Wed. Feb 19th, 2020

BLAM

KEREN

Zikir dan Perubahan Waktu

6 min read

Sumber gambar: mishkahu.com

4,255 total views, 6 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Waktu berubah terus. Perubahan terjadi setiap detik. Setelah enam puluh detik terjadi perubahan dengan hitungan menit. Setelah enam puluh menit terjadi perubahan dengan hitungan jam.

Setelah dua puluh empat jam, terjadi perubahan hari dan tanggal. Demikianlah perubahan waktu terjadi dalam hitungan yang lebih besar, seperti bulan dan tahun.

Hari dibagi dua, yakni siang dan malam. Siang ditandai dengan terbitnya matahari, sedangkan malam ditandai dengan terbenamnya matahari. Malam dan siang silih berganti. Masing-masing menawarkan keadaan yang berbeda.

Pada waktu siang, alam sekitar menjadi terang, sedangkan pada waktu malam, alam sekitar menjadi gelap. Siang menjadikan udara agak terik, sedangkan malam menjadikannya agak sejuk.

Dengan demikian, pada keduanya terdapat perbedaan yang nyata, dan membawa dampak yang berbeda pada ligkungan alam dan kehidupan manusia.

Terdapat satu hari yang berada di akhir dua satuan waktu. Yakni, akhir bulan dan akhir tahun. Hari itu membawa, setidaknya, tiga perubahan. Yakni, pergantian hari, pergantian bulan, dan pergantian tahun.

Kalender, yang biasanya dibuat untuk satu tahun, turut mengalami perubahan. Sehubungan dengan hal itu, terdapat banyak alasan jika pergantian waktu itu disambut banyak orang. Cara menyambutnya beragam.

Harapan masing-masing orang boleh jadi berbeda. Dalam kaitan ini, peristiwa sama tetapi cara manusia menyikapi beragam.

Bagi pemeluk Islam, perubahan waktu itu merupakan gejala alam yang perlu diperhatikan. Alam ciptaan Yang Maha Pencipta mengandung isyarat terhadap kebesaran-Nya (ayat). Manusia sebagai bagian dari alam juga menjadi isyarat akan kebesaran-Nya.

Dengan demikian, manusia melihat ke dalam dirinya dan memandang alam sekitarnya untuk melihat tanda-tanda kebesaran Al-Khaliq (Yang Maha Menciptakan). Dia juga adalah al-Baari (Yang Maha Mengadakan)al-Mushawwir (Yang Maha Membentuk Rupa), dan sejumlah nama-nama yang lain.

Ayat Al-Quran

Al-Qur’an mengajak manusia untuk merenungkan pergantian siang dan malam. Di antaranya, firman Allah Swt. yang artinya, Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka  (Ali ‘Imran/3: 190-191)

Ayat di atas mengajak manusia untuk memperhatikan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang yang dirasakan oleh penghuni bumi.

Objek dan peristiwa tersebut adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Tanda-tanda tersebut dipahami oleh golongan manusia yang disebut ulul albab (orang-orang yang berakal).

Golongan manusia yang disebut ulul albab mempunyai sejumlah sifat. Di antaranya, (1) senantiasa berzikir kepada Allah dalam segala bentuk aktivitas, yang dilakukan sambil berdiri, duduk, dan berbaring; dan (2) senantiasa memikirkan penciptaan langit dan bumi (Ali ‘Imran/3: 191). Zikir, dalam konteks ayat itu, berarti mengingat Allah dan menyebut nama-Nya.

Ayat di atas memberi dorongan kepada umat Islam untuk banyak berzikir. Misalnya, lafaz zikir diucapkan dengan mulut dan disertai ingatan di dalam hati pada waktu salat. Selain itu, kegiatan zikir dilakukan sesudah salat.

Zikir dapat juga dilakukan berbarengan dengan aktivitas lainnya. Orang-orang yang senantiasa berzikir mempunyai harapan sebagaimana dinyatkan pada akhir ayat tersebut, yakni agar mereka dijauhkan dari api neraka di akhirat.

Dengan kata lain, harapan mereka agar ditempatkan di surga. Sebab, di akhirat hanya ada surga dan neraka.

Ayat di atas memberi dorongan kepada umat Islam untuk belajar agama dan mendalami pengetahuan alam, sosial, dan budaya. Sejak dini generasi Muslim perlu dibekali dengan dasar-dasar pengetahuan agama yang mantap.

Selanjutnya, mereka dapat memilih bidang studi yang diminati dan diperlukan. Ilmu-ilmu yang didalami itu diharapkan dapat mengantar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.

Allah Swt. berfirman, yang artinya, Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa (Yunus/10: 6).

Ayat ini secara langsung menunjuk pada pergantian malam dan siang sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Selain itu terdapat pula ayat-ayat lain yang membicarakan tentang matahari yang menampakkan cahayanya pada waktu siang dan bulan yang bersinar pada waktu malam.

Menyikapi Perubahan Waktu

Perubahan waktu semestinya memberi dorongan untuk melakukan zikir. Lafanya bermacam-macam. Misalnya, zikir pada waktu pagi. Allaahumma bika ashbahnaa wa bika amsainaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur. Artinya, Ya Allah, karena Engkau kami berada pada waktu pagi, dan karena Engkau kami berada pada waktu sore, dan karena Engkau kami hidup dan mati, dan kepada Engkaulah kebangkitan itu. (HR Abu Daud dan at-Turmudzi, Riyadus Salihin, II, 2004: 200).

Orang beriman memuji Allah ketika ia masih diberi kesempatan menghirup udara pagi. Di samping itu, pada waktu bangun ia mengingat, pada suatu masa manusia akan dibangkitkan dari kuburnya untuk menghadap Allah. Kesadaran seperti ini memberi dorongan untuk berbuat baik dan menjauhi maksiat.

Pada permulaan malam umat Islam menunaikan salat Magrib. Menurut ulama Turki terkemuka, Bediuzzaman Said Nursi, matahari yang tenggelam mengandung hikmah agar manusia ingat,  pada suatu waktu ia akan mati (Nursi, I, 2002: 55). Orang yang meninggal hilang dari peredaran, seperti halnya matahari yang tenggelam.

Sejalan dengan itu, sesudah azan Magrib, umat Islam disunatkan membaca doa dengan lafaz yang sama, pada waktu salat yang lain.

Selain itu, dianjurkan untuk membaca lafaz berikut. Allahumma inna hadza iqbaalu lailika wa idbaaru nahaarika, wa ashwaatu du‘aatika, fagfirli. Artinya,  Ya Allah, ini adalah kedatangan malam-Mu, dan berlalunya siang-Mu, dan suara orang-orang yang memanggil (untuk salat), maka ampunilah aku. (HR Abu Daud).

Orang yang beriman sadar, perjalanan waktu ada di tangan Allah. Dia adalah Pencipta langit dan bumi, Pencipta matahari dan bulan, dan Penentu pergantian siang dan malam. Karena itu, ia sadar, waktu tidak boleh dibuang percuma.

Waktu diisi dengan memantapkan iman, memperbanyak amal saleh, saling mengingatkan tentang kebenaran, dan saling mengingatkan perihal kesabaran. Ini adalah pesan-pesan pokok yang terdapat pada surah al-‘Ashr.

Selain kewajiban menunaikan salat Asar, umat Islam dianjurkan membaca zikir pada waktu sore. Salah satu isi zikir adalah mengingat akhirat sebagai tempat kembali. Itu dinyatakan dalam ungkapan Wa ilaikal mashiir  (kepada-Mulah Allah kami kembali).

Jika waktu sore tiba, umat Islam ingat, bahwa sesudah itu akan datang waktu Magrib. Orang yang sudah berusia lanjut diibaratkan seperti matahari pada waktu sore. Tak lama lagi ia hilang dari peredaran.

Orang beriman menghadapi pergantian siang dan malam dengan penuh optimisme. Ada harapan yang baik. Masa datang dihadapi dengan tawakal dan rida.

Orang beriman memiliki harapan untuk masuk surga dan bertemu dengan Allah Swt. akhirat. Firman Allah Swt., menjelaskan, yang artinya, Maka barangsiapa mengharap bertemu dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya (Al-Kahfi/18: 110).   

Tanda-tanda Alam

Di samping itu, orang yang masih muda mengingat, bahwa masa ini semestinya dimanfaatkan untuk mempersiapkan masa depan. Mereka belajar dengan baik, bekerja dengan baik, bergaul dengan baik, dan beribadah dengan sebaik-baiknya.

Itu salah satu hikmah salat pada waktu tengah hari (Zuhur). Menurut Nursi, orang muda berada di puncak kekuatan (Nursi, I, 2002: 53). Ia seperti halnya terik matahari yang mencapai puncaknya pada waktu Zuhur.

Umat Islam mengetahui waktu-waktu salat berdasarkan tanda-tanda alam. Misalnya, waktu salat Subuh ditandai dengan terbitnya fajar hingga terbit matahari. Waktu Magrib ditandai dengan terbenamnya matahari hingga hilangnya awan jingga.

Masing-masing waktu disebutkan di dalam Al-Qur’an dan diterangkan secara terperinci dalam hadis Nabi Muhammad Saw. Hikmah masing-masing waktu salat dijelaskan oleh ulama (Arraiyyah, 2016:36-41).

Nabi Muhammad Saw. mengajarkan banyak ragam lafaz zikir dan doa. Sebagian lafaz dapat diamalkan setiap saat, namun sebagian lainnya dikaitkan dengan waktu, tempat, perbuatan, dan peristiwa.

Di antaranya, doa pada waktu pagi, doa masuk toilet, doa saat melihat wajah di cermin, dan doa menyaksikan hujan yang turun.

Dengan demikian, umat Islam dapat melakukan zikir yang banyak seiring dengan perjalanan waktu atau senantiasa berzikir.

Tuntunan ini sejalan dengan pengamalan Nabi Saw. yang dijelaskan oleh Aisyah r.a. Ia menuturkan, Rasulullah Saw. selalu berzikir pada setiap saat. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (Riyadus Salihin, II, 2004: 194). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *