Wed. Feb 19th, 2020

BLAM

KEREN

MASJID TEMPAT BERSUJUD

5 min read

Sumber Foto: Tribun News Com

4,745 total views, 2 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset pada Balai Litbang Agama Makassar)

Penduduk Indonesia umumnya mengenal masjid. Bangunan masjid dapat dijumpai di berbagai kota dan desa di negeri ini. Masjid terdapat di daerah pedalaman maupun pulau-pulau kecil, seperti Pulau Bunaken di Sulawesi Utara. Walaupun demikian, keberadaan masjid di setiap daerah terkait dengan keadaan penggunanya.

Sebagai contoh, menurut buku Profil Kementerian Agama Kabupaten Nunukan 2018, daerah Krayan, di kabupaten itu (Kalimantan Utara), memiliki sedikit masjid. Penduduk setempat belum begitu lama menyaksikan kehadiran masjid di lingkungan mereka.

Itu baru terjadi satu dua dekade terakhir. Itu terjadi setelah kedatangan migran Muslim untuk mencari rezeki atau pegawai pemerintah yang ditugaskan di tempat itu. Hingga saat ini sarana utama transportasi ke daerah ini adalah pesawat kecil yang hanya menampung sekitar sepuluh orang. Frekuensi penerbangan juga masih sedikit.

Keadaan di Krayan agaknya kurang lebih sama dengan  kondisi di beberapa kota di dunia yang sebagian kecil penduduknya menganut agama Islam. Sebagai contoh, di wilayah Kyoto, Jepang, hanya ada satu masjid (2016). Masjid menempati ruang pada satu gedung yang letaknya di tepi jalan yang agak kecil.

Di situ terdapat pula kantor Islamic Cultural Center. Selain itu, di gedung itu disediakan beberapa jenis kebutuhan sehari-hari yang dapat dibeli oleh jamaah, utamanya pangan halal. Tak jauh dari gedung itu, terdapat sebuah restoran yang dikelola oleh pendatang Muslim. Letaknya di tepi jalan besar. Ini berbeda dari wilayah Kobe, di negeri sakura juga, yang sudah memiliki masjid sejak tahun 1935.

Bangunannya cukup megah dan kokoh di pinggir jalan yang cukup lebar. Di sekitar masjid terdapat beberapa toko dan restoran yang dikelola pendatang Muslim yang menyediakan makanan halal. Masjid menyelenggarakan beberapa bentuk pembinaan dan pelayanan umat. Hanya saja masjid di tiga wilayah yang berdekatan; Kobe, Osaka, dan Kyoto; tumbuh perlahan-lahan.

 

Masjid di dalam Al-Qur’an dan Hadis        

Kata masjid sudah diserap dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Asalnya masjidun, yang secara harfiah berarti tempat sujud. Penamaan ini sejalan dengan kedudukan gerakan sujud sebagai salah satu unsur utama  pada pelaksanaan salat.

Salat tidak sah bila orang yang menunaikannya tidak bersujud. Pengecualian dalam hal ini, orang yang terkendala untuk merapatkan dahi di lantai selurus dengan jari-jari kaki karena sakit atau halangan lainnya. Orang yang bepergian dengan pesawat udara dapat menunaikan salat sambil duduk di kursi. Gerakan rukuk dan sujud saat itu cukup dilakukan dengan menundukkan kepala dan badan sebagai isyarat.

Sejalan dengan arti masjid dari segi bahasa, maka Nabi Muhammad Saw. bersabda, Al-Ardhu kulluhaa masjidun, illa al-maqbarata wa al-hammam (Bumi seluruhnya adalah tempat sujud, kecuali pemakaman dan kamar mandi) Hadis ini diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dan beberapa periwayat lainnya.

Maksudnya, umat Islam dapat menunaikan salat di berbagai tempat. Ini merupakan salah satu kemudahan bagi setiap Muslim untuk menunaikan kewajiban keagamaan yang disebut salat.

Dewasa ini bangunan masjid terdapat di banyak negara di berbagai belahan bumi. Fenomena ini meneguhkan pesan Nabi Muhammad Saw. bahwa bumi ini seluruhnya tempat sujud. Pemaknaan terhadap hadis ini secara luas, yakni Muslim ada di mana-mana,  menunaikan salat dan mendirikan masjid.

Al-Qur’an menggunakan kata masjid dalam bentuk kata benda indefinite (tidak tertentu) dan definite (tertentu). Contoh yang disebut pertama terdapat pada ayat yang artinya, Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid (Al-A‘raf/7: 31).

Adapun contoh dari yang kedua terdapat pada ayat yang artinya, Maka hadapkanlah wajahmu ke arah al-Masjid al-Haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu (Al-Baqarah/2: 144). Dengan demikian, orang yang menunaikan salat memastikan bahwa ia menghadap ke arah al-Masjid al-Haram yang di dalamnya ada ka‘bah atau kiblat.

 

Definisi Masjid dan Mushalla

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan arti kata masjid, yakni rumah atau tempat sembahyang orang Islam (1997: 650). Pengertian ini hampir serupa dengan penjelasan kamus bahasa Inggris online yang menyatakan, mosque is a building for Islamic religious activities and worship (Cambridge Dictionary).

Artinya, masjid adalah gedung untuk kegiatan keagamaan Islam dan ibadah. Sementara itu Ensiklopedi Hukum Islam menerangkan arti masjid dengan sebuah bangunan, tempat ibadah umat Islam, yang digunakan oleh umat Islam, terutama sebagai tempat dilangsungkannya salat jamaah (Dahlan, ed., 2000, IV: 1119).

Sesuai kenyataan, masjid pada hakikatnya adalah bangunan atau tempat ibadah yang diperuntukkan secara khusus dan dipergunakan oleh umat Islam untuk menunaikan salat Jumat dan aktivitas keagamaan lainnya.

Bangunan atau ruang diperuntukkan secara khusus. Ini perlu dipertegas. Selain itu, pemanfaatan masjid untuk kegiatan salat Jumat membedakan masjid (mosque) dari mushalla (prayer room atau Muslim prayer room).

 

Pembangunan Masjid

Bangunan al-Masjid al-Haram sudah ada sebelum Nabi Muhammad Saw. dilahirkan (l. 570 M). Di dalam al-Masjid al-Haram terdapat maqam (bekas tempat berdiri) Nabi Ibrahim a.s. sewaktu ia membangun ka‘bah (Ali ‘Imran/3: 97). Ketika Nabi Muhammad Saw. hijrah dari Mekah ke Madinah (622 M), ia singgah di Quba, di luar kota Madinah.

Di sini ia mendirikan masjid yang dikenal dengan nama Masjid Quba (Dahlan, ed., 2000, IV: 1134). Masjid ini bertahan hingga pada waktu sekarang. Setelah itu, Nabi Muhammad Saw. berdiam di Madinah dan membangun masjid di tengah kota. Nama masjid dinisbahkan kepada beliau, yakni al-Masjid an-Nabawi. Masjid ini dianjurkan untuk didatangi juga oleh jamaah haji dan umrah.

Pada waktu sekarang al-Masjid al-Haram dan al-Masjid an-Nabawi tidak pernah sepi dari jamaah dalam waktu dua puluh empat jam. Mereka menunaikan salat, zikir, tadarus, tafakur, dan berdoa di tempat itu. Khusus di al-Masjid al-Haram, jamaah juga menunaikan tawaf dan sai. Intensitas kunjungan umat Islam ke masjid sangat   tinggi. Ini sesuatu yang khas.

Selain itu, jamaah di al-Masjid al-Haram dan al-Masjid an-Nabawi ditandai dengan satu hal pula. Mereka datang dari berbagai negara dengan latar belakang bangsa dan suku bangsa yang beragam.

Hal serupa terjadi di beberapa masjid lain, seperti Masjid Sa‘ad bin Abi Waqqash di Guangzhou (2017), Seoul Central Mosque di ibukota Korea Selatan (2019),  dan Masjid Agung di Taipei  (2019). Salat Jumat diikuti oleh jamaah dengan latar belakang bangsa yang beragam. Fenomena ini sejalan dengan kedudukan Islam sebagai agama universal.

 

Perintah untuk Bersujud

Umat Islam diperintahkan untuk bersujud. Perintah disebutkan, misalnya, pada ayat terakhir dari surah Al-A‘laq, Wasjud waqtarib. Artinya, dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah) (Al-‘Alaq/96: 19).

Ayat ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad Saw. yang menyatakan, Kedudukan seorang hamba yang paling dekat dengan Allah ialah pada waktu bersujud. Maka perbanyaklah doa saat sujud (HR Muslim). Sejalan dengan itu pula, pelaksanaan salat menjadi identitas Muslim dan Muslimah yang perlu ditunjukkan. Caranya dengan mengikuti salat berjamaah di masjid.

Melakukan sujud berarti menunaikan perintah Allah Yang Maha Pencipta. Ini juga merupakan tanda syukur dari hamba kepada Khaliq-nya. Kesyukuran itu tercermin pada doa yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu sujud tilawah (setelah membaca ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an).

Doa yang dimaksud yakni, Sajada wajhiya lilladzii khalaqahu wa syaqqa sam‘ahu wa basharahu bihaulihi wa quwwatihi (Aku sujud kepada Tuhan yang menjadikan diriku, Tuhan yang membukakan pendengaran dan penglihatan dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya). (HR. At-Tirmidzi) (Rasjid, 2012: 104).

Komunitas Muslim yang baru terbentuk di suatu daerah membutuhkan masjid. Kebutuhan tersebut mendorong, misalnya, para migran Muslim untuk mendirikan masjid di tempat yang baru. Kenyataan seperti itu ditunjukkan oleh migran Bugis di banyak daerah di perantauan.

Kebutuhan riil tersebut juga menjadi alasan banyak pegawai untuk mendirikan masjid di lingkungan kerja mereka. Keberadaan masjid dan mushalla di lingkungan sekolah, kantor dan pabrik turut mewarnai kehidupan beragama di Indonesia beberapa dekade terakhir.

_______

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *