Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Prof Arif Dimakamkan di Pa’bangngiang Gowa, Peneliti Mengisahkan Kenangan Bersama Almarhum

3 min read

Istri dan anak-anak Prof. Dr. H. Arifuddin Ismail di pemakaman Pa'bangngiang, Gowa. Foto: Dok. BLAM

4,537 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Kepergian Prof. Dr. H. Arifuddin Ismail, M.Pd, untuk selama-lamanya,  masih membekas di hati orang-orang Balai Litbang Agama Makassar (BLAM). Mereka semua seolah tak percaya, Peneliti Ahli Utama BLAM itu telah tiada.

“Banyak kenangan saya bersama Prof Arif. Karena itu, saya sudah menganggap beliau orang tua sendiri. Begitupula teman-teman di BLAM, sudah menganggap beliau orang tua dan panutan kami. Beliau selalu membimbing dan memberi nasihat kepada kami dalam hal apapun,” kata Kepala BLAM, H. Saprillah, saat mengucapkan sepatah kata di rumah duka, Perumahan Hartaco Indah Blok I AI Nomor 4, Makassar, sebelum melepas sekaligus mengantar kepergian Prof Arifuddin Ismail ke pemakaman, Jumat siang, 24 Januari 2020.

Saprillah ikut menjemput jenazah di Bandara Hasanuddin Makassar pada Jumat pagi, dan mengiringi mobil ambulance yang membawa jenazah hingga ke rumah duka.

Di depan ratusan pelayat, Saprillah mewakili keluarga almarhum, memohon maaf sebesar-besarnya kepada semua orang apabila Prof Arifuddin selama hidupnya mempunyai kesalahan disengaja maupun tidak disengaja.

Prof Arif (sapaan akrab Arifuddin Ismail) meninggal di Balikpapan, Kamis 23 Januari 2020, sekitar pukul 22.30 Wita, di Rumah Sakit Restu Ibu (bukan RS Bunda), Balikpapan, akibat terkena serangan jantung. Jumat pagi, almarhum diterbangkan ke Makassar.

Keberadaan Prof Arif di Balikpapan dalam rangka penjajakan lapangan selama sepekan, 21 hingga 27 Januari 2020, untuk kegiatan penelitian.

Pada riset kali ini, almarhum menjadi koordinator penelitian, dan memimpin rekan-rekannya,  sesama Peneliti Ahli Utama BLAM, meneliti tentang “Pemikiran dan Praktik Moderasi Beragama di Berbagai Lembaga Pendidikan Keagamaan di KTI.”

Diiringi tangisan keluarga, sahabat, tetangga, dan rekan-rekan BLAM, mereka mengantar dan melepaskan kepergian Prof Arif hingga di peristirahatan terakhir, di Pemakaman Umum Pa’bangngiang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, usai shalat Jumat, 24 Januari 2020.

Kenangan Bersama Almarhum 

Kepergian Prof Arif menyisakan duka mendalam bagi banyak orang. Semua yang mengenal almarhum punya kenangan indah, dan masih terpatri di dalam sanubarinya hingga kini.

Banyak yang merasa kehilangan dengan tokoh Nahdlatul Ulama yang murah senyum, pandai bergaul, dan senang menolong, ini.

Tak heran, hampir semua media sosial, terutama yang mengenal dekat almarhum, menuliskan perasaan belasungkawa mereka yang terdalam. Mereka pun ikut terhanyut oleh kesedihan ditinggalkan oleh almarhum, yang kerap mereka sapa senior, kakanda, abang, ayahanda, dan buya.

Peneliti Ahli Utama BLAM, Prof. Dr. H. Idham, M.Pd, menyatakan, selama berinteraksi dengan almarhum, banyak pelajaran yang bisa ia petik dari pria kelahiran Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, 31 Desember 1957, ini.

“Selama saya mengenal dan berinteraksi dengan beliau, saya merasakan beliau orangnya ulet, tegas, dan sabar,” kata Prof Idham.

Selain itu, kata Prof Idham, mantan Kepala Balai Litbang Agama Semarang (BLAS), itu juga tak henti-hentinya memberikan nasihat untuk selalu memaknai hidup dengan beribadah.

“Maknai hidup kita dengan beribadah, serta latih diri kita dengan puasa dan tahajjud, karena kita tidak pernah mengetahui kapan kita dipanggil oleh Allah,” imbuh Idham.

Rasa duka mendalam juga diungkapkan Peneliti BLAM, Syamsurijal. Ia menuliskan kenangan bersama almarhum di halaman facebook-nya, Jumat sore, 24 Januari 2020.

“Beliau tegas, tetapi sangat peduli. Kepada anak-anak muda, beliau selalu meletakkan harapan dan kepercayaan. Sebagai junior yang jauh di bawahnya, baik di kantor (BLAM) maupun di NU dan PMII, saya dapat merasakan perhatian dan ketegasannya,” tulis Syamsurijal.

“… Beliau akan mengkritisi tanpa tedeng aling-aling jika merasa ada yang tidak beres dengan apa yang kita lakukan. Sebaliknya, beliau juga tidak pernah mempersoalkan jika dikiritik oleh juniornya. Baginya, perdebatan dalam lingkungan ilmiah itu penting dan harus,” lanjut Syamsurijal.

Peneliti BLAM, Sabara, juga menuangkan kisahnya bersama almarhum di halaman facebook.

“… Peneliti senior yang selalu menyapa dengan ramah, seolah tak ada rentang jarak usia dan kepangkatan di antara kami…,” tulis Sabara.

“…Ayahanda, begitu aku biasa menyapanya sebagai bentuk takzim atas kemurahan hati dan keluasan ilmunya… Beliau membimbing dengan tanpa menggurui, tetapi melalui diskusi, sharing pengalaman, dan teori sembari dibumbui canda. Beliau adalah sosok profesor yang sangat humble…,” sambung Sabara.

Salah seorang Peneliti BLAS, Joko Tri Haryanto, juga tampak terkejut dengan kepergian Prof Arif, yang dirasakan begitu mendadak.

Dalam sebuah pesan di WhatsApp yang dikirimkan kepada penulis, Joko menyatakan, belum lama ini dirinya sempat berdiskusi mengenai banyak hal, termasuk keinginan almarhum untuk mengirimkan salah satu artikelnya ke jurnal internasional.

“Kabar duka itu begitu mengejutkan. Semoga Prof Arif Husnul Khatimah, diterima amal ibadahnya, diampuni khilafnya, dan ditempatkan di surga-Nya. Juga, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” kata Joko.

Joko juga menyatakan, selama memimpin BLAS, almarhum sangat mendukung para peneliti muda untuk maju dan tampil.

“Beliau selalu ingin mendobrak kebekuan kreatifitas penelitian dan kegiatan pengembangan di BLAS,” tutur Joko.

Prof Arif meninggalkan istri, Sri Samiaji Mujiarti, dan empat anak; Mardiah Endah Sari, Fauzan Ariwibowo, Shafwan Dimas Nugroho, dan Wulan Adiningrum. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *