Wed. Feb 19th, 2020

BLAM

KEREN

Soal Jilbab, Ribut! Giliran Ibu Meninggal Melahirkan, Justru Senyap!

5 min read

6,552 total views, 4 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Soal jilbab kembali diributkan. Gara-garanya, pernyataan atau tepatnya jawaban Ibu Sinta Nuriyah, ketika ditanya Dedy Corbuzier dalam kanal youtube-nya soal kewajiban berjilbab. Istri Gusdur tersebut memberikan jawaban, yang bagi Dedy sendiri cukup mengagetkan; “Jilbab tidak wajib.”

Bagai api yang membakar ilalang, pernyataan itu pun segera merebak ke mana-mana. Seperti biasa, sebagian nitizen yang kadang-kadang merasa “maha benar”, pun segera menghakimi Ibu Sinta.

Komentar-komentar pedas bercampur nyinyir menguar pekat di langit media sosial. Jagad media sosial, seperti biasa menanggapi isu semacam ini, tak ketulungan ributnya.

Sebelum Ibu Sinta, Prof Quraish Shihab, pakar Tafsir dari Asia Tenggara itu, juga pernah di-bully nitizen gara-gara jilbab. Ia diseret-seret terlibat dalam mazhab Syiah, karena pandangannya tentang jilbab.

Prof Quraish Shihab, sejauh ini, tidak pernah secara terang menyebutkan, menggunakan jilbab tidak wajib. Setahu saya, Prof Quraisy hanya membabarkan seluruh pandangan tentang menutup aurat, serta berbagai perbedaan ulama dalam menentukan batasan-batasan aurat tersebut.

Selanjutnya, Prof Quraish tidak menentukan satu keputusan perihal menutup aurat dari sekian pandangan yang ada. Tetapi, pada 2018, Prof Quraish, telah menulis buku mungil berwarna manis (pink) berjudul “Jilbab Pakaian Wanita Muslimah.

Satu bulan sebelumnya, tepatnya Desember 2019, seorang dokter di akun Instagramnya pernah mengunggah kematian seorang ibu yang sedang melahirkan anaknya. Anak tersebut lahir dengan selamat, tetapi ibunya harus kehilangan nyawa.

Postingan itu memang mendapat tanggapan dari berbagai nitizen. Namun, porsi perbincangannya tidaklah seheboh dengan persoalan jilbab yang dilontarkan Ibu Sinta.

Mengapa bisa demikian? Apakah kasus kematian ibu akibat melahirkan tidak dirasakan sebagai persoalan kaum muslimah di Indonesia?

Bukankah Angka Kematian Ibu pada 2018/2019 menurut catatan Fakultas Kesehatan UI, masih berada pada kisaran 305/1000 kelahiran. Angka yang masih sangat tinggi. Tidakkah hal ini dianggap penting bagi para kaum muslim yang sedang ingin menjalankan Islam secara kaffah?

Perlu kita catat baik-baik, bahwa jilbab saat ini bukanlah persoalan yang paling mendasar bagi muslimah di Indonesia. Di samping tidak ada larangan untuk berjilbab, penggunaannya sekarang sangat marak.

Di mana-mana perempuan terlihat menggunakan jilbab. Di kantor, di sekolah, di mall, bahkan di tempat-tempat hiburan, dengan mudah bisa ditemukan perempuan yang berjilbab.

Cobalah antum melakukan pendataan secara sederhana saja. Berapa muslimah berjilbab saat ini dan berapa yang belum? Lihat saja tetangga sekitar. Kemungkinan dari 10 orang muslimah, tinggal tiga yang tidak menggunakan jilbab.

Lantas, apa yang kita khawatirkan dengan jilbab ini? Sekalipun banyak yang berpendapat jilbab tidak wajib, tidak akan mengurangi orang-orang berjilbab tersebut. Jilbab sudah menjadi gaya hidup dan fashion. Bahkan, sebagian perempuan merasa tidak cantik lagi jika tidak berjilbab.

Ribut soal Ibadah Individu, Mengabaikan Ibadah Sosial

Dua peristiwa di atas dengan intensitas perhatian yang berbeda dari kaum muslim Indonesia menunjukkan beberapa hal:

Pertama;  kita ternyata masih belum berhasil bergeser dari perdebatan yang itu-itu juga; jilbab, kunut, lukisan, maulidan, menjaharkan basmalah dan seterusnya. Perdebatan-perdebatan tempo doeloe yang masih kita senang ungkit hingga hari ini.

Padahal, kita sebenarnya tahu persis (kecuali yang kurang membaca), isu-isu tersebut dalam Islam adalah sesuatu yang bersifat khilafiah. Pendapat tentang isu itu beragam, sehingga sangat mungkin pula sampai hari ini, ada orang atau kelompok yang berbeda dengan pemahaman yang kita yakini.

Karena kita hanya sibuk berdebat pada isu-isu klasik semacam itu, kita melupakan dalam banyak hal kita telah ketinggalan dengan umat dan negara lain. Umat lain telah berbicara bagaimana caranya terbang ke planet Mars, kita masih sibuk memperdebatkan apa bumi ini bulat atau datar.

Bangsa lain tengah mengupayakan teknologi agar ibu-ibu melahirkan tanpa rasa sakit, kita masih sibuk berdebat soal wajib-tidaknya jilbab.

Kedua; sebagian umat Islam lebih senang memperdebatkan hal-hal yang sifatnya ibadah individu. Tetapi sayangnya, di saat yang sama, mengabaikan hal-hal yang menyangkut kepentingan sosial yang terjadi di seputar kita.

Pernahkah kita heboh memperbincangkan penggusuran yang saban waktu terjadi di negeri ini? Mungkin saat kita membuka chanel TV, terpampang peristiwa penggusuran di layar TV,  tetapi kita tidak menganggapnya sebagai peristiwa penting dan segera terlewatkan begitu saja.

Apakah kita pernah sibuk mengurusi sampah, lingkungan hidup, dan eksploitasi alam yang marak terjadi? Kalaupun  ada yang sibuk, palingan para aktivis yang cuma segelintir. Sementara yang selama ini sering berteriak keras membawa nama agama, justru tak melakukan apa-apa.

Ketiga; ada sementara kalangan umat Islam lebih senang meributkan hal-hal yang simbolik,  kendati tidak menjadi persoalan riil yang dialami oleh masyarakat. Contohnya ya… Persoalan jilbab tadi itu.

Sebelumnya, pernah pula kita ribut membincangkan imam perempuan, padahal juga tidak menjadi persoalan yang sedang mengancam masyarakat. Selanjutnya kita juga ribut soal janggut, cingkrang, dan seterusnya.

Ketimpangan Ekonomi

Bukankah persoalan riil yang sedang mengancam kita adalah persoalkan ketimpangan ekonomi?  Konon katanya, akibat inovasi teknologi dan pengembangan industri kreatif, kemiskinan dapat diturunkan. Tetapi, ketimpangan ekonomi tidak pernah betul-betul membaik.

Gini Ratio pada 2019 misalnya, masih berada pada level buruk, yakni 0,382. Itu artinya,  pertumbuhan ekonomi hanya dirasakan oleh segelintir elite. Sebanyak 38% kekayaan dan ekonomi kita dikuasai hanya oleh segelintir elit tersebut.

Pendapatan masyarakat bawah mungkin bertambah, tetapi biaya dan beban hidupnya menanjak naik. Maka, kemungkinan yang akan terjadi adalah depresi sosial. Bahkan, yang paling buruk adalah meningkatnya bunuh diri (suicide).

Bagi perempuan, persoalan riil saat ini selain kematian akibat melahirkan, adalah kekurangan gizi bagi ibu menyusui dan stunting. Sayangnya, diskusi soal ini di media sosial sunyi-senyap.

Tidak salah kalau Kalis Mardiasih, penulis media online, dengan sedikit sinis pernah berkomentar, banyak muslimah saat ini setelah berhijrah lebih banyak sibuk dengan simbol-simbol Islam.

Ramai berdebat busana muslim yang paling patut disebut syar’i, dan yang belum syar’i. Namun, mereka abai terhadap isu-isu toleransi beragama, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan persoalan lingkungan hidup. Padahal, yang disebut terakhir ini, nyata di depan mata kita sebagai masalah yang perlu diselesaikan.

Patut kita ingat, seluruh Nabi dan para ulama ketika terjun di tengah-tengah umat, yang paling pertama dibereskan terlebih dahulu adalah persoalan sosial yang mendera masyarakat.

Nabi Muhammad SAW pertama-tama datang ke tengah kaumnya untuk menghilangkan perbudakan dan ketimpangan sosial. Kalaupun Nabi SAW menghantam teologi Arab Quraisy saat itu, tak lain karena teologi itulah akar dari perbudakan dan ketimpangan sosial tersebut.

Datuk ri Tiro, salah seorang dari trio penganjur Islam di Sulawesi selatan,  ketika tiba di Tiro-Bulukumba, yang pertama-tama diselesaikan adalah persoalan kekeringan dan kemiskinan yang selalu menghantui masyarakat di sana.

Datuk ri Tiro tidak mempersoalkan terlebih dahulu hal-hal simbolik dan busana para masyarakat lokal. Yang dia selesaikan adalah persoalan sosial masyarakatnya terlebih dahulu.

Itulah sejatinya Islam. Ia datang untuk memperbaiki kehidupan sosial, bukan semata-mata mengajarkan kesalehan pribadi.

Dengan demikian, jika kita masih dan hanya sibuk mengurus ibadah individu, suka sibuk berdebat soal jilbab itu wajib apa tidak, kunut bid’ah apa sunah, maka jangan pernah bermimpi berislam secara kaffah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *