Tue. Mar 31st, 2020

BLAM

KEREN

Ingin Lihat Manuskrip, Mahasiswa IAIN Parepare Kunjungi BLAM

3 min read

Peneliti BLAM berfoto dengan mahasiswa IAIN Parepare, Selasa, 10 Desember 2019. Foto: Asnandar

2,147 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM — Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) menerima kunjungan mahasiswa Program Studi (Prodi) Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Parepare, Selasa pagi, 10 Desember 2019.

Sebanyak 27 mahasiswa itu didampingi Ketua Prodi, A. Nurkidam, M.Hum, serta dua dosen, yaitu Dr. Hasnani dan Abd. Karim, M.Hum.

“Maksud kunjungan kami adalah melaksanakan perjalanan untuk melihat dan belajar manuskrip pada konteks filologi dalam rangka menambah wawasan keilmuan mahasiswa atau rihlah ilmiah, serta melihat naskah-naskah yang telah digitalisasi oleh BLAM,” kata Abd. Karim.

Delegasi IAIN Parepare diterima Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, didampingi Dr. H. Abd. Kadir M (Tim Pengendali Mutu Kelitbangan), Abu Muslim (Koordinator Peneliti Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi), Amiruddin (Koordinator Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan), Husnus Fahimah Ilyas, dan Peneliti Bidang Lektur.

Kepala BLAM, H.Saprillah, dalam sambutannya, menyatakan, menerima baik kunjungan ini. Ia bahkan mengharapkan kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sebagai salah satu dasar membangun perhatian dan pelestarian terhadap warisan budaya-budaya bangsa, seperti naskah-naskah kuno ataupun manuskrip-manuskrip yang telah dikaji secara filologis.

Menurut Saprillah, perlu menggali dan mengkaji asal muasal budaya dalam konteks peradaban bangsa-bangsa.

“Ke depannya, BLAM akan membuat program CORNER BLAM, yaitu mengadakan pertemuan dalam bentuk diskusi-diskusi, atau kajian dengan mengundang para ahli atau pakar-pakar keilmuan membicarakan berbagai fenomena sosial budaya dalam penguatan moderasi beragama di era industri 4.0,” kata Saprillah.

Pada pertemuan ini, Peneliti Lektur BLAM memaparkan beberapa hasil penelitian yang mereka lakukan terkait naskah-naskah atau manuskrip-manuskrip di Kawasan Timur Indonesia.

Abd. Kadir M, yang merupakan peneliti senior BLAM, mengawali pertemuan dengan menceritakan pengalaman dirinya selama melakukan penelitan naskah, termasuk kendala-kendala yang dihadapi saat mencari dan menelusuri naskah, hingga teknik-teknik yang digunakan supaya naskah bersedia dibuka dan diperlihatkan oleh pemiliknya.

Muh. Subair, Peneliti Lektur BLAM, menceritakan suka-duka mengumpulkan naskah kuno. Bahkah, dalam sekali perjalanan itu, ia terkadang menempuh perjalanan darat yang cukup jauh, sampai menyeberang pulau menggunakan perahu.

“Sudah jauh-jauh dan capek-capek mencari naskah, tetapi setelah sampai di tempat tujuan, ternyata naskah yang dimaksud tidak ada,” kata Subair, disambut tawa mahasiswa.

Selain kendala yang dihadapi di lapangan, ada juga kebanggaan yang dirasakan peneliti ketika menemukan naskah. Bahkan, perasaan lelah tersebut langsung sirna. Seperti inilah yang dirasakan Wardiah.

“Ada rasa bangga ketika naskahnya sudah ditemukan, karena di situlah muncul kekaguman terhadap karya-karya fenomenal orang-orang dulu. Dan, dengan naskahlah kita dapat mengetahui sejarah-sejarah budaya suatu daerah dan membuka cakrawala pengetahuan kita tentang budaya dalam konteks humanis, sosiologis, dan agama,” kata Wardiah.

Koordinator Bidang Lektur, Abu Muslim,  mengutarakan, BLAM telah mengumpulkan dan mendigitalisasi naskah-naskah budaya, sosial, dan agama sebanyak 1.146 buah naskah yang tersebar di Kawasan Timur Indonesia.

“Sebanyak 450 naskah di antaranya telah dicetak dan diterbitkan. Kota Tidore Kepulauan di Maluku Utara merupakan salah satu lumbung naskah, karena di daerah tersebut terdapat ±500 buah naskah,” kata Abu Muslim.

Abu Muslim, menjelaskan, dalam mendigitalisasi naskah diperlukan peralatan khusus dan memadai, seperti kamera yang digunakan harus mempunyai tingkat resolusi dengan kualitas tinggi dan menggunakan gagang penyangga (tripod) yang realible.

Begitupun dengan fokus pencahayaan pada naskah ketika pemotretan harus seimbang, agar tidak terjadi backlight. Kemudian tahap akhir digitalisasi dimasukkan ke aplikasi ­e-book agar mudah dibaca dan menarik.

“Naskah-naskah yang ditemukan ini, beberapa menggunakan aksara serang atau aksara lontara. Karena itu, perlu ditransliterasi terlebih dahulu untuk memudahkan mengungkap makna atau isi yang terkandung di dalam naskah.

“Untuk meneliti naskah, selain harus membekali diri dengan peralatan yang memadai, peneliti juga sebaiknya memiliki sedikit pengetahuan tentang bahasa dan tulisan, seperti bahasa lokal atau bahasa daerah, bahasa Arab, ataupun pengetahuan tentang aksara pallawa, lontara, dan serang,” jelas Abu Muslim.

Saat dibuka sesi tanya-jawab, beberapa mahasiswa mengajukan pertanyaan. Mereka penasaran dengan pengalaman peneliti menelusuri manuskrip, serta kondisi manuskrip pada saat ditemukan  di rumah pemiliknya.

Fika Asyah, misalnya, menanyakan bagaimana bentuk naskah yang banyak ditemukan peneliti, apakah menggunakan bahasa Arab atau bahasa lain. Hernisah menanyakan sistem kerja peneliti dalam mengumpulkan naskah. Sementara Nurdiana ingin mengetahui kendala yang dihadapi peneliti saat melakukan penelitian. (dal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *