Sat. Mar 28th, 2020

BLAM

KEREN

Cadar Yang (Tidak) Dirindukan

6 min read

2,950 total views, 4 views today

Oleh : Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Katanya perbedaan itu indah, tetapi mengapa masih ada sementara orang yang tidak bisa melihat saya berbeda? Mengapa, kala saya mengenakan cadar, orang seakan melihat saya seperti orang asing yang berasal dari negeri antah berantah?

Suaranya semakin lama terdengar semakin muram. Kendati masih berupaya berbicara dengan semangat dan menata kalimatnya dengan runtut, tetapi lamat-lamat, ia tidak bisa menyembunyikan emosi yang sedang bergolak dalam benaknya.

Ada gusar, getir, sekaligus kemurungan dalam nada bicara remaja perempuan bercadar itu. Ia berbicara di tengah-tengah forum. Di bawah alisnya yang melintang rapi, matanya yang elok menentang saya lurus-lurus.

Tetapi sekilas saya memindai sinar mata itu menyeberang jauh, seakan melihat peristiwa yang lain. Boleh jadi peristiwa saat orang-orang yang berada di sekitarnya tidak merindukan keberadaannya, karena curiga dengan cadar yang melekat di parasnya.

Setelah beberapa jenak perempuan muda ini bicara, Ia menjeda kalimatnya, memberi saya waktu untuk menjawab pertanyaannya.  Saya berupaya mencari kalimat yang pas, tetapi sedikit kesulitan. Akhirnya saya bilang,

“Yang tidak menerima perbedaan, berarti tidak dapat mencerap keindahan dalam keragaman tersebut.  Saat ini dan di sini, saya dapat menyaksikan keindahan itu di depan saya, pada dirimu, justru karena engkau berbeda”

Mendengar jawaban saya, Ia sedikit terlihat kikuk, apalagi jawaban saya ditingkahi dengan suit-suit dan tepuk tangan sejawatnya yang lain. Mungkin jawaban saya terkesan gombal, tapi sungguh mati, saya hanya ingin memantik semangatnya. Orang yang kokoh pada prinsipnya harus kita dukung, asalkan hal itu itu tidak membuatnya memandang remeh yang lain.

Tukar kata antara saya dengan remaja bercadar, seorang mahasiswi dari perguruan tinggi Islam ternama di Makassar, terjadi di satu siang yang panas, di aula kantor tempat saya bekerja.

Kehadiran para mahasiswa hari itu menyemarakkan suasana yang gerah, apalagi di antara mereka terdapat perempuan bercadar yang justru dapat berbaur dengan teman-temannya yang lain.

Pertanyaan yang bernada keluhan dari mahasiswi bercadar tadi adalah respons terhadap sikap sebagian kita terhadap para komunitas cadar. Hari-hari terakhir ini, para Muslimah bercadar ini masih terus dipersoalkan keberadaannya.

Setelah beberapa kampus membuat aturan pelarangan bercadar, dalam lingkungan instansi pemerintahan juga merebak isu pelarangan tersebut.

Tetapi yang paling, menekan perasaan para Muslimah bercadar ini adalah prasangka yang masih pekat menyelubungi pikiran mayoritas umat Islam terhadap mereka.  Komunitas bercadar ini disisihkan dari kehidupan dan seakan-akan keberadaannya tidak dirindukan.

Muslimah bercadar ini distigma sebagai bagian dari kelompok radikal, bahkan sering kali ada yang mengidentikkan mereka dengan kelompok teroris.

Sejatinya prasangka yang menyelubungi pikiran masyarakat yang lainnya ini, berangkat dari beberapa peristiwa teror dan tindakan radikal  lainnya yang kebetulan melibatkan perempuan bercadar.

Selain itu, sebagian dari komunitas bercadar ini memang hidup cukup eksklusif. Mereka sibuk dengan komunitasnya sendiri dan menutup diri dari kelompok lainnya.

Mereka dikritik hanya sibuk dengan syariat yang simbolik dibanding dengan yang substantif. Tak peduli persoalan kesenjangan sosial, lingkungan hidup dan toleransi dalam masyarakat.

Namun, tentu tidak adil jika memandang seluruh Muslimah yang bercadar dengan pandangan miring seperti yang diuraikan tadi. Kita harus adil, bahkan sejak dari pikiran, kata Pram.

Karena itu kita pun harus bisa menerima bahwa menggunakan cadar adalah hak seseorang. Tidak ada yang bisa membatasinya, kecuali secara nyata hal itu betul-betul mengganggu kehidupan sosial.

Selain itu dalam beberapa kali perjumpaan saya dengan Muslimah bercadar tidak semua di antara mereka yang eksklusif .  Mahasiswi bercadar yang saya temani berdialog tadi, misalnya, adalah orang  yang kesekian kalinya dari perempuan-perempuan bercadar yang tidak memilih hidup secara tertutup.

Selain parasnya yang tertutup, selebihnya Ia bergaul sebagaimana sejawat mahasiswinya yang lain. Ngobrol asyik dengan temannya, tidak merasa perlu menggunakan pembatas atau hijab dalam majelis yang menghimpun laki-laki dan perempuan, bahkan cukup berani mengutarakan pendapat di depan khalayak.

Di antara perempuan bercadar itu malah ada yang terlibat dalam organisasi yang concern merawat toleransi antara umat beragama. Mereka, terlibat dalam forum-forum dialog antara anak muda beda keyakinan, seperti di ‘Jalin Harmoni’ dan Gusdurian Makassar.

Para perempuan bercadar tersebut seakan ingin menepis citra yang selama ini dilekatkan pada mereka sebagai perempuan asosial, tidak menghargai perbedaan, bahkan dikesankan sebagai bagian dari golongan yang radikal.

Dengan menggunakan cadar dan khimar (pakaian panjang), perempuan-perempuan tersebut sama sekali tidak terhalangi untuk bertindak cekatan dan luwes. Tentu saja para perempuan bercadar ini, tetap menjaga sikap, tutur dan tingkah laku yang mereka anggap sebagai batas-batas kepantasan sesuai dengan tuntunan syariat.

Perempuan bercadar yang aktif dalam gerakan sosial dan pendidikan, juga ditemukan dalam penelitian Saba Mahmood di titimangsa 1995-1997.

Penelitian yang akhirnya terbit menjadi buku yang berjudul Politics of Piety: The Islamic Revival and The Feminist Subject, menelusuri gerakan perempuan berjilbab  di Mesir.

Perempuan-perempuan Mesir tersebut menjadikan masjid sebagai pusat gerakannya. Dari sinilah Saba Mahmood memberi istilah pada gerakan perempuan Mesir ini sebagai The Women’s Mosque Movement.

Gerakan perempuan ini, demikian Saba, terlibat dalam pemberdayaan perempuan di Mesir, tetapi mengambil jalur di luar konteks feminisme yang dikenal selama ini. Mereka justru berpijak pada cara-cara berpikir kaum Islamis ortodoks yang ditentang oleh kaum feminis.

Dalam gerakan perempuan Mesir ini, mereka malah memperketat ajaran-ajaran kesalehan yang mereka peroleh dari kaum Islamis. Kebiasaan bercadar untuk menjaga rasa malu, tidak menyatu dalam satu majelis antara laki-laki dan perempuan, serta memosisikan laki-laki sebagai pemimpin yang otoritasnya tidak boleh diganggu gugat,  masih menjadi sikap keseharian mereka.

Keseluruhan sikap itu tidak menghalangi mereka untuk melakukan berbagai aktivitas sosial dan pemberdayaan lainnya. Mereka tidak hanya peduli dengan kesalehan pribadi, tetapi terjun ke tengah-tengah masyarakat melakukan perubahan sosial kendati dengan batas-batas tertentu.

Gejala semacam ini, dapat ditemukan pula pada perempuan-perempuan di Indonesia yang berkecimpung dalam komunitas-komunitas salafi.  Masjid juga masih tetap menjadi pusatnya. Tetapi kasus di Indonesia sedikit unik, di antara perempuan bercadar yang terhimpun dalam komunitas-komunitas salafi ini, masjid bukanlah satu-satunya habitatnya.

Beberapa dari mereka justru bergabung pula dengan komunitas lain yang lebih cair dan beragam. Di antara mereka, misalnya, ada yang bergabung dengan club-club menulis, pengusaha butik dan tentu saja ada pula yang masih mahasiswa.

Perjumpaan dengan berbagai kalangan dalam komunitas yang berbeda-beda itu melahirkan cara pandang yang tidak tunggal dalam melihat realitas. Mereka meramu berbagai perspektif, sehingga melahirkan cara pandang yang hibrid.   Dengan cara pandang yang hibrid itu, mereka muncul menjadi perempuan bercadar yang tidak eksklusif, bisa menerima teman-temannya yang lain yang berbeda, bahkan beberapa ikut serta merawat toleransi antara umat beragama. 

Sebagian yang lainnya menjadi penulis-penulis novel yang populer, pelapak dan seterusnya. Mereka tidak menanggalkan cadarnya sebagai identitas, tetapi cadar tersebut tidak menghalangi mereka untuk bergaul dan bergaya modis.

Beberapa kali saya berjumpa  perempuan bercadar dengan pakaian yang modelnya apik serta menggunakan sepatu sneakers. Ia telihat menawan dan sporty.

Gerakan sebagian perempuan bercadar di Indonesia ini telah bergeser dari gerakan perempuan yang diamati oleh Saba Mahmood di Mesir. Mereka tidak lagi murni menjadi kelompok-kelompok Islamis yang sangat kaku dengan berbagai aturan.

Meski telah bergeser dari Islamisme, tetapi saya tidak memasukkan komunitas perempuan bercadar seperti diuraikan di atas, dalam apa yang disebut oleh Asep Bayat, sebagai Post-Islamis.

Tentu ada beberapa alasan, mengapa saya tidak golongkan ke dalam Post-Islamis, tetapi belum bisa saya kemukakan dalam tulisan ini.

Kita kembali ke Perempuan bercadar yang saya temani berdialog di awal tulisan ini.  Dia adalah salah satu di antara mereka yang memiliki habitat yang tidak tunggal tersebut.  Dia dan perempuan bercadar yang saya temui di Gusdurian maupun Jalin Jarmoni, adalah perempuan yang mengalami banyak perjumpaan dengan komunitas lainnya.

Mereka ini adalah perempuan-perempuan  yang tidak bisa dikatakan ‘kurang piknik’, meminjam istilah anak milenial sekarang. Sebaliknya mereka adalah perempuan-perempuan yang kaya dengan berbagai pengalaman.

Karena itu jangan khawatir dengan perempuan bercadar.  Mereka tidak selamanya kaku dan eksklusif, apalagi akan bersikap radikal. Perempuan bercadar semacam ini, justru harus diterima di tengah-tengah kita untuk menambah warna-warni keragaman.

Mereka harus kita ajak berdiskusi, untuk terus-menerus menambah khazanahnya, sekaligus juga mereposisi cara kita memandang mereka. Meminggirkannya, justru hanya akan membuat mereka semakin menjadi eksklusif.

Saya hanya berharap, mata yang cemerlang dari perempuan bercadar yang saya temani berdialog itu, tidak lagi menyimpan gelisah. Dan tentu itu bisa terjadi, bila kita merindukan keberadaan dia dan mereka yang bercadar lainnya, di tengah-tengah kita.  Merindukan dengan tulus dan tanpa prasangka apa-apa lagi.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *