Wed. Apr 8th, 2020

BLAM

KEREN

“Dara(H), Agamamu Apa?”

5 min read

Sumber gambar: Benangmerahdasi.com

4,711 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Inilah sebuah kisah, tentang seorang ara yang berniat mendonorkan darahnya. Pada suatu hari, dara yang bernama Dara itu, mesti melakukan satu tindakan donor darah atas nama kemanusiaan.  Seorang pasien di sebuah Rumah Sakit tengah membutuhkan darah. Setelah diuji, darahnya Dara dengan darah si pasien, bergolongan sama.

Klop. Tak ada lagi persoalan. Akan tetapi, keinginan untuk menolong itu, berganti dengan rasa kaget, ketika keluarga pasien mengajukan tanya: “Dara(H), agamamu apa?”

Bukan kali pertama, Dara mendonorkan darahnya. Sebagai anggota Palang Merah Remaja, mendonorkan darah rutin dilakukan.  Tetapi inilah pertama kali agamanya dipertanyakan ketika akan mendonorkan darahnya. Bingung? Tentu saja. Dalam benaknya melingkar-lingkar pertanyaan, apakah darah harus beragama tertentu untuk dapat meringankan sakit seseorang?

Kisah ini diceritakan oleh salah seorang peserta Pelatihan Menulis yang diadakan salah satu lembaga di Makassar. Saya mendengar cerita itu, karena kebetulan saya diikutkan menjadi teman diskusi para teman muda yang akan meriset sekaligus menulis tersebut.

Cerita itu, menurut sang empunya, nyata adanya. Soal nama ‘Dara’, sang pendonor darah dalam cerita, tentu saya telah ikut campur memodifikasinya.

Ketika mendengar cerita itu, saya lalu teringat dengan meme yang sering muncul di media sosial. Meme itu menggambarkan seseorang yang akan menolong orang lain yang kelelap di laut. Tinggal hitungan menit, yang akan ditolong segera ditelan ganasnya ombak.  Tetapi pada saat ingin menolong, si orang tersebut bertanya dulu: “Agamamu apa?” “Aliranmu (paham agamamu) apa?” Dan seterusnya.

Kisah soal donor darah, seorang dara yang bernama Dara tadi, jika dilanjutkan, mungkin saja akan disusul pertanyaan berikutnya:  Kalau Agamamu Islam, Islam apa? Sunni, Syiah apa Islam Nusantara? Kalau Sunni, apakah Salafi, NU atau Muhammadiyah? Entahlah….!

Kisah donor darah, yang darahnya harus jelas agamanya itu, sebenarnya sudah terbenam dalam ingatan saya. Saya juga tidak pernah mengecek lagi, apakah sudah diriset dan ditulis oleh teman yang menceritakan kisah ini pada pelatihan tersebut.

Cerita tentang donor darah, yang harus jelas dari darah orang muslim ini, kembali muncul setelah seorang teman bercerita tentang foto spanduk yang dilihatnya kembali berseliweran di media sosial. Spanduk itu dengan terang mengumumkan ke publik bahwa sedang dilakukan “Donor Darah Syar’i. Hanya Menerima Pendonor dari Kalangan Muslim.”

Entah dari mana ide yang mempertanyakan agama seseorang dalam donor darah. Kita pun tidak pernah dijelaskan lebih jauh apa yang menjadi dasarnya, sehingga hanya mau menerima donor darah dari sesama muslim.

Apakah ada kemungkinan mereka menganggap darah orang selain muslim najis, karena telah mengonsumsi makanan yang diharamkan dalam Islam? Atau, mereka tidak ingin darahnya tercampur dengan darah orang-orang yang mereka kategorikan kafir? Siapa tahu dalam asumsi mereka, ketika darah telah bercampur, maka darahnya tidak murni lagi Islam.

Pendapat Ulama

Dalam keterbatasan penelusuran saya, sejauh ini literatur Islam tidak pernah melarang mendonorkan darah atau menerima darah dari non muslim.

Abdullah bin Baz, ulama yang terkenal menjadi rujukan Salafi (Wahabi), pun menyatakan tidak masalah melakukan donor darah jika dibutuhkan, dan telah diputuskan dokter.

Asal-muasal darah juga tidak dipilah-pilih dan dipermasalahkan. Mau dari istri ke suami dan sebaliknya, dari suami ke istri, atau dari orang lain, bukanlah persoalan. Bahkan, Bin Baz menyebut, “…Aw min kaafirin ilaa muslim, aw min muslim ilaa kaafirin, laa ba’sa bihaza ; […(Donor darah) Dari non muslim ke muslim atau sebaliknya, tidak ada masalah dalam hal ini].”

Para ulama rata-rata membolehkan donor darah beda agama ini, karena darah sepanjang masih berada dalam tubuh manusia, bukanlah najis. Ada pun penyebutan kafir pada seseorang yang bukan muslim, tidak berarti bahwa tubuh orang itu kafir dan najis.

Penyebutan itu bermakna majasi, dan bukan bermaksud membidik jasad manusia. Tubuh manusia dan seluruh organ yang ada di dalamnya, termasuk darah, adalah ciptaan Tuhan. Semua tubuh sama, berasal dari tanah.

Pertimbangan lain, mendonorkan darah dan menerima darah adalah salah satu tindakan untuk menyelamatkan jiwa.  Sementara menyelamatkan jiwa (hifz nafs) dalam aturan syariat, menjadi yang paling utama, dan menempati urutan puncak.

Menjaga keselamatan jiwa bisa masuk kategori darurat. Sementara dalam kondisi darurat, jangankan yang halal,  syariat bahkan memberikan kemungkinan seseorang untuk melabrak yang terlarang.

“Wa laa muharramun maa idtiraar (tidak ada yang diharamkan di saat darurat), begitu kaidah fikihnya. Dalam legal maxim, fikih yang lain disebut pula: Al-Daruraat tubihul mahtsuraat (darurat membolehkan sesuatu yang terlarang). Itulah mengapa seseorang bisa saja memakan makanan yang haram atau melakukan tindakan yang dilarang agama, demi untuk menyelamatkan nyawanya.

Tembok Identitas

Sejauh yang saya ingat, kasus mempertanyakan “identitas dan agama darah itu apa”, tidak pernah muncul pada waktu-waktu lampau.

Alisa Wahid dalam tulisannya di Kompas (1/12/2019), menyatakan; Saat ini pertanyaan “Apa Agamamu?” menjadi patokan untuk menilai yang lain, sekaligus dasar dalam membangun hubungan sosial. Pertanyaan yang dulu dianggap absurd, kini menjadi kelaziman.

Alisa Wahid menengarai munculnya sikap mempertanyakan agama seseorang, termasuk dalam kasus donor darah ini adalah cermin dari semakin menguatnya eksklusivisme. Kebersamaan sebagai satu bangsa telah sirna.

Saat ini, yang terbangun adalah kotak-kotak yang menyekat berbagai kelompok manusia. Yang terpancang adalah tembok yang membatasi pergaulan antara sesama insan.

Tri ukhuwah yang diperkenalkan KH Ahmad Siddiq, yakni: Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan atas dasar Islam), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan berbasis kebangsaan), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan atas nama kemanusiaan), kini yang tertinggal hanya Ukhuwah Islamiyahnya.

Sementara persaudaraan atas dasar kebangsaan dan kemanusian mulai dilupakan. Ukhuwah Islamiyahnya pun sepertinya juga setengah hati. Untuk menjalin Ukhuwah Islamiyah, sering kali orang masih cerewet mempertanyakan, Islamnya Islam apa? Apakah Sunni, Syiah, Ahmadiyah, Islam Nusantara, dan seterusnya.

Inilah era, di mana identitas adalah segala-galanya. Bendera harus semakin jelas. Identitas kelompok harus semakin tegas, menyelisihi kaum lain mestilah terang benderang dikumandangkan. Situasi yang  terasa ganjil, di tengah dunia yang justru semakin membaur.

Menegaskan identitas, bagi sebagian kelompok, erat kaitannya dengan pemahaman adanya identitas yang murni. Padahal, menurut Amartya Sen (2016), asumsi tentang adanya identitas yang murni, ajek, baku, dan tetap hanya sekadar ilusi.

Ilusi semacam ini muncul, ketika terjadi persaingan yang akut, atau setidaknya, merasa sedang bersaing. Dalam kasus di Indonesia, kemungkinan mereka hanya ‘merasa’ sedang melangsungkan pertarungan dengan agama yang berbeda. Bukan kontestasi yang sesungguhnya.

Tentu identitas itu penting. Sebab, di dalam dan melalui identitas itulah, satu kelompok bisa ditandai, baik secara simbolik maupun secara sosial-budaya. Yang problem jika mengasumsikan adanya identitas yang murni dan superior.

Cara pandang seperti tidak hanya kesulitan untuk berbaur dengan kelompok yang berbeda, tetapi juga bisa menganggap identitas lain tidak punya arti apa-apa.

Maka, selain membangun tembok pemisah yang semakin tebal, kelak di suatu saat, juga bisa menghunus tombak atas nama kemurnian identitas itu.

Awalnya hanya kemurnian darah yang dipertanyakan, di belakang hari darahnya sendiri bisa jadi halal ditumpahkan.  Wallahu a’lam. Semoga yang terakhir ini, juga hanya sekadar ilusi saya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *