Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Bertasbih Mendatangkan Pertolongan Allah

5 min read

Sumber gambar: Babab.Net

7,219 total views, 88 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Allah Swt. memerintahkan agar manusia bertasbih kepada-Nya. Perintah itu dapat dilihat pada permulaan surah Al-A‘la. Sabbihisma rabiikal a‘la (Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi) (surah Al-A‘la/87:1).

Perintah bertasbih juga dapat dilihat pada akhir surah Al-Waqi‘ah. Fasabbih bismi rabbikal ‘azhiim, yang artinya, Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar (surah al-Waqi‘ah/56: 96).

Perintah dengan lafaz serupa juga terdapat pada ayat 74 dari surah Al-Waqi‘ah. Letak ayat pada tiga tempat yang berbeda itu; (1) di permulaan, (2) di tengah, dan (3) di akhir surah; menunjukkan bahwa perintah ini perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari orang beriman.

 Makna Tasbih   

Bertasbih dapat dipahami dengan beberapa pengertian. Di antaranya, Pertama, mengucapkan Subhaanallah. Artinya, Mahasuci Allah. Dengan membaca lafaz ini seorang Muslim memantapkan keyakinan di dalam hatinya bahwa Allah Swt. tidak memiliki kekurangan dan kelemahan.

Ditegaskan di dalam Al-Qur’an, Inna rabbaka fa‘aalun limaa yuriid (Sungguh, Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki) (Hud/11: 107). Allah Swt. berbeda dari makhluk-Nya.

Ini sejalan dengan ayat yang menyatakan, Laisa kamitslihi syai’un wa huwas samii‘ul ‘aliim  (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui) (asy-Syura/42:11).

Bagi Muslim, ucapan subhaanallah memantapkan keyakinan akan keesaan Allah Swt. Pemeluk Islam menjauhkan dirinya dari keyakinan yang tidak pantas bagi Allah Swt. Sikap yang demikian itu mengacu pada firman Allah Swt. Di antaranya, Subhaanallahi ‘ammaa yusyrikuun. Artinya, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan (al-Hasyr/59: 23).

Kedua, ‘bertasbih’ mengandung arti ‘menunaikan salat’. Artinya, bila seorang Muslim menunaikan salat berarti ia melaksanakan perintah bertasbih. Perintah tersebut sesuai dengan ayat Al-Qur’an yang menyatakan, wa sabbih bihamdi rabbika qabla thuluu‘isy syamsi wa qablal guruub (dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam) (Qaf/50: 39).

Ayat ini sejalan dengan beberapa ayat lainnya dan hadis Nabi Muhammad Saw. yang mengandung perintah salat pada waktu-waktu yang ditentukan. Termasuk di antara waktu-waktu tersebut adalah Subuh (sebelum matahari terbit) dan Asar (sebelum matahari terbenam).

Umat Islam disunatkan membaca tasbih pada waktu menunaikan salat. Bacaan pada waktu rukuk, di antaranya, Subhaana rabiyal ‘azhiim atau Subhaana rabbiyal ‘azhiimi wa bihamdih. (Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung dan segala puji bagi-Nya).

Adapun bacaan pada waktu sujud yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw., antara lain, Subhaana rabbiyal a‘la atau Subhaana rabbiyal a‘la wa bihamdih (Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi dan segala puji bagi-Nya). Dengan membaca lafaz tasbih tersebut orang yang menunaikan salat mengamalkan perintah Allah Swt., yakni Fasabbih bismi rabbikal ‘azhiim dan Sabbih isma rabbikal a‘la. Bacaan itu dipilih sesuai tuntunan Rasulullah Saw.

Kaitan antara perintah bertasbih dan bersujud ditegaskan di dalam Al-Qur’an. Firman Allah Swt., Fasabbih bihamdi rabbika wa kun minas saajidiin. Artinya, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang-orang yang bersujud (salat) (Al-Hijr/15: 98).

Pengamalan dari perintah tersebut di kalangan umat Islam mempunyai dua bentuk, yaitu ucapan dan perbuatan. Keduanya sering dilaksanakan pada saat yang bersamaan, yakni bersujud sambil membaca tasbih.

Di dalam Al-Qur’an dikemukakan beberapa penjelasan yang terkait dengan perintah bertasbih. Di antaranya, (1) Allah Swt., menciptakan manusia; (2) Allah Swt. memberi berbagai kemudahan bagi manusia dalam menjalani kehidupannya, seperti penciptaan tumbuh-tumbuhan, air, dan api.

Selain itu, (3) Allah Swt. menentukan ajal bagi manusia; (4) Manusia tidak mampu melawan ketentuan Allah Swt. yang menetapkan ajal bagi manusia; dan (5) Manusia  akan dibangkitkan pada hari kebangkitan dan akan diberi balasan sesuai amal perbuatannya.

Surga disiapkan bagi hamba yang taat, sedangkan neraka disiapkan bagi hamba yang ingkar dan membangkang. Itu antara lain penjelasan yang terkait dengan perlunya manusia bertasbih. Beberapa keterangan tersebut dapat dilihat pada permulaan surah Al-A‘la dan surah Al-Waqi‘ah.

Sesudah salat fardu disunatkan pula membaca tasbih (Subhaanallah) 33 kali, tahmid (Alhamdu lillah) 33 kali, dan takbir (Allahu Akbar) 33 kali.

Sementara itu, sesudah salat sunat (witir) disunatkan membaca tasbih tiga kali. Lafaznya, Subhaanal malikil qudduus (Mahasuci Raja Yang Maha Kudus) (an-Nawawi, t.th.: 68 dan 83).

Dengan demikian, ada ucapan tasbih yang diintegrasikan ke dalam salat dan ada ucapan tasbih di luar salat.

Pada waktu mengakhiri suatu pertemuan disunatkan juga membaca zikir dan doa. Di antaranya, Subhaanaka allaahumma wa bihamdika, asyhadu anlaa ilaaha illaa anta astagfiruka wa atuubu ilaik (Mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu, tidak ada tuhan yang patut disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu).

Dalam hadis itu dijelaskan pula bahwa dengan lafaz itu dosa yang timbul pada majelis itu diampuni oleh Allah Swt.

Demikian keutamaan zikir dan doa berdasarkan hadis Rasulullah Saw. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan beberapa periwayat hadis lainnya  sebagaimana dimuat dalam kitab al-Adzkaar (An-Nawawi, t.th.: 264-265).

Lafaz zikir dan doa di atas mengandung tasbih, tahmid, syahadat (tahlil), dan istigfar. Perpaduan seperti itu dijumpai pada sejumlah lafaz zikir dan doa. Ini merupakan penerapan dari perintah bertasbih di dalam Al-Qur’an.

Di antaranya, Fasabbih bihamdi rabbika wastagfirhu innahuu kaana tawwaaban (Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Menerima Taubat) (an-Nashr/110: 3).

Lafaz tasbih yang dirangkaikan dengan tahmid, tahlil dan takbir dianjurkan untuk diperbanyak. Lafaznya, Subhaanallah walhamdu lillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.  Ini dianjurkan untuk dibaca beberapa kali pada pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha.

Lebih dari itu, terdapat salah satu jenis salat sunat yang disebut salat tasbih. Dalil dan tata cara salat sunat tasbih diterangkan dalam hadis riwayat Imam Abu Daud (Arraiyyah, 2016: 198).

Tasbih Mendatangkan Ampunan dan Pertolongan

Secara umum, mengucapkan lafaz zikir mendatangkan ampunan dan pahala. Keduanya adalah anugerah. Allah Swt. menyediakan dua macam anugerah itu kepada sejumlah golongan manusia. Salah satu di antaranya adalah orang-orang yang banyak berzikir, laki-laki maupun perempuan (Al-Ahzab/33: 35).

Secara khusus, terdapat hadis Rasulullah Saw. yang menyebut keutamaan tasbih. Hadis yang dimaksud, artinya, Seseorang yang membaca tasbih seratus kali dituliskan baginya seribu kebaikan atau dihapuskan baginya seribu dosa.

Demikian sabda Rasulullah Saw. di hadapan beberapa orang sahabatnya seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadis itu dimuat dalam kitab Raiyaadhus Shaalihin (an-Nawawi, II,  2004: 190). Ini sejalan dengan firman Allah Swt. yang menyatakan bahwa setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan ( Al-An‘am/6: 160).

Dalam riwayat yang lain, Imam al-Bukhari dan Imam Muslim menyampaikan sabda Rasulullah Saw. yang menjelaskan keutamaan lafaz tasbih yang dirangkaikan dengan tahmid.

Hadis yang dimaksud artinya, Barang siapa mengucapkan Subhaanlaah wa bihamdih seratus kali, dihapuskan kesalahnnya kendatipun seperti buih di laut. Hadis ini dimuat dalam kitab Buluugul Maraam (Al-‘Asqalani, t.th.: 346). Kandungan hadis ini sejalan sifat Allah Swt. Yang Maha Pengampun.

Orang yang melakukan kesalahan dianjurkan untuk memperbanyak tasbih. Ini sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Nabi Yunus a.s. ketika ia ditelan oleh ikan.

Berkat tasbih yang ia lakukan, maka ia selamat dan dikeluarkan dari perut ikan. Al-Qur’an menjelaskan, yang artinya: Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan (ash-Shaffaat/37: 143-144).

Surah ash-Shaffaat, ayat 143-144, mengandung pesan bahwa memperbanyak bacaan tasbih menyebabkan datangnya pertolongan dari Allah Swt.

Pesan itu mengingatkan tentang sesuatu yang telah terjadi. Ayat ini menjadi landasan untuk memperbanyak zikir guna menghindari kesulitan, mengatasi kekhawatiran, dan meraih kemaslahatan bagi diri sendiri atau masyarakat.

 Zikir dapat dilakukan sendiri-sendiri atau berkelompok. Kelompok zikir, tadarus atau pengajian di sejumlah negeri, terbukti sangat efektif dalam memelihara keimanan mereka. Mereka mampu melewati keadaan yang tidak menyenangkan, di tengah kehidupan yang dipengaruhi pandangan hidup yang materialistis dan sekuler.

Mereka memiliki daya tahan iman, seperti dibuktikan oleh komunitas Muslim di Cape Town, Afrika Selatan.

Di kota ini dan sekitarnya, umat Islam giat melakukan kegiatan zikir bersama. Mereka mampu melewati masa penjajahan yang panjang dan diskriminasi di bawah pemerintahan Apartheid pada masa silam. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *