Tue. Mar 31st, 2020

BLAM

KEREN

Tradisi Parunrungi Baju dan Attarasa pada Proses Akil Baligh Tu Konjoa di Bulukumba Timur

5 min read

Foto: Dok. Penulis

2,849 total views, 12 views today

Oleh: Khaerun Nisa’ (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Tu Konjoa (orang Konjo/masyarakat Konjo) memiliki posisi yang unik dalam etnis di Sulawesi Selatan. Suku Konjo berdasarkan penyebarannya, hidup di daerah dataran pegunungan dan pesisir. Masyarakat Konjo pesisir adalah masyarakat yang berdiam di Bulukumba Timur (Bonto Bahari, Bonto Tiro, Herlang dan Kajang).

Masyarakat Konjo pegunungan mencakup Desa Parigi ke timur Kabupaten Gowa, setelah barat Sinjai, bagian timur dan timur laut Kabupaten Maros (sekitar camba), perbatasan selatan Kabupaten Bone, dan daerah pengunungan utara Kabupaten Bantaeng.

Kata “konjo” bermakna kata tunjuk, yaitu “orang-orang di sana”. Konon, istilah Konjo merujuk pada julukan yang diberikan orang Bugis atau orang Bulukumba Barat terhadap orang-orang Bulukumba Timur dalam menunjuk sesuatu mengatakan “konjo” (di situ, di sana, ke situ, ke sana). Dalam dialek Makassar, menggunakan kata “anjo” untuk makna yang sama (Darmapoetra, 2014).

Tradisi parunrungi baju dan attarasa merupakan upacara adat yang diselenggarakan oleh tu Konjoa yang bermukim di Kecamatan Herlang Kabupaten Bulukumba, yang mana ritus tersebut dilaksanakan ketika seorang anak mulai menginjak usia baligh atau dewasa. Seorang anak yang usianya mencapai 12 tahun atau 13 tahun, pihak orang tua akan melaksanakan pesta parunrungi baju dan attarasa.

 Upacara adat parunrungi baju adalah upacara adat pemasangan baju bodo yang hanya dikhususkan kepada anak perempuan yang memasuki usia baligh. Sedangkan upacara adat attarasa, yaitu tradisi meratakan gigi dengan menggunakan alat tersendiri yang biasanya berasal dari batu. Upacara adat ini diberlakukan untuk anak laki-laki maupun anak perempuan.

Baju bodo merupakan baju tradisional khas perempuan Sulawesi Selatan. “Bodo” sesuai namanya, yang berarti pendek, baju ini berlengan pendek. Baju bodo dipadukan selembar sarung sutera.

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan memberi pengaruh pada pemakaian baju bodo, yang dahulunya baju bodo digunakan tanpa dalaman. Namun kemudian, saat ini pemakaian baju bodo menggunakan dalaman dengan warna senada, atau warna yang lebih terang dengan warna baju bodo.

 Pemilihan warna baju bodo pun mengikuti aturan tertentu, yaitu berdasarkan tingkat usia dan kasta perempuan pemakainya. Penggunaan pakaian baju bodo kerap digunakan untuk acara adat seperti upacara pernikahan dan upacara tradisi parunrungi baju.

Seiring perkembangan zaman, baju bodo mulai direvitalisasi. Biasanya, dikenakan pada acara lomba menari atau menyambut tamu-tamu kehormatan.

Pelaksanaan ritual upacara adat parunrungi baju dan attarasa menandakan, bahwa seorang anak telah memasuki usia dewasa. Upacara adat parunrungi dan attarasa baju dilaksanakan secara bersamaan dan meriah.

Tupatayya pajjagang (penyelenggara hajatan) akan menghias rumahnya menggunakan hala suji dan dekor yang umumnya hanya digunakan untuk acara pernikahan. Upacara adat ini dilaksanakan bukan hanya sebagai ceremonial sebuah tradisi, tetapi sebagai wadah silaturahmi antar keluarga.

Barasanji

Dahulu upacara adat ini digunakan para orang tua sebagai jalan untuk melakukan perjodohan atau mencarikan jodoh bagi anak-anaknya. Namun seiring waktu, telah terjadi pergeseran, di mana upacara adat tersebut dilaksanakan hanya sebagai sebuah tradisi dan terus dibudayakan sebagai warisan dari leluhur.

Sebelum melaksanakan tradisi upacara adat parunrungi baju dan attarasa, masyarakat Konjo melakukan barasanji. Barasanji merupakan sebuah ritual prasyarat yang harus dilaksanakan sebelum melakukan upacara adat tersebut dan sebagai wadah paddoanganng (berdoa), agar upacara adat parunrungi baju dan attarasa yang akan dilaksankan sebagai prosesi aqil baligh seorang anak mendapatkan keberkahan  dan kelancaran dari yang Maha Kuasa.

Adapun hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum melaksanakan upacara adat parunrungi baju adalah patakko (berupa besi tua, dengan panjang  meter), baju bodo sebanyak satu lusin.

Kemudian, yang perlu dipersiapkan ketika akan melaksanakan upacara adat attarasa adalah batu pa’geso’ (batu penggosok gigi), dinging-dinging, berasa didi (beras putih yang dicampur dengan kunyit), pucuk leko’ (pucuk daun sirih) dan rappo (buah pinang), serta uang yang disediakan dalam amplop untuk diberikan kepada guru yang dipercayakan untuk memimpin upacara adat dengan asas sitinaja.

Prosesi pelaksanaan upacara adat parunrungi baju, yaitu dengan memasukkan beras putih ke dalam mangkok, menancapkan patakko, kemudian memasuk baju bodo sebanyak satu lusin ke dalam patakko.

Anak perempuan yang akan diparunrungi baju duduk di atas ranjang untuk dipasangkan baju bojo secara satu per satu sebanyak satu lusin. Tata cara pemakaiannya yaitu sebelum baju bojo pertama dipasangkan, anak tersebut dibacakan shalawat dan surah Al-Fatihah sebanyak tiga kali, kemudian didoakan agar diberikan kebaikan dunia dan akhirat setelah aqil baligh.

Pemasangan baju bodo pertama dimulai dengan dimasukkan ke dalam kepala, kemudian dimasukkan ke tangan kanan lalu ke tangan kiri. Untuk baju bodo yang kedua hingga ke dua belas, tidak lagi dipasangkan secara keseluruhan di badan tetapi hanya sampai pada leher.

Ada sebuah kepercayaan yang berkembang pada masyarakat Konjo, bahwa ketika pemasangan baju bodo dilakukan kepada seorang anak, lantas tassangkala (tersangkut) pada telinga, maka dipercaya bahwa anak tersebut akan memperoleh nasib yang kurang beruntung di masa depan.

Setelah dua belas baju bodo selesai dipasangkan kepada seorang anak, selanjutnya adalah  ketika baju bodo telah selesai dipasangkan, anak tersebut dianjurkan segera berdiri, lalu diantar ke tempat penyimpanan beras dan ke teras rumah.

Tujuan diantarnya ke tempat penyimpanan beras adalah, perempuan yang telah memasuki usia akil baligh sudah seharusnya pandai untuk memasak, kemudian tujuan diantar ke teras rumah, agar kelak memiliki masa depan yang cerah.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Puang Ratu, makna filosofis yang terkandung dalam pelaksanaan upacara adat Panrunrungi baju adalah sebagai pa’kio’ dalle’ (sebagai ritual untuk mendatangkan rejeki) dan pa’kio’ pattimba’ sura’ nikkah (sebagai ritual mendekatkan jodoh) untuk anak perempuan.

Adapun prosesi pelaksanaan upacara adat attarasa berdasarkan hasil wawancara dengan Puang Basa’, adalah anak yang akan mengikuti upacara adat attarasa, didudukkan di atas ranjang dan didampingi Ayahnya. Kemudian dibacakan Basmalah, lalu digosoklah gigi anak tersebut menggunakan batu khusus yang telah disediakan.

Gigi yang digosok adalah empat gigi depan bagian atas, digosok secara satu per satu. Serta digosok dari dalam ke luar. Upacara adat attarasa dimaknai masyarakat Konjo sebagai sebuah ritual menjelang seorang anak laki-laki maupun perempuan memasuki usia baligh. Tujuan pelaksanaan upacara adat ini adalah untuk memperindah tampilan gigi seorang anak yang memasuki usia baligh.

Upacara adat parunrungi baju dan attarasa hingga kini masih banyak dilaksanakan oleh masyarakat suku Konjo yang bermukim di kawasan Bulukumba Timur.

Menurut pengakuan informan, sebenarnya mereka menyadari upacara adat tersebut sudah tidak relevan dengan zaman sekarang. Namun, demi menjaga kelestarian tradisi warisan dari leluhur, hingga kini masih banyak masyarakat Konjo yang melaksanakan upacara adat tersebut.

Di samping itu, ada pula yang sudah mulai meninggalkan tradisi tersebut, karena di dalam prosesi pelaksanaan upacara adat tersebut, dianggap mengarah pada kesyirikan dan kontradiktif dengan ajaran-ajaran agama Islam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *