Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Pelanggaran Kebebasan Beragama: Dampak dan Solusi

3 min read

Sumber gambar: Perpustakaan ELSAM.

4,894 total views, 10 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama)

Dampak Pelanggaran Kebebasan Beragama

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang kebebasan beragama. Jika pada tulisan sebelumnya saya mengulas secara singkat bentuk-bentuk dan akar persoalan dalam pelanggaran kebebasan beragama.

Maka, dalam tulisan singkat ini, saya mengulas secara singkat dampak langsung dan tawaran solusi atas persoalan tersebut.

Pelanggaran kebebasan beragama merupakan penyakit sosial yang menuai dampak miris nan ironis, serta menoreh luka dan tragika yang memilukan dan memalukan.

Secara filosofis, pelanggaran atas kebebasan beragama telah merampas hak-hak dasar manusia dalam berpikir, berkeyakinan, dan berkesadaran, termasuk kebebasan dalam mengekspresikan pemahaman, keyakinan, dan kesadaran agama dan keberagamaannya dalam praktik-praktik simbolik ritual.

Walhasil, pelanggaran kebebasan beragama dengan dalih apapun, berdampak pada terjadinya dehumanisasi. Sakralitas agama menjadi ternoda akibat praktik-praktik pelanggaran kebebasan beragama yang diwarnai dengan cara-cara yang tidak etis dan destruktif, yang secara asasi bertentangan dengan nilai kesucian agama.

Dengan demikian, secara filosofis, pelanggaran kebebasan beragama telah mendehumanisasikan fitrah kemanusiaan, dan juga mendesakralisasikan kesucian agama.

Secara sosiologis, pelanggaran terhadap kebebasan beragama dalam bentuk intoleransi hingga intimidasi akan mengakibatkan terjadinya disharmoni kehidupan sosial, terganggunya kohesi-kohesi sosial, serta disparitas dalam interaksi sosial.

Dampak dari hal tersebut, perkembangan kemajuan masyarakat menjadi terhambat, dan kondisi sosial kemasyarakatan dipenuhi anomali dan patologi. Praktik-praktik anarkisme pun menjadi konsekuensi logis yang mengakibatkan konflik horizontal.

Secara politis, pelanggaran terhadap kebebasan beragama mengakibatkan tercederainya proses demokratisasi, karena terjadinya dominasi mayoritas kelompok agama tertentu yang terjadi di masyarakat “agamis” maupun kelompok sekuler anti agama di masyarakat sekuler.

Kelompok agama minoritas tercerabut hak-hak dan perlindungan politiknya. Dan, yang lebih parah lagi, pelanggaran kebebasan beragama dapat melahirkan sosok tirani, yang menjadikan agama dan keberagamaan sebagai alat dan dalih untuk memperkukuh kekuasaannya.

Penghargaan terhadap kebebasan beragama, berarti juga penghargaan terhadap khazanah kultur. Oleh karena itu, secara kultural, pelanggaran kebebasan beragama dapat mengakibatkan rusaknya tatanan budaya suatu komunitas masyarakat yang telah sekian lama berdialektika, dan berpadu dengan agama, yang melahirkan pola keberagamaan yang khas dari suatu masyarakat.

Pelanggaran terhadap kebebasan beragama telah mencabut suatu masyarakat dari akar-akar dan kearifan kulturalnya.

Tawaran Solusi

Meretas pelanggaran terhadap kebebasan beragama dibutuhkan solusi holistik dengan pendekatan komprehensif, supaya kita dapat mencabut akar-akar pelanggaran tersebut. Secara filosofis, rekonstruksi paradigma keberagamaan dan teologis menjadi sebuah solusi awal.

Pola keberagamaan ekstrinsik mesti kita revolusi menjadi pola keberagamaan yang intrinsik dengan memosisikan agama sebagai nilai-nilai dasar kemanusiaan yang arif dan penuh kasih.

Paradigma teologis, yang eksklusif-militan dan paradigma puritan-ekstrem, mesti diubah menjadi paradigma teologis yang inklusif-pluralis dan komnikatif-dialogis.

Paradigma inklusif-pluralis adalah paradigma teologis yang memahami dan menerima segala bentuk ekspresi keberagamaan sebagai varian dari bias pelangi kebenaran. Tentu saja, dengan tidak men-delate keyakinan keberagamaan kita.

Paradigma komunikatif-dialogis adalah paradigma teologis yang senantiasa membuka diri terhadap ruang-ruang dialogis untuk membuka diri terhadap pemahaman dan keberagamaan yang pluralistik.

Kedua paradigma ini anti terhadap hal-hal yang bersifat koersif. Serta ruang dialogis yang tercipta tidak diorientasikan untuk menyatukan warna-warni yang ada. Tetapi untuk meng-counter sikap-sikap egoistik, dan menciptakan sikap toleransi dan perdamaian dalam keragaman agama dan keberagamaan.

Upaya memahami kebenaran sejati dari agama secara holistik dan substantif merupakan sebuah solusi pula. Karena sesungguhnyam, tak ada agama yang mengajarkan permusuhan dan intoleransi.

Secara praksis, pada ranah sosiologis melahirkan penyikapan terhadap kebebasan beragama yang aktif, arif, dan konstruktif. Aktif dalam artian, penghargaan terhadap kebebasan beragama yang terbangun tidak hanya sebatas pada koeksistensi pasif, melainkan sampai pada terbukanya kerjasama dan dialog yang aktif.

Arif dalam artian, pengakuan akan kebebasan beragama yang terbangun tidak hanya berhenti pada sikap toleransi semata, tetapi terbangun penyikapan yang arif dan menghasilkan persaudaraan universal yang humanis tanpa dibatasi oleh sekat-sekat keyakinan.

Selain itu, pengakuan terhadap kebebasan beragama yang terbangun juga akan mengantarkan manusia untuk arif dalam menghargai persamaan nilai-nilai universal dari semua agama.

Konstruktif dalam artian pengakuan akan hak-hak kebebasan dalam beragama yang terbangun,  akan membentuk sistem-sistem sosial yang akan mengarahkan manusia pada sebuah kemajuan peradaban sosial humanis dan damai.

Bahwa, realitas agama yang majemuk adalah fakta yang tak dapat disangkal, serta tak mungkin untuk dipersatukan.

Mempersoalkannya berarti memicu masalah dan berusaha mempersatukannya adalah melawan sunnatullah. Sedangkan kita semua butuh akan kebahagiaan dan ketenangan hidup, serta tata dunia damai yang dilandasi nilai-nilai kesetaraan, pembebasan, dan keadilan.

Untuk itu, menjadi sebuah keniscayaan adanya kebesaran hati menerima ragam perbedaan dan secara aktif berusaha untuk saling memahami dengan dialog yang mendewasakan, serta kerjasama aktif dalam rangka membangun kerjasama demi kebaikan bersama. Kebebasan beragama sebagai pemahaman dan sikap aktif kemudian menjadi niscaya adanya.

Jika manusia saling menghargai, dunia pun akan damai. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *