Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Hadapi Kelompok “Aliran Bermasalah”, BLAM Lahirkan “Risalah Pettarani”

4 min read

Peneliti Syamsurijal dan Sabara memandu FGD, Selasa, 10 Desember 2019. Foto: Risma

2,708 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Pertemuan Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) dengan sejumlah tokoh agama dan akademisi terkait Penanganan Kelompok Aliran Bermasalah di Kawasan Timur Indonesia, melahirkan enam butir rekomendasi, yang diberi nama “Risalah Pettarani.”

Pertemuan yang dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD), di Hotel Claro Makassar, Selasa, 10 Desember 2019, menghadirkan peserta yang terdiri atas berbagai kalangan.

Selain Peneliti Bidang Bimas BLAM, peserta yang hadir untuk mendiskusikan tema yang lagi-lagi menjadi “hangat” di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat itu, antara lain, Dosen UIN Alauddin Makassar, Kemenag Kota Makassar, Kemenag Kabupaten Gowa, MUI Kota Makassar, dan MUI Kabupaten Gowa.

Hadir juga FKUB Kota Makassar, FKUB Kabupaten Gowa, NU Kota Makassar, Gusdurian Makassar, International Office, Lakpesdam NU Makassar, Lapar, Mahabbah Institute, Khalwatiyah Yusuf Baji Dakka, dan Khalwatiyah Samman.

Suasana jalannya diskusi berlangsung alot, dan terkadang “memanas”. Sejak pagi hingga sore, peserta diskusi saling memberikan masukan dan kritikan. Bahkan, siapa yang dimaksud kelompok aliran bermasalah, juga sempat menjadi diskusi menarik. Sebagian besar peserta kurang sreg dengan istilah tersebut.

“Agak rancu juga menyatakan kelompok bermasalah. Jangan-jangan, mereka yang selama ini dianggap oleh kelompok mainstream sebagai aliran bermasalah, bisa saja malah menuding balik, dan menyatakan, merekalah (kelompok mainstream) yang bermasalah,” kata beberapa peserta.

Bukan itu saja. Bila ada komentar dari peserta yang kurang disetujui peserta lain, mereka pun langsung menimpali, sekaligus memberikan tanggapan balik. Meskipun begitu, jalannya diskusi tetap dalam suasana kekeluargaan, dan kerap pula diselingi guyonan khas Peneliti BLAM.

Saat memberikan sambutan, Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, menyatakan, fenomena kemunculan beragam aliran di Indonesia sangat sulit dihindari. Dari sekian banyak kelompok tersebut, ada yang kemudian memberikan stigma sesat dan sempalan kepada kelompok tersebut. Tak jarang dari pimpinan kelompok itu berakhir di balik jeruji penjara.

Sebelum memulai diskusi, Peneliti Syamsurijal dan Sabara, memaparkan hasil penelitiannya terkait kelompok aliran, dalam hal ini tarekat, yang dianggap bermasalah. Dianggap bermasalah, karena kehadiran mereka meresahkan masyarakat, dan akhirnya ditangani pihak berwajib.

“Dalam diskusi FGD ini, saya mengajak Bapak-bapak dan Ibu-ibu untuk bersama-sama membincangkan bagaimana seharusnya menghadapi kelompok yang dianggap bermasalah ini. Pada akhir diskusi ini, kita akan merumuskan bersama risalah terkait penanganan kelompok aliran bermasalah itu,” kata Syamsurijal. (ir)

Isi Risalah Pettarani sebagai berikut: 

“RISALAH PETTARANI”

Perbedaan dalam memahami ajaran agama lumrah dalam sejarah perjalanan berbagai agama di dunia ini. Sejak dari dulu kasus-kasus aliran agama yang menyempal dari paham mainstream acap kali terjadi. Dengan demikian, fenomena maraknya paham-paham keagamaan dan aliran keagamaan dalam era kiwari ini adalah hal biasa.

Hanya saja, perkembangan paham-paham berbeda tersebut harus menjadi perhatian kita bersama. Apalagi, jika munculnya aliran berbeda dianggap dapat membawa persoalan sosial di masyarakat, misalnya konflik yang dapat mengganggu ketentraman sosial.

Dalam satu dekade terakhir ini, di Indonesia Timur, seperti temuan penelitian Litbang Agama Makassar, beberapa aliran yang dianggap berbeda muncul di berbagai tempat. Beberapa di antaranya telah difatwa sesat dan sebahagian lainnya malah telah ditangkap karena dianggap menodai agama dan mengganggu kehidupan sosial kemasyarakatan.

Pendekatan hukum dalam menangani persoalan aliran keagamaan yang berbeda, bukanlah satu-satunya cara. Apalagi jika aliran yang bersangkutan tidak bertentangan dengan prinsip akidah, mengganggu stabilitas, tidak anti NKRI dan tidak anti terhadap Pancasila.

Karena itulah, untuk menyelesaikan persoalan-persoalan aliran berbeda yang sedang berkembang, maka Forum Diskusi Terfokus yang diadakan Balai Litbang Agama Makassar merekomendasikan beberapa hal:

  1. Dalam memandang aliran yang berbeda harus dimulai terlebih dahulu dengan sikap penuh penghargaan dan tanpa prasangka apa-apa serta mengedepankan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia.
  2. Mengedepankan dialog yang setara dan sikap yang sungguh-sungguh untuk mendengarkan pandangan semua pihak menyangkut pandangan yang diperselisihkan.
  3. Aliran-aliran yang berbeda dari mainstream, diharapkan menghargai ajaran agama yang umum dipahami oleh masyarakat dengan tidak melakukan penyesatan terhadap ajaran agama yang umum. Di saat yang sama jika ada di antara ajaran dari aliran yang berbeda yang dianggap tidak lazim dan berpotensi menimbulkan keresahan, lebih baik tidak usah diekspresikan di tengah masyarakat umum.
  4. Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini membuat informasi sangat mudah diterima oleh berbagai pihak kendati sering kali informasi tersebut, khususnya yang terkait dengan aliran keagamaan, tidak sesuai dengan fakta yang sesungguhnya. Karena itu perlu membangun budaya tabayyun (klarifikasi) untuk semua informasi yang diterima.
  5. Perlunya hadir dua organisasi besar keagamaan (khusus Islam), yakni NU dan Muhammadiyah mendampingi masyarakat secara intensif (malesureng), khususnya dalam amalan-amalan keagamaan.
  6. Jika teridentifikasi munculnya aliran-aliran yang berbeda di masyarakat, maka langkah-langkah yang perlu ditempuh antara lain:

a. Pemetaan/riset dari berbagai sisi secara objektif. Dalam hal ini riset tidak hanya terkait persoalan agama, tetapi juga terkait persoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya.

b. Koordinasi multi-instansi, khususnya instansi pemerintah, untuk menentukan keberadaan aliran yang berbeda dan merumuskan strategi penyelesaian selanjutnya.

c. Pendampingan secara intensif terhadap aliran yang dianggap berbeda dan berpotensi melahirkan kekisruhan sosial. Pendampingan itu terkait dengan paham yang mereka anut dengan pendamping dari orang-orang yang memahami sistem yang mereka anut. Dalam proses pendampingan ini bisa melibatkan penyuluh, ahli tarekat, dan seterusnya.

d. Dialog yang setara yang bisa mendekatkan pemahaman antara kedua belah pihak.

e.Reedukasi dengan menggunakan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat.

f. Jika ada persoalan ekonomi dan lainnya, maka perlu pendampingan dalam hal-hal yang terkait dengan persoalan di luar agama tersebut itu.

 

Pettarani, 10 Desember 2019

 

Balai Litbang Agama Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *