Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

Radikal Bermakna Negatif: Jihad Konfrontatif dan Khilafah (Butuh Kajian Epistemologis)

7 min read

Sumber gambar: nusatenggaracentre.or.id

2,801 total views, 4 views today

Oleh: Badruzzaman (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

 Tulisan terdahulu membahas tentang pemaknaan positif dari kata radikal. Konsep radikal bermakna positif di berbagai aspek kehidupan manusia. Beberapa bukti histori dari aspek kehidupan umat manusia berbeda telah diuraikan, khususnya aspek ilmu pengetahuan, politik, teknologi, ekonomi, dan pendidikan.

Namun, berbeda jika konsep perubahan radikal pada aspek dogmatik. Ia kerap dimaknai negatif. Hal ini disebabkan oleh  dogma merupakan prinsip utama yang harus dijunjung oleh semua umat agama tertentu. Ia mengandung ajaran-ajaran teologi, yang dianggap telah terbukti baik. Sehingga, usulan untuk membantah atau merevisi ajaran-ajaran tersebut dimaknai sebagai keengganan menerima atau keraguan terhadap agama.

Geosentris ke Heliosentris

Galileo Galilei mendapat penolakan dari Gereja Katolik pada abad 15, karena menyinggung salah satu ajaran dogmatik. Penemuan sistem tata surya yang berpusat di matahari (Heliosentris), merupakan perubahan radikal (bertentangan) dengan ajaran dogmatik Gereja Katolik tentang Geosentris. Pandangan Geosentris memandang bahwa, bumi adalah pusat dari alam semesta atau tata surya.

Kepercayaan Geosentrisme meningkat di antara umat Yahudi Ortodoks. Model Geosentrik alam semesta dinyatakan berdasarkan ayat-ayat Al-Kitab dengan menunjuk kepada beberapa nas Al-Kitab.

Nas Al-Kitab tersebut secara harfiah mengindikasikan pergerakan harian matahari dan bulan yang dapat diamati mengelilingi Bumi, misalnya pada Yosua 10:12, di mana Matahari dan Bulan dikatakan berhenti di langit, dan Mazmur 93:1, di mana dunia digambarkan tidak bergerak.

Pemahaman Geosentrik diperkuat oleh penafsiran Maimonides, dikenal sebagai seorang Teolog Yahudi (rabbi), sehingga ia mengajarkan matahari mengitari bumi.

Galileo diserahkan kepada lembaga Inkuisisi Gereja Katolik di Roma. Inkuisisi kemudian menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Galileo pada 1633. Peristiwa lebih sadis diterima oleh Giordano Bruno, filsuf, kosmolog, dan mantan biarawan Dominikan. Ia dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup, karena menghina Kristus dan para biarawan pada 1600 M.

Reformasi Dogmatis

Penolakan terhadap perubahan radikal juga terjadi ketika Martin Luther membentuk Sekte Protestan. Gerakan pemisahan dari Katolik ini disebut Reformasi Protestan di Eropa pada abad ke-16.

Reformasi Protestan lahir sebagai upaya untuk mereformasi Gereja Katolik, diprakarsai oleh beberapa umat Katolik Eropa Barat, yang menentang hal-hal, yang menurut anggapan mereka adalah doktrin-doktrin palsu dan mal-praktik gerejawi. 

Motivasi utama di balik perubahan-perubahan tersebut bersifat teologis. Luther mengawali dengan mengkritik penjualan indulgensi, penghapusan hukuman atau siksa dosa. Sementara (temporal), karena dosa-dosa yang telah mendapat ampunan.

Martin Luther bersikeras, Sri Paus tidak memiliki otoritas atas purgatorium, semacam ritual untuk melegalisasi (pemurnian) seseorang yang telah meninggal dunia agar dapat masuk surga. Ia juga mengoreksi ajaran Katolik mengenai jasa orang-orang kudus. Menurutnya, mereka tidak memiliki landasan di dalam Al-Kitab.

Gerakan reformis Protestan mendapat perlawanan dari Katolik Roma. Pada 1415, Uskup Lodi (kota di Provinsi Lodi, Region Lombardia, Italia) menyampaikan pidato tentang tugas untuk membasmi ajaran sesat.  Jan Hus¸ seorang pemikir dan reformator agama Kristen, yang berasal dari wilayah pemerintahan negara Ceko, dihukum mati.

Kemelut di Gereja Barat dan Kekaisaran Romawi Suci memunculkan konflik. Perang antara negara-negara pendukung Reformis Protestan dengan pendukung Katolik Roma terjadi selama tiga puluh tahun (1618-1648). Perang Tiga Puluh Tahun awalnya dimulai sebagai perang agama, yang tumbuh dari konflik antara Katolik Roma Jerman dan para pemeluk Protestan.

Perang ini dipicu oleh motif persaingan antara Dinasti Habsburg Kekaisaran Prancis dan Wangsa Habsburg. Namun, faktanya adalah, kaum Katolik Perancis mendukung pihak Protestan. Perang ini diakhiri melalui Perjanjian Westfalen.

Keberhasilan Agama Protestan memisahkan diri dan membentuk agama Baru karena didukung oleh sejumlah tertentu negara Eropa. Ini artinya, bahwa gerakan perubahan radikal ini diikuti oleh gerakan politik, sehingga dimaknai sebagai perubahan positif.

 Wahdatul Wujud

Upaya menggagalkan perubahan radikal dalam historical umat Islam pernah terjadi, karena bersentuhan dengan persoalan dogmatik. Abu Abdullah Husain bin Mansur Al Hallaj, atau biasa disebut Al-Hallaj, dihukum mati karena pendapatnya bertentangan dengan akidah Islamiah.

Al-Hallaj mengajarkan praktik kezuhudan. Dalam beberapa kesempatan, ia selalu menganjurkan untuk selalu menyucikan dan menundukkan hati kepada Kehendak Ilahi sedemikian rupa agar diri benar-benar sepenuhnya diliputi oleh Allah.

Selanjutnya, ia berceramah tentang berbagai rahasia alam dan kerahasiaan hati. Akibatnya, ia dijuluki Hallaj Al-Asrar (Sang Penggaru segenap rahasia atau kalbu). Ia memiliki kemampuan untuk mengetahui besitan hati seseorang, sehingga menarik sejumlah besar pengikut. Namun, ucapan-ucapannya yang tidak lazim didengar itu, membuat sejumlah ulama tertentu khawatir. Ia pun dituduh sebagai dukun.

Sesuai menunaikan Haji ke-3 pada 912 M, ia pun memperoleh capaian spiritualitas tertinggi, yaitu kesadaran tentang kebenaran. Al-Hallaj merasakan hijab-hijab ilusi telah terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka dengan sang Kebenaran (Al-Haq). Ia mengucapkan “ Anaa al Haq”.

Pengikut Al-Hallaj semakin banyak. Meskipun beberapa literatur yang menyatakan hukuman mati diperoleh karena adanya gejolak sosial politik karena ketidakpuasan terhadap penunaian kewajiban khalifah ketika itu. Namun, indikasi keterlibatan Al-Halaj menyebarkan pemahamannya, karena dominan pendukung gerakan sosial politik itu adalah murid Al-Hallaj.

Pada 918, ia mulai diawasi oleh khalifah. Al-Hallaj dipenjarakan selama hampir sembilan tahun, karena serangkaian pemberontakan dan upaya kudeta di Baghdad. Akhirnya, Al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak, dan dihukum di atas tiang gantung.

Perubahan yang sama juga terjadi sepanjang sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Raden Abdul Jalil, yang dikenal dengan nama Syekh Siti Jenar, seorang tokoh sufi dan penyebar agama Islam di Kabupaten Jepara, menyatakan diri seperti Al Hallaj. Ajarannya dikenal dengan Manunggaling Kawula Gusti (wahdatul wudud). Syekh Siti Jenar di-vonis mati dalam sidang para wali.

 Nabi Baru

Penolakan terhadap perubahan radikal tentang kenabian pun terjadi. Di masa khalifah Abubakar Ash-Shidiq (setelah Nabi Muhammad saw meninggal), muncul beberapa permasalahan umat Islam. Di antaranya, kemurtadan dan nabi palsu. Mereka berupaya untuk melakukan perubahan ajaran dogmatik Agama Islam tentang kenabian.

Dalam ajaran agama Islam, kenabian terakhir Muhammad saw merupakan salah satu dari bagian keimanan. Nabi Muhammad adalah “khatamul an biya’ (penutup para nabi). Usulan untuk  membantah atau merevisi ajaran kenabian tersebut dimaknai sebagai kemurtadan, karena menyalahi prinsip dasar keislaman seseorang yaitu syahadatain.

Di masa itu, dikenal empat orang yang mengaku sebagai nabi baru. Pertama Al-Aswad Al Ani. Ia adalah pemimipin suku Badui di Yaman. Kedua, Thulaihah bin Thuwaiid Al Asadi, menjaring pengikut dari Bani Asad, Gatafan, dan Bani Amir. Ketiga, Malik bin Nuwairah, pemimpin Bani Yarbu’, ia tidak mengaku Islam setelah Nabi Muhammad meninggal. Keempat, Musialamah Al Kazab, ia telah mendakwahkan dirinya sebagai nabi sejak Nabi Muhammad masih hidup.

Karena gerakan nabi palsu ini dianggap membahayakan kemurnian ajaran Agama Islam, atas saran umat Islam, Abubakar Ahs-Shidiq menyatakan perang terhadap mereka. Ia mengirim pasukan untuk menundukkan keempat orang nabi paslu tersebut.

Antara lain, pasukan Khalid bi Walid ditugaskan untuk menudukkan Thulaiha Al Asadi, pasukan Amer bi Ash menyerang Qudhala’ah, Suwaid bin Mugrim ke Yaman, dan Khalid bin Said ke Syam. Seluruh pasukan Islam berhasil menaklukkan pengikut para nabi palsu.

Perubahan radikal berkaitan dogma kenabian berjalan sepanjang sejarah Islam. Hampir di setiap kurun waktu tertentu, muncul gerakan yang menamakan diri sebagai nabi baru setelah Nabi Muhammad.

Meskipun masih kontroversial, Mirza Ghulam Ahmad, seorang penggerak keagamaan Islam di India. India kala itu merupakan jajahan Inggris  yang membawa pengaruh dan penyebaran agama Kristen. Ia mengaku sebagai mujaddid, Al-Mashih, dan Al-Mahdi.

Mirza juga menyatakan diri mendapat tugas sebagai nabi yang menyatukan umat manusia dalam satu agama. Mirza Ghulam Ahmad menyatakan diri sebagai Al-Masih bagi muat Kristiani, Imam Mahdi bagi umat Muslim, dan Krishna bagi umat Hindu, dan sebagainya.

Perubahan yang sama juga terjadi di Indoensia. Lia Aminuddin, atau dikenal Lia Eden. Wanita ini mengaku telah mendapat wahyu dari malaikat Jibril. Ia mengklaim dirinya sebagai nabi yang membawa aliran baru sebagai pelanjut dari agama-agama samawi, termasuk agama Islam. Ia memilki sejumlah pengikut dari berbagai jenis agama.

Karena ajarannya menyentuh aspek dogmatik agama Islam, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan, Lea Eden menyebarkan aliran sesat dan melarang kegiatan perkumpulan Salamullah pada 1997.

Al-Qiyadah Al Islamiyah, sebuah sekte keagamaan yang melakukan pemaduan  ajaran dari Al-Qur’an, Al-Kitab Injil, dan Yahudi. Pimpinannya, Ahmad Mushaddeq, mengaku telah menerima wahyu yang berupa pemahaman yang benar. Ia menyatakan diri sebagai nabi atau mesias.

MUI telah mengeluarkan fatwa setelah melakukan penelitian selama tiga bulan. Aliran tersebut dinyatakan menyimpang dari ajaran Islam, dan melakukan sinkretisme agama pada 2007. Ahmad Mushaddeq akhirnya dijatuhi hukuman penjara empat tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2008. Terakhir, aliran ini berubah nama menjadi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Dan, masih banyak yang lain yang serupa, baik cakupan gerakannya secara nasional maupun lokal. Seperti Abdul Muhjib di Karawang, Sri Hartati di Pekalongan, Eyang Ende di Banteng, Ashhriyanti Samuda di Kepulauan Sula Maluku.

Jihad Konfrontatif & Pembentukan Khilafah

Fenomena radikal akhir-akhir ini di Indonesia, sangat menarik. Simbolisasi radikal juga berkembang pada kelompok penganut agama yang memiliki pola keagamaan yang dianggap ekstrem. Kelompok tersebut mengusung jihad yang konfrontatif dan upaya pembentukan khilafah.

Sejatinya, permasalahan jihad dan khilafah tidak berkaitan dengan dogma agama tertentu. Perubahan radikal itu tidak bersentuhan dengan ajaran akidah, seperti mengubah dari kepercayaan bahwa Tuhan Maha Tunggal, promosi terhadap adanya nabi baru, dan sebagainya. Kedua fenomena ini merupakan bagian ajaran Fikiah, yang merupakan wadah yang memungkinkan berbeda antara satuan pendapat dan pendapat yang lain.

Pemaknaan Fikiah tentang jihad dan khilafah oleh kelompok tersebut sangat berbeda dengan pemaknaan oleh dominan penganut agama Islam di Indonesia. Perbedaan radikal tersebut menyebabkan  kelompok itu memosisikan dirinya sebagai kelompok ekstrem. Ia merupakan kelompok yang terpinggirkan pada posisi tertentu, karena memiliki pemahaman berbeda dengan mayoritas masyarakat dalam komunitas muslim Indonesia.

Patokan ekstrem dalam konteks Indonesia adalah berdasar pada pemahaman keagamaan dominan masyarakat Islam yang menganut paham Ahlusunnah  Waljamaah. Dasar utama ajaran Ahlusunnah  Waljamaah adalah Al-Qur’an dan Sunnah.

Selain itu, secara khusus di bidang akidah memilih salah satu di antara dua yaitu, al-Asy’ari dan al-Maturidi. Bidang fikih mengikuti paham salah satu mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali, dan tasawuf  mengikuti Imam Junaid al-Bagdadi dan Imam Al-Ghazali.

Fenomena radikal itu memerlukan kajian epistemologi. Kajian mendalam perlu dilakukan untuk memosisikan gejala jihad konfrontatif dan khilafah dalam suatu struktur keilmuan. Pemosisian tersebut tentunya membutuhkan penelusuran terhadap seluruh gejala dan fenomena yang muncul dari gerakan tersebut.

Berdasarkan gejala tersebut, gerakan jihad dan khilafah dapat diposisikan pada bidang keilmuan tertentu, seperti Ilmu Agama, Sosiologi, Antropologi, atau Politik.

Pemosisian tersebut nantinya berakibat pada penggunaan metodologi dan validitas yang tepat untuk mengkaji penyebab munculnya kedua gerakan tersebut. Demikian halnya dengan upaya penanganannya yang lebih jitu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *