Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

Peluncuran Buku Cergam Aksara Lontara: Memperkenalkan Anak-anak Warisan Masa Lalu dan Identitas Mereka

3 min read

Kepala BLAM, H.Saprillah, M.Si, usai launching Buku Cergam Aksara Lontara, di Unismuh Makassar. Foto: Dok. BLAM

4,362 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Peneliti Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) melakukan launching “Buku Cerita Bergambar Aksara Lontara” di Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jumat, 13 Desember 2019.

Peluncuran perdana ini sekaligus menandakan kerjasama BLAM dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Rupa Unismuh Makassar. Acara ini dihadiri Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Ketua Prodi Pendidikan Seni Rupa, sejumlah dosen Unismuh, Peneliti BLAM, dan ratusan mahasiswa.

Buku cerita bergambar (cergam) ini dibuat oleh Peneliti Lektur BLAM, dan terdiri atas sembilan judul. Setiap cerita diambil dari berbagai daerah di Sulsel, seperti Pangkep, Barru, Sidrap, Wajo, Bone, Sinjai, Gowa, Takalar, dan Jeneponto.

Sembilan judul dan penulis buku cergam tersebut adalah:

  1. Awal Mula Islamisasi di Sulsel, yang ditulis Husnul Fahimah Ilyas
  2. Kisah Karaeng Pattingalloang dan Syekh Yusuf (Abu Muslim)
  3. Kisah Andi Tenri dan Arifin (La Mansi)
  4. Teman Sepermainan (Muh. Subair)
  5. Dollah dan Robert (Wardiah Hamid)
  6. Tifa dan Maria (Muh. Sadli Mustafa)
  7. Berbeda Itu Indah (Syarifuddin)
  8. Aco dan Beddu (Faizal Bachrong
  9. Aku Cinta Indonesia (Muh. Nur)

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, mengucapkan terima kasih kepada pihak Unismuh yang bersedia mengadakan kerja sama dengan BLAM, dan berharap kerjasama dalam nuansa akademik terus berlanjut.

Beberapa hal disampaikan Saprillah, saat memberikan sambutan pada peluncuran perdana cerita bergambar ini. Ternyata, banyak hal menarik di balik kisah pembuatan buku cergam ini. Mulai pesan-pesan terkait moderasi beragama, identitas sosial, hingga upaya melestarikan warisan masa lalu.

Berikut penuturan Saprillah:

Ada dua mandat akademik dan sosiologis, sehingga buku cerita bergambar ini diterbitkan. Pertama; buku cergam ini mencoba mengkonservasi ide moderasi beragama yang hampir menjadi perhatian utama semua organisasi keagamaan di Indonesia, termasuk Peneliti BLAM sendiri.

Mengapa moderasi beragama menjadi penting? Sebab, moderasi beragama sudah kita warisi sejak lama. Inti moderasi beragama adalah kesiap-sediaan untuk hidup dalam perbedaan, dan menjadikan perbedaan itu sebagai modal sosial untuk hidup lagi.

Jadi, kalau ada banyak orang yang bersedia hidup dalam perbedaan sebagai takdir, namun mereka tidak bisa menggunakan perbedaan itu sebagai modal sosial untuk hidup bersama, maka yang seperti itu bukan lagi disebut moderasi, tetapi dalam teori Michael Walzer disebut Toleransi Pasif. Dia tidak bisa menghindar dari perbedaan, tetapi dia juga sulit untuk hidup dalam perbedaan.

Sekali lagi, moderasi beragama adalah kesiap-sediaan untuk hidup dalam perbedaan, dan menjadikan perbedaan sebagai modal sosial untuk hidup bersama tanpa kehilangan identitasnya.

Salah satu penting dari teori Multikulturalisme adalah untuk hidup bareng, dan butuh identitas yang kuat. Untuk hidup sebagai orang Indonesia, Anda harus menjadi orang Bugis, Makassar, Toraja, dan sebagainya. Identitas inilah yang menyusun ke-Indonesiaan. Meski begitu, tidak berarti ketika Indonesia dibentuk, maka semuanya lebur, seperti yang terjadi pada masa Orde Baru.

Buku cergam ini mencoba mempromosikan moderasi beragama antarindentitas keagamaan. Kalau persoalan di kalangan internal keagamaan, mungkin agak rumit. Beberapa temuan Peneliti BLAM terkait relasi internal keagamaan, kami justru menemukan kerumitan hubungan internal keagamaan di semua agama. Bahkan, di dalam organisasi keagamaan sendiri banyak sekali friksi-friksi yang juga rumit.

Alasan kedua; kita punya mandat kebudayaan, yaitu mengkonservasi warisan lokalitas yang kita sebut dengan lontara. Seringkali orang tidak apple to apple membandingkan huruf kanji di Jepang dengan huruf lontara di Bugis – Makassar.

Seringkali dengan kejadian ini kita disebut telah kehilangan akar kulturalnya. Padahal, tidak seperti itu. Sebab, kanji adalah huruf nasional, sementara huruf nasional kita adalah latin. Tapi, memang harus diakui, ketika kita menggunakan latin sebagai huruf resmi kita, maka suka atau tidak suka, warisan lokalitas itu akan tergerus, karena tidak diajarkan.

Sebuah pengetahuan akan mati apabila tidak diajarkan. Pengetahuan akan terus lestari apabila dia di-bridging (dijembatani).

Dengan segala kelemahannya, buku cergam ini mencoba mem-bridging anak-anak SD dengan lokalitasnya, dan mencoba memperkenalkan kembali, bahwa spirit identitas terbangun berdasarkan jaringan dari masa lalu.

Ketika Anda menyebut diri sebagai Orang Bugis, Makassar, Toraja, maka apa yang tersisa dari identitas itu? Bahasa oke, karena bahasa tidak mungkin punah sepanjang etnis tersebut tidak punah. Namun, bahasa sebagai medium pengetahuan bisa saja mengalami kepunahan.

Buktinya, bahasa lontara ini. Kalau bahasa lontara tidak kita lestarikan bersama, bisa saja akan mengalami kepunahan. Sebab, sudah banyak yang tidak lagi mengetahui bahasa lontara, lantaran tidak diajarkan di sekolah-sekolah.

Kami berharap, melalui buku ini ada medium untuk memperkenalkan kepada anak-anak SD ke warisan masa lalu, bukan ke masa lalunya, supaya anak-anak kita bangga, bahwa mereka tidak hanya mendengarkan cerita tentang masa lalunya, tetapi mereka juga memiliki masa lalunya, dan menjadi bagian dari identitasnya. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *