Sat. Mar 28th, 2020

BLAM

KEREN

“Tempo Passukang ri Labbo” (Mengenang Ingatan Kelam di Masa Pemberontakan DI/TII)

6 min read

Desa Labbo di bawah naungan Perbukitan Lompobattang. Foto: Paisal

2,739 total views, 2 views today

Oleh: Paisal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

 “Bali’i ajjinu anjama nak, baji’mintu katallassangnu rikamonnea, amanmi kamponga

Riolo sangnging rontak’i kamponga kanre loka mami nikanre ka iyamami nia.”

“Bantulah ayahmu bekerja, sekarang sudah makin mudah mencari penghidupan, kampung kita sudah aman. Dulu kampung selalu rusuh, hanya pisang rebus (campur beras akin) yang bisa dimakan karena hanya itu yang ada.”

***

Begitulah kalimat yang sering dilontarkan nenek untuk memotivasi kami bekerja membantu orangtua. Nenek yang melewati berbagai zaman telah kenyang dengan berbagai asam garam penderitaan dan kesusahan. Nenek lahir ketika Belanda masih kuat mencengkeram negeri ini, harapan kebebasan dari penjajahan masih jauh.

Bonthain, namanya pada masa Hindia Belanda, merupakan basis pemerintahan di bagian selatan Sulsel dengan status afdeling, yang tentu saja menjadi salah satu wilayah yang harus diamankan dari gangguan perusuh oleh para serdadu belanda.

Pada masa kanak-kanak sering terdengar cerita kepahlawanan I Tolo’ Daeng Maggassing dan kelompoknya, yang pengaruhnya melingkupi wilayah selatan Celebes, dari Makassar-Gowa hingga ke Sinjai.

I Tolo’ terkenal sebagai pahlawan rakyat yang merampok orang asing, ekspatriat Belanda dan orang-orang kaya nan congkak, yang selama ini kerap dianggap mengisap darah rakyat. Hasil rampasan mereka kemudian dibagikan kepada rakyat jelata. Gerakan I Tolo’ menggunakan taktik gerilya. Memukul kemudian menghilang secepat kilat.

Cerita I Tolo’ dan kelompoknya memantik perlawanan serupa yang lahir dari para tubarani, para pamanca’ yang ada di pedalaman, tak terkecuali di Bantaeng. Mereka sering disebut assa’ (tau pore-orang hebat), yang berasal dari kampung-kampung (biasanya disebut nama kampung asalnya. Misalnya, “Assa’na Ganting”atau “assa’na Kindang”) dengan keahlian seni beladiri pencak silat dan banyak yang kebal senjata tajam.

Keahlian beladiri diperoleh dari guru-guru dengan proses panjang dan cukup sulit dan juga terkait dengan passare (pangngamaseangna Karaeng Allah Ta’ala-karena anugerah Allah) karena belajar saja tidak cukup jika Tuhan tidak menghendaki.

Demikianlah hingga berpuluh tahun berikutnya terus terlahir para pendekar yang menggelorakan semangat perlawanan terhadap penjajah Belanda hingga jaman Jepang, mereka terdiri dari beberapa orang yang bergabung dalam berbagai kelompok perlawanan, I Tolo’ sendiri kemudian abadi namanya dalam istilah Tolo’na (jagoan atau pemimpin/protagonist) sebuah istilah yang jamak digunakan warga untuk seorang jagoan.

Nenek seringkali menceritakan kisah-kisah perlawanan rakyat itu ketika menjelang tidur. Cerita paling membekas dan mengiris hati adalah ketika harus kehilangan suami tercinta (kakek) yang ditembak passukang (kadang disebut garombolan) DI/TII di sekitar Sungai Bijawang (kini masuk wilayah Kindang, Bulukumba), dan dikuburkan di pinggir sungai.

Sayangnya, saat ini, tak nampak lagi bekas kuburannya. Mungkin karena digerus arus air sungai. Kakek meninggal ketika nenek sedang mengandung ummi (ibu), yang kelak menjadi anak satu-satunya.

Tempo Passukang

Cerita tentang penderitaan warga dalam masa pemberontakan DI/TII sungguh teramat kuat membekas dalam memori kolektif warga. Mereka menyebut peristiwa tersebut dengan istilah “tempo passukang”.

Tempo passukang ini terjadi dalam beberapa tahun pada medio awal 1950 hingga sekitar 1967-an. Kisah tempo passukang terus diceritakan oleh mereka yang mengalami langsung peristiwa itu. Anak-anak yang bersentuhan langsung dengan orang tua yang melalui jaman itu, hampir dapat dipastikan pernah mendengar istilah itu.

Tentang passukang dan gerombolan ini sebenarnya terjadi perbedaan persepsi dalam masyarakat. Ada yang menganggap passukang itu bukan gerombolan, dan demikian sebaliknya. Nampaknya,  pendapat passukang sekaligus garombolan adalah yang terkuat dianut masyarakat.

Hal ini juga terkait awal perlawanan gerombolan DI/TII, karena tidak diakomodirnya pasukan (kelompok perlawanan rakyat) sebagai tentara resmi oleh Alex Kawilarang, Panglima Indonesia Timur.

Meski tidak semua laskar rakyat bergabung dalam pemberontak DI/TII, tapi ada beberapa orang dan kelompok yang kemudian turut masuk hutan bersama dan berbaiat memproklamirkan DI/TII. Di daerah Tompobulu, hal itu juga terjadi, sehingga menyebabkan kebingungan di tengah masyarakat, mana kawan mana lawan.

Nenek berkisah, dalam masa itu bagaimana dia harus terus berlari menghindari amukan gerombolan yang memasuki kampung untuk mencari perbekalan dan memungut pajak. Gerombolan ini terkenal cukup buas, dan tidak segan membakar rumah warga jika apa yang diinginkan tidak tercapai. Beberapa warga telah menjadi korban karena mempertahankan harta bendanya.

Selain itu, gerombolan ini juga menerapkan aturan warga juga harus membayar senilai ½ rupiah sebagai pajak, dan jika tidak dibayar, maka jumlahnya akan berlipat. Letusan senjata dan teriakan histeris menghiasi kampung, warga diliputi ketakutan, nenek harus berlari membawa putri semata wayang yang tak pernah ketemu ayahnya, “kengerian menjalari seluruh relung jiwa, akankah kami dapat menyelamatkan kehidupan anak kami?”

Diceritakan, dalam pelarian tersebut nenek terus bergerak berpindah-pindah dan menemukan beberapa tempat yang paling aman adalah sekitar Tamma’bili hingga ke perbatasan Desa Talle (nama Desa di sebelah barat Labbo), hingga ke sebelah utara yang merupakan wilayah dusun Panjang-Bawa.

Sementara pergerakan Gerombolan berasal dari selatan desa dan bergerak ke timur (Desa Pattaneteang) hingga menyebrangi sungai Bialo memasuki wilayah Kindang (Bulukumba).

Suatu ketika, kondisi Kampung Labbo sudah mulai aman. Warga yang mengungsi kembali ke rumah. Mendengar berita tersebut, nenek mencoba kembali masuk kampung, suatu tempat yang kadang disebut Biring Buakang (kini jalan Cengkeh Labbo).

Selang beberapa hari kemudian, gerombolan kembali masuk Kampung Bajeng (kini wilayah Kel. Ereng-ereng), beberapa warga yang menolak bergabung DI/TII dan tak mau membayar pajak kemudian melakukan perlawanan, namun dapat dengan mudah dipatahkan.

Akibatnya, beberapa warga menjadi korban dan banyak rumah penduduk dibakar. Warga sekitar kembali diliputi ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri.

Patut diketahui, pada 1950-an belum semua lahan di Labbo yang telah ditanami kopi dan tanaman perkebunan lain. Tanah warga masih berupa padang ilalang, pada beberapa bagian lain di desa terdapat cetakan sawah yang gagal dan kini menjadi perkebunan kopi atau cengkeh. Jenis tanaman ketika itu yang ada hanya jagung, umbi-umbian (pacco-talas), ubi kayu, ubi jalar dan beberapa jenis pisang.

Selain itu, hanya pepohonan dan tetumbuhan liar yang terdapat di kebun. Nenek yang saat itu memiliki benda berharga berupa mesin jahit merek butterfly bercerita, bagaimana harus mengamankan barang tersebut dengan menguburnya di balik rimbun pepohonan.

Dalam persembunyian, warga hidup penuh derita, melewati malam yang dingin di tengah padang ilalang dan membuat tempat berteduh berupa rumah-rumahan sederhana, beratap daun pisang, daun talas atau daun rumbia, ada juga yang bersembunyi dibalik rimbun pepohonan atau bebatuan, sebagian lain merasa aman di dalam gua.

Nenek membawa bekal seadanya berupa jagung yang diolah sendiri menjadi nasi jagung (kanre ba’do’ terkadang juga diolah menjadi kampe’do). Ketika perbekalan olahan jagung habis, para pengungsi mengolah umbi-umbian atau pisang (olahan pisang dicampur jagung atau beras disebut kanre loka) yang tersedia disekitar persembunyian.

Mengapa warga begitu takut terhadap gerombolan? Sebab, kehadiran pasukan tersebut telah membawa kekacauan di tengah warga yang mulai berdamai dengan kehidupan pasca lepasnya penjajahan Belanda. Warga dusun mulai tenang mengolah sawah dan ladangnya.

Kedatangan gerombolan DI/TII selalu diikuti aksi kekerasan, jika apa yang mereka inginkan tidak diikuti warga. Gerombolan yang diburu tentara ini, juga berusaha memaksakan pemahaman keagamaannya dalam waktu singkat, dan harus diikuti masyarakat.

Mereka memusuhi tradisi-tradisi keagamaan yang selama ini diikuti warga, seperti tradisi ziarah kubur, hajatan maulid, barazanji, zikkiri. Itulah sebabnya, kehadiran mereka mendapat perlawanan keras dari tokoh agama maupun tokoh adat setempat.

Pada beberapa tempat, terdapat beberapa tokoh adat dan tokoh agama yang kemudian menjadi tumbal keganasan gerombolan. Bagi gerombolan ini, tak ada toleransi bagi mereka yang berbeda pemahaman dan mempertahankan tradisi keagamaannya.

Pemerintahan yang dibentuk DI/TII, juga menerapkan hukum jinayat untuk pelaku pidana, terdapat lokasi di Pattiro yang konon dulu digunakan untuk melaksanakan hukuman rajam, terpidana dikubur hingga leher kemudian warga diperintah melemparinya hingga mati.

Kakek menjadi salah seorang korban keganasan gerombolan itu. Kakek berpulang mempertahankan keyakinannya. Kakek memperjuangkan tradisi keagamaan yang dianut masyarakat. Kakek adalah seorang Pazikkiri Pabaranzanji.

Sebagai seorang yang pandai membaca aksara Arab dan lontara, kakek seringkali dipanggil dalam hajatan warga untuk melaksanakan “zikkiri”, baik pada bulan Maulid maupun dalam bentuk hajatan lain yang mengundang rombongan pabarazanji.

Nenek bercerita, kakek bahkan sering melintasi berbagai kampung hingga ke wilayah Kabupaten Bulukumba untuk memenuhi undangan hajatan berupa zikkiri maulid dan sejenisnya.

Zikkiri maulid sendiri dalam tradisi masyarakat sekitar seringkali dilaksanakan menggunakan waktu yang cukup panjang sehari semalam, sehingga ketika bulan Maulid tiba, kakek cukup jarang berada di rumah. Dalam perjalanan memenuhi hajatan warga inilah, kakek meninggal.

Demikianlah, hingga akhir hayatnya, nenek merawat ingatan pada kakek. Pada suami yang tak lama hidup bersama dan menemaninya. Rindu pada ayah dari anak semata wayang yang tak pernah melihat ayahnya. Nenek membangkitkan kenangannya dengan cara terus menceritakan kisahnya. Bukan merawat dendam, tetapi selayaknya dapat dipetik hikmahnya. (*)

 Wallahu a’lam!

*Beberapa kalimat adalah dialek Konjo Pegunungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *