mereka tak bisa melawan narasi umum dan sejarah yang terlanjur dianggap benar selama ini.

Para pentolan-pentolan Keraton Sejagat maupun Sunda Empire, harus berakhir menjadi pesakitan. Mereka ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi.

Saya pada mulanya mendengar penuturan salah satu pentolan Sunda Empire, Rangga Sasana, tentang kerajaannya itu melalui kanal ILC di youtube.

Pada awal menyimak penjelasan Rangga, saya mengkal tidak karuan. “Ini orang ngomong apa? Penjelasannya tak jelas juntrungannya.

Sejarah kok dibolak-balik sedemikian rupa.” Coba bayangkan tiba-tiba dia menyebutkan PBB itu pertama kali dibentuk di Indonesia, sementara dari sejarah umum yang kita baca selama ini, PBB dibentuk di San Francisco, Amerika.

Saya pun mulanya, melihat Rangga Sasana sebagai contoh orang-orang +62 yang hanya berhalusinasi. ‘Manusia Halu’, begitu istilah anak-anak milenial. Tetapi, lamat-lamat, saya melihat hal lain dalam tuturan si Rangga ini. Ia, meski dengan seenaknya, tengah menarasikan sejarahnya sendiri.

Sejarah Tanding

Mungkin menyebut Rangga sedang membangun sejarah tanding, terlalu berlebihan. Namun, yang jelas, ia tengah menggeser pusat. Kalau sebelumnya pusat selalu dianggap ada di negeri-negeri Barat atau di negara Amerika, kini pusat ada di Sunda. PBB berawal dari Sunda, dan pemerintahan awalnya dari Sunda.

Apa yang dilakukan oleh Rangga Sasana dengan menggeser antara yang pusat dengan yang lokal, sejatinya lazim dilakukan oleh masyarakat-masyarakat lokal.

Jika Anda sering berjumpa dan mendengarkan tuturan masyarakat lokal, maka narasi yang menjadikan lokalitasnya masing-masing sebagai pusat, akan sering ditemukan. Dalam beberapa kali perjumpaan dengan komunitas lokal, saya menemukan cerita-cerita semacam ini.

Ketika saya ke Tanah Toa Kajang, misalnya, saya diberitahukan oleh Amma Toa (pimpinan adat Tanah Toa), bahwa Tanah Toa Kajang adalah possi tanah (pusat bumi).

Kunni nampa tasue sullu”. Di sinilah semuanya bermula, lalu menyebar keluar. Agama dari Tanah Toa,  kemudian menyebar keluar. Bahkan dalam cerita Amma Toa, orang-orang barat yang berambut pirang awalnya semua berasal dari Tanah Toa, kemudian keluar menyebar ke negeri-negeri lain.

“Kelak di suatu saat mereka akan kembali mencari asal usulnya,” Jelas Amma Toa. “Dan kini mereka semua telah kembali ke Tanah Toa, mencari asal-usulnya. Lihatlah sekarang, Islam datang kembali ke Tanah Toa dan orang-orang berambut pirang kembali lagi ke Tanah Toa.” Lanjut Amma Toa.

Di komunitas lokal, lazim pula muncul cerita tentang Amerika yang berasal dari kata ammirika (yang berhembus). Kata itu, demikian cerita yang berkembang, adalah bahasa Makassar karena memang yang menemukannya adalah orang Makassar. Namanya Dg Napo yang berasal dari Bonerate.

Lama kelamaan, disebutlah nama Napoleon Bonaparte. Cerita ini ingin menunjukkan para penemu dulu bukan orang Barat, bukan Napoleon dari Perancis, tetapi orang-orang Makassar. Cerita itu juga berupaya menggeser posisi pusat dan lokal.

Meminjam Foucault, apa yang dilakukan komunitas lokal, dan mungkin termasuk yang dilakukan Si Rangga dan ‘Sunda Empire-nya’ adalah semacam insurrection of the subjugated knowledge (kebangkitan pengetahuan-pengetahuan yang tertekan).

Pengetahun lokal yang selama ini tidak direken, dipandang sebelah mata atau malah hanya menjadi objek tontonan,  berbalik menjadi yang memandang dan menjelma jadi subjek.

Hasilnya …? Pertama-tama membuat kebingungan yang mendengarnya, apalagi jika yang mendengar itu terbiasa dengan nalar mainstream.

Lihatlah! Betapa bingungnya para sejarawan mendengar penuturan Rangga. Seringkali, beberapa narasumber lain di acara talk show ILC harus geleng-geleng kepala mendengar penjelasan Rangga yang dirasanya tidak masuk akal.

Kebingungan, menjadikan posisi saat itu berganti. Yang sebelumnya menjadi subjek, kini menjadi objek. Bahkan, dalam pengalaman saya bertemu komunitas lokal, jika saya bingung mendengar narasi mereka, mereka malah tertawa. Menertawakan saya. Dan kata Mark Twain; “Tertawa itulah senjata yang paling ampuh. Menghadapi orang tertawa tidak ada yang mampu bertahan.”

Cara-cara yang dilakukan komunitas lokal dengan mengalihtempatkan antara yang pusat dan lokal, serta membangun narasi tandingan, adalah bagian dari cara-cara mereka menyiasati dominasi dari luar.

Dengan cara itu, keyakinan, tradisi, kebiasaan hidup sehari-hari bisa dijaga kelangsungannya. Dengan narasi tandingan itu, masyarakat di komunitas lokal ditegaskan kesetiaannya pada lembaga-lembaga lokal dan dikukuhkan keyakinannya pada nilai-nilai yang selama ini mereka perpegangi.

Boleh dibilang, cara ini adalah salah satu perlawanan dari komunitas lokal terhadap dominasi kelompok, ajaran, atau negara tertentu. Mereka tidak melawan dengan melakukan pengerahan massa, turun aksi, atau melakukan benturan fisik.

Perlawanan mereka melalui kebudayaan yang merupakan bagian dari hidupnya sehari-hari. Itulah sebabnya James C. Scott menyebutnya Every day form of resistance.

Perlawanan Kebudayaan

Namun benarkah, Sunda Empire ini adalah perlawanan kebudayaan? Betulkah persis sama dengan yang dilakukan oleh banyak komunitas lokal di berbagai penjuru nusantara?

Saya tidak bisa langsung memastikannya, karena saya tidak pernah menelitinya secara langsung. Apalagi, konon, di belakang Sunda Empire ini, ada tokoh-tokoh yang merekayasa dengan kepentingan tertentu. Kalau sudah begitu, tentu penjelasannya menjadi berbeda.

Sekali lagi, saya hanya lamat-lamat  merasakan hal yang sama ketika mendengar tuturan-tuturan dari komunitas lokal dan mendengarkan penjelasan dari salah satu pentolan Sunda Empire ini.

Beberapa tindakan pentolan Sunda Empire yang lain, seperti mengedit foto, mengubah redaksi wikipedia  dan kebohongan yang disengaja, tentu saja tidak bisa dibenarkan dan jelas itu bukanlah bentuk perlawanan kebudayaan.

Apalagi, kalau seperti Keraton Agung Sejagat yang konon memungut uang dari anggotanya, tentu tidak bisa lagi dibiarkan. Singkatnya jika melakukan tindakan kriminal, ya…harus ditangkap.

Walhasil, kalaupun akhirnya kita mengambil kesimpulan bahwa Sunda  Empire yang ingin membangun imperium dunia hanyalah contoh-contoh orang yang berhalusinasi, hal yang sama juga kita harus tujukan pada mereka yang sedang bermimpi membangun imperium menguasai seluruh dunia berdasarkan agama tertentu. Keduanya, boleh jadi, tidak jauh berbeda.

Wassalam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *