Sun. Apr 5th, 2020

BLAM

KEREN

BLAM Akan Dalami Riset Moderasi Beragama

2 min read

Pembukaan pembahasan desain operasional, Selasa, 14 Januari 2020.

3,080 total views, 8 views today

MAKASSAR, BLAM – Moderasi Beragama menjadi fokus perhatian riset Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) tahun 2020. Dari empat judul penelitian, semua mengulas mengenai tema Moderasi Beragama di berbagai lokasi di Kawasan Timur Indonesia.

Kementerian agama saat ini lagi gencar-gencarnya membahas Moderasi Beragama. Bahkan, isu untuk mendalami Moderasi Beragama kerap menjadi salah satu perbincangan Menteri Agama Republik Indonesia terdahulu, Lukman Hakim Saifuddin, yang kini diteruskan lagi penggantinya, Facrul Razi.

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, menyatakan, riset yang menitikberatkan pada persoalan toleransi dan kerukunan umat beragama di KTI, sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi Peneliti BLAM.

Sebelumnya, Peneliti BLAM telah beberapa kali melakukan penelitian mengenai toleransi dan kerukunan umat beragama. Meskipun begitu, inilah pertama kalinya semua Peneliti BLAM melakukan riset dengan mengangkat tema penelitian yang sama.

“Pada riset tahap pertama ini, peneliti akan mengkaji Moderasi Beragama dalam berbagai perspektif, yaitu perspektif keagamaan, pendidikan keagamaan, dan kebudayaan atau kearifan lokal. Tujuan utamanya adalah bagaimana kita, dalam hal ini kemenag, melihat praktik Moderasi Beragama secara langsung di lapangan,” kata Saprillah, saat memberi sambutan pada kegiatan pembahasan desain operasional penelitian, di aula kantor, Selasa sore, 14 Januari 2020.

Pembahasan desain operasional (proposal penelitian) dilaksanakan serentak oleh tiga bidang penelitian. Kegiatan ini mengundang narasumber dan beberapa peserta dari luar untuk memberi masukan maupun kritikan, sebelum peneliti melakukan penjajakan lapangan, Selasa, 21 Januari 2020.

“Riset ini akan diarahkan untuk mencoba menyempurnakan, atau memberi catatan pinggir,  terhadap isu Moderasi Beragama yang dibangun oleh kementerian agama,” kata Saprillah.

“Ada empat indikator dalam Moderasi Beragama, yaitu kebangsaan, relasi agama dan kebudayaan, toleransi, dan sikap wasathiyah (tengah/moderat). Boleh jadi, keempat indikator ini ditemukan di lapangan sebagai indikator yang sama, tetapi bisa juga berkurang, atau malah bertambah,” lanjut Saprillah.

Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI sendiri telah membuat, dan menerbitkan secara bersamaan dua buku yang mengulas Moderasi Beragama pada 2019.

Buku pertama berjudul “Moderasi Beragama” terbagi atas tiga bagian, yaitu Kajian Konseptual Moderasi Beragama, Pengalaman Empirik Moderasi Beragama, dan Strategi Penguatan dan Implementasi Moderasi Beragama.

Sementara buku lainnya, yang diberi judul “Tanya Jawab Moderasi Beragama,” atau dikenal sebagai “Buku Saku”, mencoba menjawab rasa penasaran orang-orang yang ingin mengetahui lebih mendetail tentang Moderasi Beragama.

Pada riset tahap pertama 2020, tiga Bidang Peneliti dan Peneliti Ahli Utama BLAM bakal meneliti Moderasi Beragama dengan judul yang berbeda-beda.

Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, yang dikomandoi Baso Marannu, meneliti “Pemahaman Kebhinnekaan Peserta Didik Madrasah di  10 Kota di KTI.”

Wardiah Hamid bakal mengkoordinir rekan-rekannya di Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi untuk meneliti “Moderasi Beragama dalam Kearifan Lokal Masyarakat di KTI.”

Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan akan meneliti “Media Online dan Pembentukan Pemahaman Keagamaan Siswa di KTI”, di bawah koordinator penelitian Paisal.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Arifuddin Ismail, akan memimpin Peneliti Ahli Utama BLAM meneliti “Pemikiran dan Praktik Moderasi Beragama di Berbagai Lembaga Pendidikan Keagamaan di KTI.”

Setelah pembahasan desain operasional, tiga bidang penelitian akan melakukan pembahasan Instrumen Pengumpulan Data (IPD), Kamis, 16 Januari 2020, yang juga menghadirkan peneliti dan peserta dari luar (akademisi, pengambil kebijakan, aktivis). (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *