Wed. Apr 8th, 2020

BLAM

KEREN

Rapat Perdana BLAM Bahas Soal Tukin dan SKP

2 min read

Rapat perdana BLAM di aula kantor, Rabu, 8 Januari 2020. Foto: Fauzan

2,913 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Beberapa perubahan terkait masalah administrasi, hingga persyaratan mendapatkan tunjangan kinerja (tukin) pada 2020, membuat Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, mengadakan rapat umum.

Rapat umum perdana yang melibatkan seluruh peneliti dan pegawai di lingkungan BLAM ini digelar di aula kantor, Rabu pagi, 8 Januari 2020.

Rapat ini membahas, antara lain, perubahan model catatan harian ke catatan bulanan, perubahan tata cara pembayaran tunjangan kinerja, dan pembuatan SKP (sasaran kerja pegawai).

“Untuk tahun 2020, model catatan harian tidak lagi dibuat dalam bentuk catatan per hari seperti yang selama ini kita lakukan, melainkan dalam bentuk bulanan. Namanya pun berganti menjadi catatan bulanan,” kata Saprillah.

Menurut Saprillah, catatan bulanan adalah apa yang peneliti maupun pegawai kerjakan pada saat bulan berlangsung.

“Misalnya, apa kegiatan kita di bulan ini, maka kegiatan itu kita masukkan ke dalam catatan bulanan. Tetapi harus diingat, catatan bulanan yang kita buat itu mesti berbasis SKP,” tegas Pepi, sapaan akrab Saprillah.

Ia lalu mencontohkan. Bagi peneliti yang bertugas menjadi koordinator penelitian, maka di catatan bulanannya nanti menuliskan membuat DO (Desain Operasional), sepanjang di bulan itu memang tengah membuat DO, serta rentetan tugas koordinator penelitian lainnya. Demikian pula, ketika merevisi laporan penelitian, peneliti juga menuliskan merevisi laporan pada catatan bulanannya.

“Intinya, apa yang dibuat pada catatan bulanan, harus disesuaikan dengan kegiatan yang kita lakukan. Dengan kata lain, apa item yang kita kerjakan pada bulan itu. Tetapi, harus diingat lagi, setiap kegiatan yang dilakukan itu, harus juga dibuktikan dengan dokumen kegiatan yang kita kerjakan. Misalnya disertai foto kegiatan, notulensi, surat kegiatan, dan sebagainya,” katanya.

Mengenai pemberian tukin, kata Saprillah, ada perbedaan tahun 2020 dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika selama ini menganggap tukin sama dengan gaji, maka tahun 2020 pemberian tukin akan didasarkan pada kinerja peneliti dan pegawai. Bahkan, Saprillah akan memberlakukan sistem punishment dan reward kepada “anak buahnya”.

“Pada tahun sebelumnya, kita diberikan tukin berdasarkan absensi dan catatan harian yang kita kerjakan. Tahun ini (2020), pemberian tukin berdasarkan pada kinerja pegawai dan SKP. Boleh jadi, kalau SKP terlihat menurun dibanding tahun sebelumnya, pegawai bersangkutan akan mendapatkan kerugian, seperti grid-nya diturunkan dan jumlah tukin yang diterima berkurang,” ujar Saprillah. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *