Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Moderasi Beragama: Jalan Tengah Keberagamaan yang Sehat

4 min read

Sumber gambar: republika.co.id

4,132 total views, 4 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Dua Pola Keberagamaan Manusia

Pakar psikologi agama, Gordon W. Alport, menjelaskan, pola keberagamaan manusia memiliki dua kecenderungan, yaitu ekstrinsik dan intrinsik. Keberagamaan ekstrinsik adalah pola keberagamaan yang lebih menonjolkan bentuk-bentuk luar dari agama.

Sementara, pola keberagamaan ekstrinsik, fokus pada pemaknaan literer atas dogma, simbolik, dan formalistik. Dogma, hukum, dan ritus keagamaan dimaknai secara kaku dengan tafsir tunggal dan menegasi keragaman tafsir maupun ekspresi. Aspek lahir (eksoteris) dari agama menjadi penekanan utama dan cenderung mengabaikan aspek batin (esoteris)

Berkebalikan dengan pola ekstrinsik yang mengutamakan aspekeksoteris, keberagamaan intrinsik memandang aspek eksoteris dari agama adalah jalan untuk menyelami kedalaman inti esoteris dari agama.

Aspek esoteris dipandang sebagai inti dari agama, karena agama tidak sekadar dimaknai sebagai pengamalan hukum dan ritus, tapi juga penghayatan atas nilai terdalam dari agama.

Pola keberagamaan intrinsik menekankan pada aspek substansi dengan menghayati kedalaman nilai agama yang adiluhung. Dogma, hukum dan ritus dimaknai sebagai jalan untuk membentuk pribadi yang bijaksana. Keberagamaan intrinsik mengarahkan pada kematangan beragama yang bersikap terbuka pada keragaman fakta dan nilai.

Pada pola keberagamaan intrinsik, agama dipandang sebagai comprehensive commitment dan driving integrating motive. Agama diterima bukan hanya sekadar sebagai pemandu, tapi juga sekaligus sebagai pemadu (uniflying factor). Implikasi dari pola keberagamaan ini secara eksternal adalah keberagamaan yang inklusif dan toleran.

William James, seorang pakar filsafat agama diakhir abad 19, membuat kategori keberagamaan yang sehat (Healthy minded) dan keberagamaan yang sakit (sick soul).

Tanda-tanda keberagamaan yang “sehat”, yaitu sikap dan pandangan dunia (world view)  yang optimistik, inklusif, dan memiliki sense of humor. Sedangkan ciri keberagamaan yang “sakit” adalah pandangan dunia (world view  yang bercorak pesimistik, ekslusif dan agresif.

Moderasi Beragama

Moderasi beragama yang dicanangkan sebagai agenda besar kementerian agama dalam dua tahun terakhir, sejalan dengan upaya membangun keberagamaan yang intrinsik dan sehat secara individual maupun sosial.

Moderasi beragama berbasis nilai universal agama mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam buku Moderasi Beragama yang diterbitkan kementerian agama, moderasi beragama disebut sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku di tengah-tengah di antara pilihan ekstrem yang ada. Pilihan ekstrem yang dimaksud adalah ekstrem kanan, yaitu fundamentalis dan ekstrem kiri, atau liberalis dalam beragama.

Di antara maksud dari jalan tengah tersebut adalah aspek kemanusian menjadi bagian esensial yang juga sangat ditekankan, sebagaimana penekanan pada aspek ketuhanan dari dogma dan hukum agama. Beragama dimaknai sebagai sikap berpaling kepada Tuhan, sekaligus berpaling kepada manusia, dengan tanpa mendikotomikan keduanya.

Secara praktik individu, moderasi beragama meniscayakan penghayatan yang mendalam terhadap nilai agama bukan sekadar menjalankannya secara formal. Sejalan dengan pola keberagamaan intrinsik yang disebut oleh Alport, moderasi beragama adalah sikap kesalehan beragama yang tak terjebak pada keberagamaan yang simbolik dan formalis.

Praktik ini menuntun pada  pencapaian dua kesalehan secara berkelindan, yaitu kesalehan ritual dan kesalehan sosial.

Moderasi beragama menekankan sinergitas antara aspek formal dan substansial dari agama, yaitu syariat dan akhlak. Praktik moderasi beragama secara individual menggambarkan komitmen keberagamaan yang komprehensif yang memandu dan memadu keseluruhan motif keberagamaan secara integratif.

Sebagai keberagamaan yang sehat, moderasi beragama melahirkan spiritualitas keagamaan substantif dan progresif. Substantif dalam artian spiritualitas yang dibangun menelisik pada kedalaman batin melalui penghayatan penuh pada nilai-nilai keagamaan yang agung.

Spiritualitas tersebut, kemudian tereksternalisasi dalam laku hidup yang progresif dan kontributif dalam menerapkan nilai-nilai kemanusian dalam kehidupan sosial. Keberagamaan yang sehat memantik kecerdasan spiritual yang di antara pencirinya adalah sense of knowledge, sense of humanity, sense of humor, dan sense of knowledge.

Orang yang beragama secara moderat memiliki semangat keingintahuan yang tinggi dan mendorong pada pemahaman yang lebih mendalam, sehingga tidak terjebak pada kesimpulan dan tindakan tanpa dasar pengetahuan yang jelas.

Sense ini terimplementasi dalam menyikapi perbedaan. Orang yang moderat dengan sense of knowledge-nya berusaha untuk menyelami makna dari setiap perbedaan yang ada. Perbedaan tidak untuk dipertentangkan, melainkan disikapi secara arif melalui sense of knowledge untuk mencari titik persamaannya.

Orang yang beragama secara moderat, sense of humanity akan menuntunnya untuk melampaui sekat-sekat perbedaan. Sense of humanity melahirkan penghargaan kepada manusia sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Memperlakukan manusia secara non diskriminatif tanpa memandang perbedaan identitas keyakinan.

Sense of humanity mendorong pada penghormatan atas praktik keberagamaan orang lain yang berbeda keyakinan, karena ajaran sejati setiap agama tak mengenal paksaan.

Sebagaimana disebut William James, penciri keberagamaan yang sehat di antaranya memiliki sense of humor. Humor adalah bagian sangat penting dari kecerdasan dan kearifan, karena dengan humor kita dapat berinteraksi dengan siapa pun tanpa memandang perbedaan keyakinan sekali pun.

Orang yang moderat dengan pengetahuan dan rasa kenanusiaannya akan mengonstruksi keagamaan bukan sebagai dogma ajaran yang menegangkan apalagi menakutkan. Mereka menghayati dan mengamalkan agama dengan lebih rileks, nyaman, dan bahagia dengan tentu saja tanpa menghilangkan esensi sakral dari pengamalan agama.

Keberagamaan yang Sehat, Umat pun Rukun

Sikap moderat dalam beragama adalah model keberagamaan jalan tengah, yang melahirkan pola keberagamaan yang sehat. Hal ini menjadi kata kunci bagi terciptanya suasana kehidupan antarumat yang toleran.

Toleransi di sini tidak sekadar dimaknai sebagai sikap penerimaan yang pasif untuk tidak saling mengganggu. Lebih dari itu, terwujud dalam bentuk ko-eksistensi aktif dalam keragaman, dengan meminjam istilah Nurcholish Madjid, yaitu untuk membangun perbedaan menuju ikatan-ikatan keadaban.

Sikap sosial dari moderasi beragama sebagai keberagamaan yang sehat adalah menerima realitas agama yang majemuk sebagai fakta yang tak dapat disangkal, serta mustahil untuk dipersatukan. Mempersoalkannya berarti memicu masalah, sedangkan berusaha mempersatukannya adalah melawan sunnatullah.

Sementara itu, kita semua butuh akan tata dunia damai yang dilandasi nilai-nilai kesetaraan, pembebasan, dan keadilan. Dengan demikian, dalam konteks masyarakat multikultural seperti Indonesia, bukan lagi menjadi pilihan melainkan sebuah keharusan.

Sebagai jalan tengah, moderasi beragama memungkinkan antarumat beragama untuk hidup bersama secara damai dan harmoni. Perbedaan diterima bukan lagi sekadar pengakuan dan keterbukaan menerima yang lain, tetapi juga ikut mendukung, merawat, dan merayakan perbedaan.

Moderasi beragama memantik kebesaran hati untuk menerima ragam perbedaan. Secara aktif diwujudkan melalui usaha untuk saling memahami dengan dialog yang intensif dan kerjasama yang aktif.

Dialog intensif bertujuan mendewasakan melalui pemahaman dan penerimaan bersama dalam ruang perbedaan. Kerjasama aktif dalam rangka membangun kebaikan bersama untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Umat Rukun, Indonesia Maju! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *