Sun. Apr 5th, 2020

BLAM

KEREN

Basis Paradigmatik Atas Paradoks Agama, [Ber]agama, & [Keber]agama[an]

5 min read

Sumber gambar: beritadunia.net

3,561 total views, 6 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Berbicara mengenai agama bagaikan berbicara tentang suatu paradoks. Di satu pihak, agama diyakini penjamin jalan keselamatan, cinta, dan perdamaian.

Di lain pihak, keberagamaan yang ditampilkan sebagai pengejawantahan ekspresi manusia-manusia yang beragama justru menjadi sumber, penyebab, dan alasan yang menyebabkan kehancuran dan kemalangan manusia.

Atas nama agama, orang-orang beragama bisa saling mencintai. Tapi, atas nama [keber]agama[an] pula, orang-orang beragama bisa saling membenci, membunuh, dan menghancurkan.

Sejarah agama-agama, dalam hal ini pola keberagamaan yang diekspresikan oleh orang-orang beragama, di dunia adalah deskripsi sejarah siklik yang penuh fakta kelam yang dihiasi dengan berbagai tragika historis atas nama Tuhan.

Sakralitas ajaran transenden “dipelintir” dan dipolitisir demi sebuah ambisi kelompok yang diwujudkan dalam bentuk pemberangusan dan pembasmian mereka yang dianggap menyimpang.

Inkuisisi, mihnah, dan berbagai tragika sejarah telah menelan korban sekian banyak nyawa manusia hanya karena “satu dosa” menyimpang dari tradisi [keber]agama[an] yang dimapankan.

Jika relasi umat intra-iman dalam satu agama saja masih sering menoreh darah, terlebih lagi interaksi umat antar-iman yang berbeda agama.

Penaklukan, genocide, eksploitasi, merupakan berita mutawatir yang terpapar dalam lembar sejarah manusia, tentang bagaimana agama menjadi begitu ”merah” dan ”hitam”.

Akhirnya, agama yang suci, sakral, agung, dan penjamin keselamatan dan sumber pengetahuan, kearifan dan cinta. Tereduksi dalam wajah keberagamaan orang-orang beragama yang paradoks akibat pemahaman yang salah dari orang-orang beragama dan melahirkan penyikapan keberagamaan yang naif dan destruktif.

Pemahaman yang salah dan penyikapan yang naif tidak hanya melanda orang-orang beragama. Orang-orang yang anti agama juga tak kalah sering mengalami mispersepsi tentang agama hingga melahirkan sikap yang tidak arif dan konstruktif dengan cara memusuhi orang-orang beragama dan menghalangi ekspresi ritus keberagamaan manusia.

Sejarah telah mencatat, di masyarakat sekuler yang anti agama, orang-orang beragama telah dikebiri hak-hak keberagamaannya. Yang terjadi akhirnya bukan sekadar pemaksaan terhadap manusia untuk beragama.

Tapi lebih dari itu, yang terjadi juga pemaksaan kepada manusia untuk tidak beragama dan menghalangi manusia untuk mengekspresikan ritus keberagamaannya.

Hal ini tidak hanya terjadi pada masyarakat agamis yang didominasi oleh agama atau pemahaman keagamaan tertentu, melainkan juga terjadi pada masyarakat sekuler yang agnostik maupun anti agama. Menyikapi fenomena tersebut, maka telaah konsep kebebasan beragama menjadi diskursus yang menarik.

Kebebasan Beragama: Sebuah Keniscayaan

Manusia terlahir berbeda merupakan sebuah aksioma, berdasarkan pendekatan prima principia Aristoteles, secara fisik, psikologis, maupun pemikiran tak ada dua manusia yang persis sama.

Perbedaan di kalangan manusia terbagi atas dua jenis, yaitu perbedaan bawaan (alami) dan perbedaan perolehan.

Selain terdapat perbedaan suku, ras, dan bentuk fisik yang merupakan perbedaan bawaan manusia. Terdapat sekian banyak perbedaan perolehan yang ada pada manusia, seperti perbedaan dalam gagasan, pengetahuan, pendekatan, prioritas, dan penilaian. Jika perbedaan bawaan bersifat konstan, maka perbedaan perolehan bersifat dinamis dan konstruktif.

Agama menempati ruang yang unik, yaitu agama meliputi perbedaan bawaan sekaligus perbedaan perolehan.

Yaitu, agama di satu sisi terkadang bersifat herediti dari suatu generasi yang diwariskan ke generasi berikutnya atau dapat pula berkembang dari suatu sistem kepercayaan melalui keyakinan pribadi yang mengalami proses evolusi hingga melahirkan konstruksi keyakinan dan pemikiran yang “khas” dari tiap-tiap individu maupun kelompok.

“Kekhasan” ini melahirkan perbedaan agama, pemahaman agama, hingga ekspresi keberagamaan. Karena posisi agama menempati ruang perbedaan konstruktif akibat pilihan sadar manusia dalam mencapai, menginternalisasi, dan mengekspresikan kebenaran.

[Ber]agama dan [keber]agama[an] menempati ruang bebas pilihan manusia. Kebebasan beragama sebagai konsekuensi logis pilihan bebas manusia dalam menempuh jalan kebenaran, mencakup kebebasan memilih agama, termasuk pindah agama, kebebasan memahami ajaran agama, termasuk berafiliasi pada pemahaman agama tertentu, serta kebebasan dalam mengekspresikan serta menjalankan praktik-praktik keberagamaan (beribadah).

Dalam pendekatan psikologi (humanistik), kebutuhan tertinggi manusia adalah kebutuhan akan aktualisasi diri dan transendensi diri. Dalam proses aktualisasi dan transendensi diri tersebut, manusia berpijak pada pandangan dan keyakinannya akan sebuah jalan kebenaran.

Secara filosofis, manusia dibekali tiga fakultas epistemik; indera, akal, dan hati- untuk mencapai kebenaran.

Tingkat pencapaian manusia pada jalan kebenaran berbanding lurus dengan maksimalisasi proses penggunaan fakultas-fakultas epistemik tersebut serta dipengaruhi oleh piranti-piranti eksternal yang mengitarinya, khususnya kondisi sosio-kultural dan pengalaman-pengalaman subjektif manusia, baik berupa pengalaman fenomenal maupun pengalaman eksistensial.

Agama –dengan “A” besar- merupakan titik kordinat kebenaran tertinggi yang bersumber pada sakralitas Ilhaiah. Tapi, agama –dengan “a” kecil- merupakan hasil pencapaian manusia melalui dialektika pemahaman dan kesadarannya dengan kerinduan primordialnya pada kebenaran sublim.

Oleh karena itu, perbedaan pencapaian tersebut melahirkan perbedaan dalam menginternalisasi, serta perbedaan dalam mengekspresikan kebenaran agama sebagai proses aktualisasi, dan transendensi diri dalam mengenali jati dirinya yang paling sublim.

Perbedaan agama, [ber]agama, dan [keber]agama[an], merupakan keniscayaan, namun keniscayaan ini didasarkan pada pilihan bebas dari pengelanaan rasio serta kesadaran manusia sebagai makhluk merdeka. Berdasarkan hal tersebut, kebebasan beragama menjadi niscaya secara filosofis.

Menurut Syeikh Gamal al-Banna –salah seorang tokoh Ikhwan al-Muslimin-, penerimaan terhadap keyakinan Tauhid meniscayakan keyakinan akan pluralitas selain DIA.

Pluralitas

Pluralitas merupakan sebuah doktrin aksiomatis seiring dengan doktrin keesaan Tuhan. Konklusi ini didasarkan pada untaian premis, bahwa yang tunggal hanyalah Allah dan segala selain Allah adalah tidak tunggal (plural).

Pluralitas entitas selain Allah mencakup semua level gradasi realitas. Pluralitas ini meniscayakan hadirnya berbagai pemahaman yang berbeda-beda tentang Allah. Tuhan itu tunggal, tapi konsep tentang Tuhan itu plural, sebanyak kepala yang memikirkannya.

Hadis Qudsi yang menyatakan, “Allah berdasarkan persangkaan hambaNYA tentang DIA” merupakan isyarat pengakuan dari Allah akan adanya pluralitas konsep tentangNYA.

Pluralitas konsep tentang Allah meniscayakan pluralitas bentuk tiap-tiap individu untuk mengekspresikan keyakinannya terhadap Tuhan dan bentuk ritus-ritus untuk mengkuduskan Tuhan dalam kehidupan.

Perbedaan agama, pemahaman agama, dan ekspresi keberagamaan menjadi hal yang lumrah sebagai konsekuensi logis atas perbedaan pada konsep dan pengejawantahan konsep tentang Tuhan.

Kelaziman perbedaan pemahaman dan agama (keyakinan) tersebut meniscyakan perlunya suatu bentuk penyikapan yang arif terhadap perbedaan pemahaman dan keyakinan tersebut. Dan, pada sisi inilah, secara teologis, pengakuan akan kebebasan beragama sebagai sebuah pemahaman dan sikap hidup menjadi sebuah keniscayaan.

Secara sosiologis, keragaman agama dan bentuk-bentuk ekspresi keberagamaan merupakan fakta sosial yang tak terbantah. Menyatukan keragaman menjadi keseragaman merupakan sebuah kemustahilan karena melawan aksioma sosial.

Oleh karena keragaman agama dan praktik keberagamaan merupakan sebuah keniscayaan, dan menyatukannya adalah kemustahilan, penyikapan arif terhadap perbedaan tersebut adalah sebuah kemestian.

Penyikapan arif tersebut adalah penghargaan akan kebebasan manusia dalam beragama. Berdasarkan untaian proposisi tersebut, secara sosiologis, kebebasan beragama merupakan sebuah keniscayaan.

Kelangsungan eksistensi agama dalam sejarah sangat ditentukan oleh dialektika dan adaptasi agama tersebut dengan konteks kultur yang berlaku disautu tempat atau kurun waktu tertentu.

Dengan demikian, perbedaan kultur meniscayakan perbedaan dalam memahami dan mengekspresikan bentuk-bentuk keberagamaan.

Hal tersebut mesti diapresiasi sebagai sebuah keniscayaan kultural dan dikapi secara positif dalam bentuk penghargaan terhadap kebebasan beragama dalam konteks kultural.

Berdasarkan paparan tersebut, kebebasan beragama adalah niscaya baik secara filosofis, teologis, sosiologis, maupun kultural adalah sebuah keniscayaan.

Kebebasan beragama dalam artian yang sebenarnya merupakan hak asasi setiap manusia sebagai makhluk merdeka, makhluk pendamba kebenaran, dan makhluk yang membutuhkan kedamaian.

Jika perbedaan adalah keniscayaan, maka tindakan arif untuk menyikapi perbedaan adalah kemestian. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *