Tue. Mar 31st, 2020

BLAM

KEREN

BLAM Undang Kyai Jadul Maula Diskusikan Islam Berkebudayaan  

4 min read

Kyai Jadul Maula (tengah) membedah bukunya, Islam Berkebudayaan, bersama BLAM. Foto: Subair

3,916 total views, 6 views today

MAKASSAR, BLAM – Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) menggelar acara bedah buku, sekaligus diskusi, di Hotel Imperial Aryaduta Makassar, Rabu pagi, 29 Januari 2020.

Judul buku yang dibedah, yaitu “Islam Berkebudayaan, Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan, Kebangsaan,” yang ditulis Kyai M. Jadul Maula, seorang pengasuh Pondok Pesantren Kali Opak, Jawa Tengah.

Pembahas bedah buku adalah Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, sedangkan Abu Muslim, Koordinator Bidang Penelitian Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi BLAM, bertindak sebagai moderator.

Peserta bedah buku dan diskusi adalah Peneliti BLAM dan peserta dari luar, yang terdiri atas akademisi, peneliti, dan aktivis.

Beberapa tulisan yang disajikan di dalam buku setebal 328 halaman ini, merupakan hasil riset mendalam.

Salah satunya, penelitian yang ia lakukan terkait naskah-naskah lokal di Buton dan Aceh. Malah, dari hasil penelusuran sejarah lisan dan naskah di Buton, ia kemudian menemukan hukum tatanegara Kesultanan Buton pada masa itu.

Menurut Kyai Jadul, Islam Berkebudayaan adalah Islam yang tidak terlepas dari akar tradisi dan kearifan lokal di nusantara. Islam Berkebudayaan menjadi akar dari bangunan khazanah keislaman di Indonesia sejak dulu sampai saat ini.

“Islam Berkebudayaan berhasil menyebarkan nilai-nilai Islam ke pelosok-pelosok negeri, dan menciptakan tatanan sosial yang membentuk karakter kebangsaan kita. Islam yang dibawa walisongo ke nusantara juga melalui jalan-jalan kebudayaan, seperti menggelar pagelaran wayang, dan sebagainya,” kata Kyai Jadul.

Kyai Jadul mengeritik keras para orientalis Barat yang melakukan framing terhadap pemikiran keagamaan di Indonesia ke dalam dua bagian, yaitu fundamentalisme yang cenderung radikal dan liberal.

Kyai Jadul kemudian mengisahkan, pada 1990-an hingga awal 2000-an, ia dan beberapa rekannya sesama aktivis muda NU, melakukan advokasi terhadap masyarakat yang didiskriminasi dan dimarginalkan. Mereka mendatangi sejumlah daerah di Indonesia dan mengajak bekerjasama aktivis muda PMII dan NU.

Pada masa itu, ada kelompok yang mengatasnamakan Islam, berusaha ingin menghabisi tradisi dan kearifan lokal yang masih dilaksanakan oleh masyarakat muslim, dengan alasan tidak sesuai ajaran Islam.

“Waktu itu, ada kelompok yang melakukan pemurnian Islam, yang seolah-olah Islam yang tidak berbahasa Arab dan tradisi yang tidak menggunakan bahasa Arab, langsung diberi predikat bid’ah dan syirik. Ini bermula sejak paham wahabi mulai hadir di Indonesia,” katanya.

Tradisi yang ada pada masyarakat muslim, diakui Kyai Jadul, sejak dulu basisnya sudah Islam, sampai sekarang tetap Islam, dan di masa mendatang pun tetap Islam. Anehnya, atas nama perspektif fundamentalisme, tradisi ini kemudian dianggap bukan Islam oleh kelompok tersebut.

Menurut Kyai Jadul, para orientalis Barat yang mula-mula melakukan framing terhadap pemikir-pemikir Islam di Indonesia.

“Saya melihat, para orientalisme Barat itu sebetulnya sejajar dengan wahabisme, karena langsung atau tidak langsung, eksplisit maupun implisit, mereka yang membuat framing, bahwa Islam itu wahabi,” katanya.

“Di Indonesia, para orientalisme itu kebingungan melihat karakteristik Islam, karena tidak ada penyebutan istilah yang khas dari Islam di Indonesia yang menggunakan bahasa lokal, sehingga mereka sulit memahaminya,” lanjut Kyai Jadul.

Akhirnya, para orientaslis Barat ini melakukan framing dan modifikasi, dengan mengambil dari perspektif mereka, bahwa pemurnian Islam ini sejalan dengan nilai-nilai liberal. Jadi, dua arus ini (liberal dan pemurnian) sebenarnya diformalisasi oleh kaum orientalis.

“Yang satu dalam rangka budaya nalar Arab, dan satunya lagi, dalam rangka budaya nalar Barat. Banyak masyarakat menolak pemurnian Islam, karena menganggap sejak dulu mereka telah Islam, mengapa tiba-tiba ada yang menganggap mereka sesat,” jelas pria kelahiran 1969 ini.

Buku Islam Berkebudayaan merupakan kumpulan tulisan, yang Kyai Jadul kumpulkan sejak 1996 hingga 2019, untuk merespon hadirnya pemahaman Islam yang hanya diukur dari sisi Syariah.

Tulisan dalam buku ini sebelumnya pernah dimuat di berbagai publikasi ilmiah, antara lain, Jurnal Tashwirul Afkar, Orasi Kebudayaan di PBNU, kesaksian ahli MK, serta tulisan-tulisan yang ia presentasikan di berbagai forum bergengsi tanah air.

Dengan melahap habis setiap tulisan di dalam buku terbitan Pustaka Kaliopak, Yogyakarta, 2019 ini, Jadul setidaknya ingin mengajak pembaca untuk ikut merasakan kegelisahan dan pergulatan batinnya menyaksikan berbagai dinamika sosial, politik, budaya, agama, dan kebangsaan, di Indonesia.

Kepala BLAM

Saprillah menyatakan, Jadul Maula merupakan gurunya, dan anak-anak muda aktivis PMII dan NU pada pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an.

Jadul Maula bersama Bisri Effendy, Ahmad Baso, dan Hairus Salim (LKiS dan Desantara), sering bertandang ke Makassar untuk berdiskusi, sekaligus memberi pelatihan penulisan dan penelitian kepada mereka.

“Desantara dan LKiS, yang memberi penanda yang jelas apa yg disebut islam liberal dan islam yang bukan liberal. Saat itu, kami anak-anak muda NU disponsori oleh Kyai Jadul dan kawan-kawan sering berdiskjsi tentang Postra atau Post Tradisional Islam, sebuah gerakan yang mengkaji khazanah kebudayaan lokal,” kata Saprillah.

Setelah mengkaji Post Tradisional, muncul kesadaran di kalangan anak-anak muda NU Sulawesi Selatan, bahwa pengetahuan lokal itu tidak kalah, dan bahkan bisa menjadi tawaran solusi untuk mengatasi problem dunia.

“Kita selalu menganggap artefak itu kuno dan tidak punya nilai. Ia akan bernilai kalau ada orang Barat datang mencarinya, dan kemudian menulis ulang. Termasuk tentang kisah Sawerigading, Lagaligo, yang sering kita tempatkan sebagai dongeng, yang sama sekali tidak punya makna.

“Nanti setelah orang Barat menulis ulang kisah-kisah itu, maka kita menjadi bangga, termasuk kita bangga mengutip nama orang Barat di dalam tulisan kita,” kata Saprillah.

Karena itu, kata Saprillah, gerakan Post Tradisional ini merupakan antitesa dari gerakan Islam liberal, yang menjadi perpanjangan tangan kelompok yang mengusung ide barat melalui jalur Islam.

“Bersama teman-teman di LKiS dan Desantara waktu itu, kami mencoba melawan dengan membangun wacana Post Tradisional. Kami menolak cara berpikir Barat, yang tidak mengakar pada tradisi-tradisi lokal,” papar Saprillah.

Saprillah mengaku senang Kyai Jadul Maula menerbitkan semua artikelnya menjadi sebuah buku yang utuh. Buku “Islam Nusantara” yang ditulis Ahmad Baso dan Islam Berkebudayaan, bisa menjadi salah satu pemantik menarik untuk membangun pengetahuan lokalitas tentang Indonesia.

“Kami sengaja mengundang Kyai Jadul ke BLAM, karena cara beliau menulis tentang naskah klasik bisa menjadi inspirasi Peneliti Lektur BLAM,” katanya.

“Saya juga berharap, kehadiran Kyai Jadul ikut memberikan inspirasi buat Peneliti Lektur. Tulisan Kyai Jadul sangat kontekstual, apalagi setelah Muhammadiyah meninggalkan gerakan purifikasi menuju gerakan dakwah kultural,” imbuh Saprillah. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *