Tue. Jul 14th, 2020

BLAM

KEREN

Pelanggaran Kebebasan Beragama: Bentuk dan Akar Persoalan

5 min read

Sumber gambar: Tirto.id

3,974 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Pelanggaran Kebebasan Beragama di Negara “Agama” dan Sekuler

Pada tulisan sebelumnya, saya menggarisbawahi kebebasan beragama adalah sebuah keniscayaan, baik dari segi filofois, teologis, maupun sosiologis. Namun, pada praktiknya, berita dan cerita miris terpapar dalam lembar sejarah.

Fakta-fakta memilukan dan memalukan membias ironi yang menoreh kesucian agama dan kemerdekaan manusia. Secara ideal dan konseptual kebebasan beragama adalah niscaya, tapi secara faktual kebebasan beragama nyaris utopis.

Atas nama Tuhan dan keteraturan, kebebasan dan kemerdekaan manusia dicerabut oleh sesamanya. Lantas, jadilah cerita akan pelanggaran atas kebebasan beragama menjadi fakta.

Bentuk-bentuk pelanggaran kebebasan beragama terdiri atas dua modus represi, yaitu represi pemikiran dan represi fisik.

Represi pemikiran dilakukan dengan modus pembungkaman nalar kritis, menutup pintu ijtihad, membatasi ruang interpretasi terhadap agama, hingga klaim-klaim stigmatik, yang dilekatkan kepada mereka yang berbeda agama maupun kelompok keagamaan (mazhab/sekte).

Represi fisik dilakukan dengan modus pemaksaan, intimidasi, hingga teror kepada orang yang berbeda keyakinan agama terkait dengan kebebasan mereka dalam beragama dan menjalankan keberagamaannya.

Praktik-praktik pelanggaran terhadap kebebasan beragama, tidak hanya terjadi pada lingkup masyarakat “agamis” yang didominasi oleh agama atau pemahaman agama tertentu.

Di masyarakat -negara- sekuler dan komunis pun, pelanggaran terhadap kebebasan beragama kerap terjadi.

Pada masyarakat atau negara “agamis”, pelanggaran kebebasan beragama dilakukan kelompok agama dominan dengan memberangus, “mengkebiri”, dan menghalang, maupun memberikan stigmatisasi terhadapi penganut agama minoritas atau kelompok agama yang berpemahaman dan melaksanakan praktek ritus yang berbeda dengan arus dominant.

Contoh kongkret, misalnya pengganyangan kaum Ahmadiyah di Indonesia, pengkafiran Syiah, dan sederetan fakta miris lainnya. Di masyarakat atau negara sekuler, di mana agama dan praktik keberagamaan dipandang sebagai simbolisasi warisan tradisional yang kolot, sarat mitos, dan penghambat kemajuan.

Orang-orang beragama yang taat menjalankan agamanya mendapatkan stigma negatif dan bahkan di negara tertentu dilarang untuk menampilkan simbol-simbol keagamaannya. Misalnya,  pelarangan pemakaian jilbab bagi muslimah di Perancis, Inggris, dan Turki.

Akar Persoalan Pelanggaran Kebebasan Beragama

Jika pelanggaran atas kebebasan beragama adalah fakta yang mengitari keragaman agama dan keberagamaan manusia, lantas apa sebab yang menjadi akar tercerabutnya kebebasan beragama?

Dalam tulisan ini, saya akan mengurainya dari sudut pandang paradigma keberagamaan yang ekstrinsik. Klaim kebenaran teologis yang rigid, hingga faktor-faktor yang bersinggungan dengan politik maupun ekonomi.

Pada faktanya, keseluruhan sebab tersebut secara sinergis, sering menjadi pemicu perampasan hak kebebasan beragama. Gordon W. Alport, membagi paradigma keberagamaan manusia ke dalam dua bentuk, yaitu paradigma intrinsik dan paradigma ekstrinsik.

Beragama dengan paradigma intrinsik, yaitu pola keberagamaan yang memosisikan agama pemandu dan pemadu realitas paling ultim dari manusia. Sehingga, keberagamaan yang muncul dipenuhi dengan nuansa rasional, kasih sayang, dan kedamaian.

Orang yang beragama dengan pola intrinsik, memandang agama lebih pada aspek substansial dan tidak terjabak pada aspek-aspek keberagamaan yang simbolik.

Paradigma keberagamaan ekstrinsik, yaitu pola keberagamaan yang memosisikan agama, sebagai “realitas eksternal” yang terpisah dengan aspek sublim manusia, seperti rasio dan cinta.

Pola keberagamaan ekstrinsik lebih menekankan pada aspek eksternal agama dan cenderung menafikan bahkan mereduksi sisi esoteris dari agama.

Secara praksis, pola keberagamaan ekstrinsik, menjadikan agama sebagai penunjang motif-motif pribadi, seperti pemenuhan kebutuhan akan rasa aman, harga diri, dan status sosial.

Pola keberagamaan ekstrinsik yang lebih melihat simbol daripada substansi, serta menjadikan agama sebagai penunjang motif-motif pribadi menjadi penyebab terjadinya pelanggaran atas kebebasan beragama.

Paradigma teologis yang eksklusif dan puritan yang melahirkan militansi keberagamaan dan menafikan toleransi atas keragaman pandangan dan keyakinan juga menjadi faktor pemicu pelanggaran kebebasan beragama.

Oleh sebagian orang beragama, teologi dipahami secara eksklusif dan rigid, diapresiasi secara puritan, dan disikapi dengan fanatisme yang berlebihan (ta’ashub).

Pemahaman, keyakinan, dan praktik keberagamaan diklaim sebagai kebenaran tunggal yang tidak memungkinkan hadirnya kebenaran yang lain.

Semangat purifikasi agama menyebabkan tertutupnya ruang interpretasi dan menafikan kebebasan mengekspresikan agama dari sebagian komunitas yang memandang suatu agama dari sudut pandang yang berbeda.

Walhasil, intoleransi, stigmatisasi, persekusi hingga intimidasi terhadap pemeluk agama dan keyakinan yang berbeda, merupakan implikasi logis dari kejumudan paradigma teologis tersebut.

Politik & Ekonomi

Dalam catatan sejarah, sering ditemukan pelanggaran kebebasan beragama dipicu oleh faktor-faktor yang berlatar politk maupun ekonomi. Agama dan pemahaman agama yang dimapankan sering dijadikan alat justificied untuk memberangus kebebasan beragama.

Sejarah tercatat, setelah keruntuhan kekuasaan Islam di Spanyol, terjadi pembantaian dan pemaksaan terhadap umat Islam untuk meninggalkan agamanya.

Peristiwa mihnah di zaman khalifah al-Makmun, inkuisisi di zaman skolastik, genocide atas umat muslim Bosnia Albania di Kosovo oleh bangsa Kristen Serbia, serta banyak lagi fakta pelanggaran kebebasan beragama yang dipicu oleh pemenuhan hasrat kekuasaan dan pembalasan dendam politik.

Paradigma modernisme, materialisme, positivisme, dan sekularisme juga kerap menjadi biang kerok pelanggaran kebebasan beragama. Akar paradigma moderniisme, materialisme dan positivime dilandasi pada semangat kritik terhadap agama.

Agama dianggap sebagai warisan tradisional yang menyebabkan kejumudan berpikir karena ajarannya sarat dengan mitos. Agama dipandang penghambat kemajuan manusia, karena agama lebih menekankan pada orientasi akherat disbanding orientasi kemajuan dunia.

Akibat pandangan ini terjadi stigmatisasi dan klaim negatif terhadap agama dan orang-orang beragama.

Stigmatisasi ini mengakibatkan terjadinya represi psikologis terhadap umat beragama. Paradigma materialisme, modernisme, dan positivisme jika terlembaga dalam bentuk negara, menjadi sebuah negara sekuler yang kerap memberangus hak-hak kebebasan beragama rakyatnya.

Kasus sekularisme di Turki, pelarangan pemakaian jilbab di Inggris dan Perancis merupakan bukti kegagalan sekularisme dalam menjamin kebebasan beragama.

Di negara-negara komunis, pelanggaran kebebasan beragama pun lebih parah terjadi. Komunisme yang memang dasarnya anti Tuhan dan agama, bersikap sangat tidak toleran dengan agama dan orang-orang beragama.

Contoh kasus di beberapa negara komunis sudah cukup menjadi bukti pelanggaran terhadap kebebasan beragama tersebut, penutupan tempat-tempat ibadah hingga pelarangan ibadah secara terbuka bagi umat beragama merupakan fakta miris yang menghiasi sejarah berkuasanya komunisme di suatu negara.

Di Indonesia, dengan dalih keteraturan, penganut di luar enam agama “resmi” dipaksa untuk melakukan konversi terhadap salah satu agama resmi yang diakui, dan yang menjadi korban adalah penganut agama-agama lokal.

Selain faktor politik, faktor ekonomi sering menjadi sebab terjadinya pelanggaran kebebasan beragama. Sering dijumpai pemberangusan terhadap kelompok agama atau aliran tertentu disebabkan oleh hasrat untuk menguasai aset-aset ekonomi yang mereka miliki.

Pemberangusan terhadap komunitas Darul Arqam di Malaysia disebabkan oleh kepemilikan mereka atas aset-aset ekonomi, ekspresi keberagamaan –keberislaman- komunitas adat tertentu sering menjadi dalih untuk merampas tanah-tanah adat mereka.

Menggugat kemajemukan berarti menggugat Tuhan yang menciptakan perbedaan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *