Sun. Jan 19th, 2020

BLAM

KEREN

Akseptansi atas Keragaman Melalui Ucapan Selamat Hari Raya

4 min read

Sumber Foto: Republika

6,539 total views, 6 views today

Oleh Sabara Nuruddin (Peneliti pada Balai Litbang Agama Makassar) 

Perbedaan sebagai fakta sosial adalah keniscayaan yang tak mungkin ditolak. Persoalannya bukan pada bagaimana mengatasi perbedaan, melainkan pada penyikapan atas realitas yang beragam tersebut. Perbedaan yang ada berpotensi menjadikan masyarakat terpola dalam kelompok-kelompok sosial yang berjarak satu sama lain.

Namun, di lain sisi, perbedaan tersebut jika dikelola dengan baik dapat menjadi modal sosial dalam membangun harmoni dalam kehidupan sosial. Di antara perbedaan yang berpotensi merentangkan jarak sosial antara kelompok dalam masyarakat adalah perbedaan agama.

Dibandingkan semua elemen perbedaan identitas lainnya, agama menempati ruang yang unik, karena agama menempati ruang perbedaan yang bersifat bawaan dan perolehan sekaligus. Perbedaan agama bersifat bawaan, dikarenakan identitas agama cenderung diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya (orang tua ke anak).

Hal ini mengakibatkan agama menjadi dientitas primordial yang dibawa dan diinternalisasi sejak lahir. Agama bersifat perolehan, karena agama memungkinkan seseorang melakukan konversi dari satu agama ke agama lainnya atau paling tidak pemaknaan dan komitmen keagamaan oleh seseorang adalah hal yang terus menerus berproses.

Hal ini bergantung pada pemaknaan intelektual, pengalaman spiritual dan lingkungan sosio-kultural yang memungkinkan penghayatan dan kmitmen keagamaan seseorang menjadi berkembang.

Doktrin teologis dan klaim keselamatan adalah variabel yang paling memengaruhi seorang penganut agama membangun jarak sosial dengan penganut agama lainnya. Identitas agama tidak hanya dihayati sebagai identitas primordial yang bersifat profan, melainkan sakralitas penghayatan dan komitmen keagama an yang bertendensi eskatologis memungkinkan ruang saling menegasi semakin terbuka lebar.

Saling menegasi tersebut tidak berhenti pada konsepsi teologis semata, melainkan melebar hingga pada ranah sosiologis. JIka sudah seperti ini, maka sangat mungkin agama menjadi variabel pemecah kohesi sosial yang memengaruhi terjadinya disharmoni sosial di tengah masyarakat yang plural.

Penghayatan, komitmen dan ekspresi keagamaan yang sejatinya bersifat privat, rentan menimbulkan problem jika dibawa pada ruang sosial. Untuk itu perlu kearifan di antara penganut agama dalam menyikapi kenyataan perbedaan tersebut.

Kearifan tersebut diwujudkan dalam bentuk penerimaan yang tulus dalam keragaman untuk saling menghargai perbedaan yang ada. Ruang sosial menjadi ruang bersama diantara semua umat yang sama-sama berkepentingan atas terwujudnya tatanan kehidupan sosial yang rukun dan harmonis.

Di antara bentuk penghargaan terhadap perbedaan keyakinan tersebut adalah ketulusan untuk saling mengucapkan selamat berhari raya kepada pengant agama lain. Doktin teologis dan momentum sejarah membuat setiapumat agama memiliki hari-hari tertentu yang dirayakan sebagai hari yang sacral dan spesial.

Sakralitas dan kespesialan sebuah hari raya tentu saja secara eksklusif hanya dirasakan oleh umat agama tertentu saja dan tidak bagi umat yang lainnya. Namun, hal tersebut tidak membuat umat ain yang tidak merayakan hari raya tersebut lantas bersikap pasif jika umat agama lain sedang merayakan hari rayanya.

Keberterimaan atau akseptansi atas perbedaan menjadi penting dalam hal ini guna membangun ko-eksistensi antar penganut agama sebagai kelompok sosial yang berbeda. Saling mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain yang merayakan merupakan perwujudan sikap akseptansi tersebut.

Mengucapkan selamat hari raya dalam konteks ini akhirnya bukan dimaknai sebagai pengakuan teologis atas kebenaran agama lain, tapi sebagai komitmen sosial untuk saling menghargai dalam perbedaan.

Karena, untuk mengucapkan selamat hari raya bagi penganut agama lain, tak memestikan penerimaan teologis atas keyakinan agama lain, yang dibutuhkan hanyalah kearifan sosial dalam menyikapi perbedaan sebagai fakta sosial.

Beberapa tahun yang lalu, pada suatu momen Natal di Jayapura, penulis mendapatkan informasi dari beberapa warga Muslim bahwa di Jayapura pernah terjadi “ketegangan sosial” diakibatkan massifnya umat Muslim yang enggan mengucapkan selamat Natal kepada tetangganya yang Kristiani.

“Ketegangan” tersebut meski tidak sampai berujung pada konflik horisontal, namun suasana kerenggangan sosial sangat dirasakan oleh kedua belah pihak. Hal ini berefek pada relasi sosial yang tak lagi intim melainkan berjarak bahkan penuh kecurigaan.

Suasana kembali cair ketika beberapa tahun berikutnya umat Muslim mulai kembali mengucapkan selamat hari Natal dan bersilaturahmi kepada tetangga ataurekan mereka yang Kristiani.

Saling mengucapkan selamat hari raya dalam konteks masyarakat yang plural dari segi keyakinan akan menjadi perekat relasi sosial karena adanya sikap saling menghargai secara tulus atas perbedaan yang ada.

Saling mengucapkan selamat hari raya dapat menjadi awal mula –meminjam istilah Cak Nur- membangun ikatan-ikatan keadaban dalam perbedaan. Melalui ucapan selamat hari raya, koeksistensi sosial terbangun dan membuka jalan bagi terbangunnya ikatan keadaban antar umat beragama yang berbeda.

Sehingga Melalui akseptansi atas keragaman diantaranya dengan saling mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain, perbedaan keyakinan akhirnya dapat ditransformasi menjadi modal sosial membangun tata kehidupan sosial yang harmonis.

Sebaliknya, keengganan mengucapkannya berpotensi merentangkan jarak sosial yang semakin lebar antar kelompok agama dan hal ini sangat kontra produktif bagi terwujudnya harmoni sosial. Sebagai makhluk sosial, kita semua berhajat pada terwujudnya tatanan sosial yang harmonis meski dalam bingkai keragaman.

Marilah dengan penuh ketulusan kita saling mengucapkan selamat hari raya pada penganut agama lain yang sedang berbahagia pada momentum hari yang sakral dan spesial bagi mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *