Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Semarak Harmoni Natal di Tapal Batas

3 min read

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

6,513 total views, 2 views today

Oleh Sabara Nuruddin (Peneliti pada Balai Litbang Agama Makassar) 

Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang: OM JOKO: dalam Rajutan Harmoni di Tapal Batas Negara. Melalui tulisan tersebut saya menceritakan tentang suasana kerukunan umat beragama di sebuah dusun bernama Dusun Berjoko, Desa Sei Lmau, Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Warga dusun yang terletak tepat di tapal batas negeri antara Indonesia dan Malaysia tersebut membangun suasana hidup guyub antar warga meski berebda agama. Warga dusun yang terdiri atas Islam, Katolik dan Kristen melakukan kerjasama dalam suasana toleransi aktif antar umat dalam ikatan persaudaraan dan ikatan kebangsaan.

Dalam rangka meningkatkan harmoni antar umat yang berbeda tersebut, generasi muda dusun tersebut yang terdiri atas Orang Muda Katolik (OMK) dan Remaja Masjid bermufakat membentuk organisasi bernama Orang Muda Berjoko (OM JOKO).

Bagi masyarakat Dusun Berjoko, momen peringatan hari besar keagamaan, baik Idul Fitri, Idul Adha, Natal maupun Paskah menjadi momen bagi mereka untuk merawat kebhinekaan dan merayakan perbedaan. Momen hari-hari Nasional seperti Peringatan Kemerdekaan dan Sumpah Pemuda menjadi momen untuk merawat nasionalisme dalam ikatan kebhinekaan.

Peringatan hari besar keagamaan baik Islam maupun Kristen menjadi momen indah bagi ikatan harmoni dalam suasana toleransi aktif antar umat. Sebagaimana dituturkan oleh Daniel Lalang, salah seorang tokoh pemuda Dusun Berjoko. Semarak peringatan Natal di Dusun Berjoko dalam beberapa tahun terakhir tidakhanya melibatkan umat Kristiani atau Katolik yang merayakannya, orang-orang Muslim, khususnya kaum muda terlibat aktif dalam suasana perayaan Natal.

Kalangan muda lintas agama di Dusun Berjoko, utamanya yang Muslim terlibat aktif dalam menjaga suasana khidmat saudara-saudara mereka yang sedang khusyuk melaksanakan ibadah Natal. Tanggal 24 Desember malam, ketika umat Katolik sedang khusyuk melaksanakan ibadah misa malam Natal, anak muda Muslim dari remaja masjid yang ada di Dusun Berjjoko melakukan pengamanan di sekitar gereja.

Kehadiran remaja masjid tersebut meski secara simbolik melakukan pengamanan, pada dasarnya kehadiran mereka sebagai wujud solidaritas dan penghormatan kepada saudara mereka yang sedang beribadah hari raya.

Partisipasi kalangan muda Muslim masih berlanjut hingga esok pagi ketika umat Katolik melakukan ibadah misa Natal. Kalangan remaja masjid bertugas menjaga keamanan dan suasana kondusif di sekitar gereja serta mengatur perparkiran jemaat yang melakukan ibadah Natal.

Setelah ibadah misa Natal usai, mereka kemudian berkumpul untuk menikmati kue-kue Natal yang disiapkan. Kue-kue Natal tersebut tidak hanya disiapkan oleh umat Katolik saja. Kue-kue yang dinikmati bersama tersebut juga dibuat bersama oleh ibu-ibu Katolik dan Muslim.

Suasana tersebut digambarkan oleh Daniel Lalang sebagai suasana yang penuh dengan nuansa kekeluargaan, di mana sekat-sekat perbedaan seolah retas dan lebur dalam indahnya persaudaraan dalam bingkai kebhinekaan.

Setelah acara tersebut, silaturahmi dilanjutkan dari rumah ke rumah, warga Muslim mengunjungi rumah saudara mereka yang merayakan Natal. Tidak ada rasa canggung atau berjarak, meski di antara mereka ada perbedaan keyakinan. Semua waga melebur bersama untuk menikmati indahnya kebahagiaan Natal yang dirasakan oleh umat Kristiani.

Jauh di sebuah dusun di pinggir negeri, kita dapat mengambil inspirasi tentang bagaimana membangun harmoni dengan merayakan perbedaan. Warga dusun tersebut tak mengerti tentang teori-teori pluralisme, mutikulturalisme atau toleransi aktif. Namun secara praksis, mereka memberi contoh dan inspirasi bagaimana mengelola perbedaan menjadi khasanah yang indah demi menyemai semangat kebersamaan dalam bingkai kebhinekaan.

Masyarakat Dusun Berjoko mempraktikkan toleransi sebagaimana yang diungapkan Walzer. Toleransi tidak hanya sebatas memperlihatkan pengakuan, tetapi juga keterbukaan pada yang lain, atau setidaknya keingintahuan untuk lebih dapat memahami sang liyan.

Lebih dari itu, masyarakat Dusun Berjoko menunjukkan toleransi bukan lagi sekadar pengakuan dan keterbukaan menerima yang lain, tetapi juga ikut mendukung, merawat dan merayakan perbedaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *