Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Sengkarut Bisnis Bersimbol Syar’i

5 min read

Sumber gambar: Liputan6.com

1,971 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Kami percaya karena yang jual itu ustaz, dia pakai ayat-ayat waktu menawarkan (perumahan Syar’i) itu.”  Begitulah pengakuan yang meluncur dari mulut salah seorang korban penipuan Pengembang Perumahan Syar’i di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, seperti dikutip Tempo, 16 Desember 2019.

Rekimah, demikian nama orang tersebut, tentu bukanlah satu-satunya. Beberapa orang lainnya di tempat yang berbeda mengalami nasib yang sama memilukan sekaligus memalukan. Memilukan, karena para korban harus kehilangan sejumlah uang, tetapi rumah tak kunjung jelas wujudnya.

Memalukan,  tersebab yang menipu dengan mudahnya memakai istilah agama, menyetir ayat-ayat dan mendesain forum pengajian untuk memuluskan bisnis bodongnya. Pada akhirnya; “Bisnis syar’i setitik rusak susu seagama.”  Karena ulah segelintir muslim yang menipu menggunakan simbol syar’i, buruk rupa Islam di Indonesia.

Bisnis menggunakan simbol-simbol agama, sejatinya bukan barang baru dalam dunia kapitalisme. Syar’i, syariat, hijrah, bahkan nama yang seakan berkonotasi agama, misalnya; kurma atau onta, ibarat mantra dalam bisnis, dan orang-orang pun segera bertekuk lutut di hadapannya.

Itulah mengapa, orang masih saja terbius dengan bisnis-bisnis yang berembel-embel agama ini, kendati sejarah yang ditorehkan lebih banyak cacatnya dibanding catatan gemilangnya. Setidaknya begitulah, jika kita cermati bisnis bersimbol agama dalam satu dekade terakhir ini.

Masih lekat dalam ingatan kasus Travel Haji Bodong, seperti ‘First Travel’ dan ‘Abu Tour’. Begitu pula dengan Kampung Kurma Bodong. Bahkan, pernah pula kita dengar adanya kasus ‘Kencing Onta’ yang nyaris saja menjadi permainan bisnis baru, andaikata tidak disentil khalayak dari delapan penjuru mata angin.  Tetapi, apa lacur. Begitu muncul perumahan dengan menggunakan kata syar’i, sekali lagi,  sebagian umat Islam tercebur dalam kubangan yang sama.

Begitulah.  Para pebisnis ‘kadrun’ itu paham, simbol agama adalah mantra penakluk yang paling menjanjikan. Karena itu bisnis bersimbol agama terus diulang, dan untuk kesekian kalinya lagi-lagi kita dengar berita tentang penipuan.

Simbol Agama

Rasa-rasanya, konsep Marx yang telah kita tentang habis-habisan bahwa, “Agama Itu Candu,” dalam kasus-kasus bisnis berkedok syar’i ini mungkin ada benarnya. Berkali-kali tertipu, tetapi karena bisnisnya menggunakan simbol agama, kita seperti orang kecanduan yang lupa bahwa bisnis itu berbahaya.

Kemunculan bisnis-bisnis bersimbol syar’i di Indonesia, diawali dengan munculnya  kelas menengah muslim sebagai konsumen baru.  Pertumbuhan ekonomi di kurun 2003-2014 di sekitar angka 5,5 – 6 %,  memang tidak terlalu tinggi. Tetapi, cukup stabil untuk menyediakan apa yang diistilahkan oleh Baudrillard (2013) sebagai kemelimpahruahan untuk kelas menengah muslim.

Kemelimpahruahan yang dimaksudkan di sini adalah ketersediaan resources ekonomi melampaui kebutuhan dasar dari para kelas menengah muslim tersebut. Hal itu dengan mudah kita lihat pada beberapa kelompok muslim yang bekerja di sektor industri tertentu, bahkan termasuk di kalangan ASN (Aparatus Sipil Negara), yang telah mendapatkan berbagai tunjangan.

Kelebihan itulah yang dimanfaatkan oleh kapitalis agar dibelanjakan untuk kepentingan bisnis mereka. Muncullah berbagai konser musik, festival, dan ‘Travel Piknik’. Di tempat-tempat itulah, mereka yang mengalami kemelimpahruahan, diharapkan membelanjakan uangnya.

Bersamaan dengan itu, di sebagian besar kelompok muslim kelas menengah kota ini,  tengah mengalami proses “semangat beragama yang baru.” Mereka mengalami proses “hijrah” yang singkat, setelah mengalami proses belajar yang instan melalui grup pengajian tertentu, atau mendengarkan ceramah agama lewat media sosial.

Kelompok yang terakhir ini tidak ingin serta merta membelanjakan uangnya, hanya untuk sekadar hal-hal yang dianggapnya duniawi. Mereka ingin pembelanjaan uangnya terkait dengan agama.  Singkatnya, dalam segala hal, semua harus berbau agama (Islam Kaffah).

Niat yang polos ini dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis dengan membangun bisnis-bisnis yang menggunakan simbol-simbol agama. Maka, muncullah Butik Syar’i, Couture Hijrah, Travel umrah yang bonafid, Kampung Kurma, dan Perumahan Syar’i.

Dengan menggunakan simbol agama, kelas menengah muslim ini merasa membelanjakan uangnya tidak hanya untuk hal-hal duniawi, tetapi juga terkait agama, atau setidaknya,  pembelanjaan itu tidak bertentangan dengan agama.

Baudrillard (2013) menyebut ini sebagai sebuah proses hiperrealitas dan simularka.  Hiperrealitas terjadi ketika tanda atau simbol yang sejatinya tidak nyata dianggap mewakili realitas. Antara fakta dan kepalsuan bersatu dan sulit dibedakan. Antara agama dan kepentingan bisnis terlalu rumit dipilah-pilah.

Selanjutnya terjadilah proses simularka, yaitu ketika situasi hiperrealitas ini, di mana simbol-simbol syar’i yang dianggap sebagai penanda realitas dihadirkan dengan tujuan memengaruhi penikmatnya.

Kelompok muslim ini pun membelanjakan uangnya untuk membeli barang tertentu sekaligus memenuhi kebutuhan religiusitasnya. Tetapi, benarkah kebutuhan religiusitas terpenuhi? Secara simbolik, dia merasa terpenuhi padahal secara substansi belum tentu. Yang dibeli murni hal yang sifatnya profan, sementara syar’i-nya boleh jadi hanya sekadar citra saja.

Apakah ini salah? Tidak serta merta demikian. Dalam era kiwari ini, muslim-muslim kelas menengah memang tidak mungkin lagi memilah antara religius dan modern, dan memisahkan antara bisnis duniawi dengan kehidupan spiritualitas. Keduanya telah menjadi satu nafas atau setidaknya telah berada dalam satu ruang yang tidak terpisah.

Turner  (2007)  dengan terang telah menunjukkan, di negara-negara modern, agama tetap segar bugar. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi penopang perkembangan bisnis di negara-negara tersebut. Tidak salah jika seorang pengamat agama dalam era modern, Rudnyckyc (2009), menyebut, kini agama tidak hanya bisa berdampingan dengan modernisme dan kapitalisme, bahkan keduanya bisa menjadi sekutu yang baik.

Selama agama digunakan mendorong perkembangan bisnis yang sehat, produktif, dan menjanjikan kemaslahatan bersama, maka tidak ada salahnya bisnis-bisnis tersebut menggunakan simbol agama. Apalagi, jika simbol agama itu justru mengingatkan pelaku bisnis agar menjadikan nilai agama sebagai tumpuan dalam menjalankan bisnisnya. Kejujuran, transparansi, dan produktivitas menjadi etika bisnisnya.

Dengan kata lain, mereka serius berbisnis yang sehat, tetapi melengkapi bisnisnya tersebut dengan bahasa agama.

Sayangnya, kasus-kasus yang muncul akhir-akhir ini menunjukkan, sebenarnya para pelaku bisnis bodong dengan menggunakan istilah syar’i itu tidak siap berbisnis atau memang bukan pelaku bisnis.

Simbol syar’i,  tak lain hanya akal-akalan mereka saja untuk menipu. Akal-akalan Syariat (Hal’e Syar’i) kata Oliver Roy. Disebut demikian, karena mereka hanya membungkus bisnis dengan simbol syar’i, tetapi sejatinya tidak mempraktikkan perilaku syariat.

Alhasil, sebagai konsumen, telisiklah lebih dalam jika ada yang menawarkan bisnis atau produk dengan simbol agama. Saya tidak menyarankan untuk langsung menolaknya, tetapi perhatikan lebih dalam apakah perilaku bisnisnya betul-betul sesuai dengan nilai agama. Apakah bisnis tersebut tidak semakin membuat kita eksklusif, menjadikan kita hanya ingin bergaul dengan kelompok sendiri, merasa hebat sendiri seperti katak dalam tempurung, dan seterusnya?

Jika bisnisnya sehat dan baik-baik saja, terserah Anda ingin memilihnya atau tidak. Tetapi percayalah, ingin menggunakan kata-kata agama atau murni istilah sekuler, bisnis tetaplah bisnis. Tujuan utamanya mengakumulasi keuntungan sebesar-besarnya. Kalau berbisnis, tetapi ingin membagikan keuntungan, itu Yayasan Sosial namanya. Begitulah logika kapitalisme, kata seorang teman. (*)

 Wallahu A’lam Bissawab 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *