Tue. Jan 21st, 2020

BLAM

KEREN

Perayaan Tahun Baru: Antara Budaya dan Agama

5 min read

Sumber gambar: Tribunnews.com

3,292 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Setiap momen pergantian tahun selalu saja masyarakat Indonesia, khususnya kaum Muslim terlibat pada polemik yang berulang tentang boleh tidaknya merayakan pergantian tahun Masehi. Kalangan yang pro berargumen, perayaan tahun baru sah-sah saja karena hal ini adalah peristwa kebudayaan demi menyambut tahun yang baru.

Sementara mereka yang kontra berdalih, perayaan tahun baru tidak memiliki landasan dalil dalam agama. Terlebih lagi, jika yang dirayakan adalah tahun Masehi, yang notabene berasal dari ajaran agama Kristen.

Kelompok ini berargumen, merayakan tahun baru Masehi berarti meniru budaya agama lain, dan hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.

Sebagian yang kontra terhadap perayaan tahun baru berteriak di sosial media, mengharamkan ucapan selamat tahun baru, karena menganggapnya tahun kafir.

Tak ketinggalan pula, penceramah yang dengan penuh semangat mengingatkan umat untuk tidak ikut dalam perayaan tahun baru Masehi, lantaran haram hukumnya dalam agama.

Kelompok Muslim yang menolak bahkan mengharamkan perayaan tersebut menunjuk pada cara mereka yang mengekspresikan kegembiraan tahun baru dengan beragam gaya dan cara yang aneh.

Misalnya dengan tradisi meniup terompet, perayaan tahun baru yang identik dengan kegiatan hura-hura mulai dari membunyikan petasan, hingga menenggak minuman keras.

Di malam pergantian tahun, deru kendaraan di jalan riuh membunyikan klakson. Hotel, kafé, diskotik, dan tempat-tempat hiburan malam penuh sesak, dipenuhi oleh mereka yang larut dalam euforia malam pergantian tahun.

Sebagian lagi merayakannya dengan acara bersahaja dan penuh kekeluargaan. Ditemani hidangan gorengan dan jagung bakar, mereka merayakan pergantian tahun bersama keluarga dan tetangga.

Ada juga yang mengisi malam tersebut dengan mengadakan pengajian atau majelis zikir, sebagai cara melawan budaya hedonisme yang marak pada malam pergantian tahun.

Sistem Penanggalan

Terlepas dari kontroversi perayaan pergantian tahun, sistem penanggalan menjadi bagian yang penting dalam keseluruhan sistem sosial-budaya manusia. Pada masa lalu, sistem penanggaan berfungsi untuk menandai hari-hari keagamaan serta untuk menandai dan mencatat peristiwa-peristiwa besar nan penting yang terjadi.

Pada masyarakat tradisional, sistem penanggalan menjadi denyut nadi keagamaan dan sejarah politik mereka. Suatu masyarakat yang memiliki sistem penaggalan menunjukkan ketinggian kebudayaan dan peradaban masyarakat tersebut.

Masyarakat modern memiliki kebergantungan yang lebih pada sistem penanggalan. Bukan hanya berkenaan dengan keagamaan dan sejarah semata.

Seluruh agenda kerja dan perencanaan hidup baik secara indvidu maupun komunal dirancang meggunakan sistem penanggalan yang telah disepakati.

Pada masyarakat modern, sistem penanggalan menjadi denyut nadi seluruh aspek kehidupan mereka. Sehingga, tak mungkin membayangkan adanya suatu masyarakat modern tanpa adanya sistem penanggalan yang mereka gunakan.

Setidaknya, kita mengenal tiga jenis sistem penanggalan yang dipakai manusia hari ini. Pertama, kalender solar (syamsiyah), yang didasarkan pada perputaran bumi mengelilingi matahari. Satu tahun dalam perhitungan kalender solar selama 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari.

Setiap tahunnya berjumlah 365/366 hari, Kalender Hijriah Syamsiah berlaku di Iran, Afghanistan, Uzbekistan, Azerbaijan, serta sistem kalender Jepang menggunakan sistem kalender solar.

Pada kalender ini, pergantian hari berlangsung tengah malam dan awal setiap bulan (tanggal satu), tidak tergantung pada posisi bulan. Kalender Masehi yang jamak digunakan hampir semua negara di dunia menggunakan sistem solar.

Kedua adalah, kalender lunar (qamariyah), yang didasarkan pada perputaran bulan mengelilingi bumi. Waktu satu tahunnya adalah dua belas kali lamanya bulan mengelilingi bumi, yaitu 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik (29,5306 hari) dikalikan 12, menjadi 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik atau 354,3672 hari.

Kalender Hijriyah Qamariyah (Arab) dan kalender Jawa, yang merupakan kombinasi Hijriyah Qamariyah dan kalender Saka, adalah penanggalan dengan sistem lunar.

Ketiga, kalender lunisolar. Ia adalah kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Karena kalender lunar dalam setahun 11 hari lebih cepat dari kalender solar, maka kalender lunisolar memiliki bulan interkalasi (bulan tambahan, bulan ke-13) setiap tiga tahun, agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari.

Yang mengikuti kalender lunisolar adalah Imlek, Saka, Buddha, dan Yahudi. Pada kalender lunar dan lunisolar pergantian hari terjadi ketika matahari terbenam dan awal setiap bulan adalah saat konjungsi (Imlek, Saka dan Buddha) atau saat munculnya hilal (Hijriah qamariyah, Jawa dan Yahudi).

Semenjak peradaban Barat menguasai dunia, sistem penanggalan Masehi kemudian digunakan sebagai standar penanggalan resmi dunia dan secara nasional penanggalan Maeshi dijadikan sistem penganggalan resmi hampir di semua negara.

Beberapa tahun terakhir, negara-negara Arab yang notabene menggunakan sistem penanggalan Hijriyah pun beralih mengonversi penanggalan Masehi sebagai penanggalan resmi negara mereka.

Libur Nasional

Di Indonesia, kita mengenal beberapa penanggalan dan empat di antaranya tahun barunya ditetapkan sebagai hari libur nasional, yaitu tahun Masehi, Imlek, Hijriyah, dan Saka.

Tiga penanggalan menjadi sistem perhitungan kalender keagamaan, Imlek (konghucu), Hijriyah (Islam) dan Saka (Hindu). Tahun baru Masehi merupakan sistem penanggalan umum dan resmi digunakan dalam sistem agenda tahunan masyarakat Indonesia.

Agenda kehidupan masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan penggunaan kalender Masehi. Penanggalan tahun Masehi adalah bagian dari kebudayaan yang tak terpisahkan dari arus perjalanan kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap agenda kegiatan kehidupan, baik agenda pribadi maupun kolektif disusun berdasarkan penanggalan Masehi.

Karena penanggalan Masehi telah menjadi agenda penting dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Memperingati pergantian tahun atau momen tahun baru Masehi harus dimaknai sebagai sebuah peristiwa kebudayaan yang lepas dari latar beakang kalender Masehi yang berakar pada tradisi Roma-Kristen.

Meski mayoritas masyarakat Indonesia adalah Muslim, memperngati malam pergantian tahun tidak serta merta bisa dianggap tasyabbuh atau melakukan penyerupaan terhadap tradisi keagamaan Kristiani.

Sebagai peristiwa kebudayaan an sich, perayaan malam pergantian tahun bagi Muslim Indonesia telah benar-benar lepas dari akar historis penanggalan tersebut yang identik dengan tradisi keagamaan Kristen.

Keseharian yang tak terpisahkan dengan sistem penanggalan Masehi, oleh karena itu, momen pergantian tahun selayaknya menjadi momen penting baik secara individual maupun komunal. Merayakan momen pergantian tahun adalah peristiwa kebudayaan yang di dalamnya tergabung aspek psikologis dan sosiologis.

Melalui momentum pergantian tahun yang dirayakan menjadi pengingat bagi setiap individu untuk merenungi perjalanan hidupnya dalam setahun yang telah lewat. Mengevaluasi hasil kerja dan menyusun rencana kerja untuk tahun yang akan datang.

Momentum pergantian tahun menjadi pemantik untuk merekam kenangan manis maupun pahit yang telah dilalui dalam tahun tersebut. Momentum pergantian tahun juga dijadikan momen menyusun resolusi atau harapan tentang hal baik di tahun yang akan datang.

Berdasarkan penjelasan di atas, perayaan tahun baru sejatinya adalah sebuah peristiwa kebudayaan yang sangat positif.

Jika kita menolak tradisi perayaan tahun baru yang sarat dengan hura-hura dan hedonisme, lawanlah budaya dengan budaya. Lawanlah budaya hedonisme pada perayaan tahun baru dengan menghadirkan budaya yang positif sesuai nilai luhur agama dan budaya kita.

Sejatinya, momentum pergantian tahun bukanlah sekadar euforia, tapi refleksi ke dalam untuk melakukan evaluasi dan membangun resolusi di tahun depan agar menjadi lebih baik. Jika momen perayaan tahun baru diisi dengan rasa syukur, refleksi dan harapan, maka di situ ada kebaikan yang sejalan dengan ajaran agama.

Sungguh celaka mereka yang tahun ini lebih buruk daripada tahun yang lalu. Betapa merugi mereka yang tahun ini sama dengan tahun yang lalu. Beruntunglah mereka yang tahun ini lebih baik daripada tahun yang lalu.

Selamat Tahun Baru 2020! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *