Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Membangun Moderasi Beragama Melalui Kebudayaan Lokal

4 min read

Sumber gambar: gurumadrasah.com

5,416 total views, 28 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Dalam buku moderasi beragama terbitan Kementerian Agama (2019:43), disebutkan empat indikator moderasi beragama. Yaitu, 1) komitmen kebangsaan, 2) toleransi, 3) anti kekerasan, dan 4) akomodatif terhadap kebudayaan lokal.

Radikalisme sebagai anti-tesa dari moderasi beragama umumnya menyerang tiga segmen, yaitu; institusi negara, pluralitas, dan kebudayaan lokal.

Ideologi politik keagamaan membuat misi kelompok radikalis adalah menggulingkan kekuasaan negara dan mengganti sistemnya dengan sistem politik berbasis agama.

Paradigma tafsir tunggal atas ajaran agama membuat kelompok radikalis akan agresif menentang perbedaan. Semangat puritanisme agama meniscayakan kelompok radikalis melakukan gerakan pemurnian dengan membersihkan unsur-unsur agama dari pengaruh kebudayaan lokal.

Pendekatan kebudayaan lokal dapat menjadi kunci membangun paradigma dan sikap moderasi beragama, dan di lain sisi, dapat menahan pengaruh penetrasi radikalisme beragama. Sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal akan mengantarkan sikap keberagamaan yang inklusif dan toleran, serta menjadikan suasana kehidupan keagamaan lebih damai, dinamis, dan semarak.

Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap khazanah agama.

Perjumpaan agama dengan khazanah kebudayaan lokal, menjadikan agama menjadi “multi wajah”. Ketika agama menjumpai varian kultur lokal, yang segera berlangsung adalah aneka proses simbiosis yang saling memperkaya.

Akhirnya, muncullah beragam varian keagamaan yang plural, dinamis, dan semarak dalam ragam ekspresi kehidupan keagamaan. Hal ini akan memantik cara pandang yang akomodatif dan terbuka yang akhirnya akan membentuk paradigm dan sikap keberagamaan yang moderat dalam menyikapi kenyataan.

Sikap radikal-frontal akan jauh dari mereka yang menjadikan keberagamaannya akomodatif terhadap kebudayaan lokal.

Agama tidak datang dalam modus yang ofensif dan berpretensi menghabisi varian lokal yang dihampirinya. Sebaliknya, agama mesti hadir untuk kemudian masuk dan berdifusi hingga memberikan pengaruh pada wajah kebudayaan sebuah komunitas tanpa menghilangkan identitas keagamaan maupun lokalitasnya.

Sehingga, agama dan kebudayaan lokal berjalin-kelindan dan saling mengisi satu sama lain yang terwujud dalam sikap kearifan agama yang berbudaya dan budaya yang berlandaskan agama.

Praktik dan perilaku keberagamaan yang akomodatif terhadap kebudayaan lokal dapat digunakan untuk melihat sejauh mana kesediaan untuk menerima praktik amaliah keagamaan yang mengakomodasi kebudayaan lokal dan tradisi.

Orang-­orang yang moderat memiliki kecenderungan lebih ramah terhadap penerimaan tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamaannya, sejauh tidak bertentangan dengan pokok ajaran agama.

Tradisi keberagamaan yang tidak kaku, antara lain, ditandai dengan kesediaan untuk menerima praktik dan perilaku beragama yang tidak semata­mata menekankan pada kebenaran normative. Melainkan juga menerima praktik beragama yang didasarkan pada keutamaan, tentu, sekali lagi, sejauh praktik itu tidak bertentangan dengan hal yang prinsipil dalam ajaran agama.

Sebaliknya, ada juga kelompok yang cenderung tidak akomodatif terhadap tradisi dan kebudayaan, karena mempraktikkan tradisi dan budaya dalam beragama akan dianggap sebagai tindakan yang mengotori kemurnian agama.

Sikap inilah yang ditunjukkan oleh kaum radikalis dalam bentuk aksi-aksi frontal yang ofensif terhadap kebudayaan lokal karena dianggap mencemari kemurniaan ajaran dan praktik agama yang dia anut.

Sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal menjadi pendekatan utama untuk melihat keragaman sebagai realitas yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat.

Sikap kearifan iniakan tumbuh dengan baik jika setiap individu membuka diri untuk hidup bersama dalam perbedaan, yang ditandai dengan perbedaan dalam ekspresi, dan simbol kebudayaan sebagai identitas masing-masing, yang meski berbeda tapi memperkaya kahazanah agama dan kebudayaan yang ada.

Ketika terjadi konflik horisontal bernuansa agama pada beberapa daerah di Indonesia, implementasi pendekatan kearifan dan kebudayaan lokal ternyata cuku pefektif sebagai media penyelesai konflik tersebut.

Sebut saja kasus konflik bernuansa agama di Maluku antara 1999-2002, pendekatan kearifan lokal pela dan gandong berhasil menjadi media rekonsiliasi konflik anatra pihak-pihak yang bertikai.

Dengan demikian kearifan dan kebudayaan lokal cukup efektif menjadi modal sosial-kultural dalam penyelesaian konflik dan membangun masyarakat yang kembali harmonis.

Praktik keagamaan yang berpadu dengan kebudayaan lokal menumbuhkan semangat toleransi aktif, misalnya yang terjadi di Bali. Saat umat Hindu melaksanakan kegiatan keagamaan hari raya Nyepi, umat Islam ikut serta dalam mengarak Ogoh-­ogoh dan menyumbangkan minuman serta makanan untuk umat Hindu.

Sebaliknya, saat umat Islam merayakan Maulid Nabi, umat Hindu akan memberikan sumbangan berupa makanan, dan ketika Idul Fitri, umat Hindu datang bersilaturahmi.

Hal ini menandakan, sikap keagamaan yang akomodatif terhadap kebudayaan lokal akan melahirkan sikap saling menghargai, serta menjadi ruang perjumpaaan kerukunan sekaligus menjadi pranata sosial yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang dialog mana­kala terjadi persoalan sosial yang melibatkan kedua pihak.

Akhirnya, sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal dapat ditransformasi menjadi kekuatan pembentuk semangat dan sikap moderasi beragama.

Praktik-praktik keagamaan yang akomodatif terhadap kebudayaan lokal dapat dimanfaatkan sebagai ruang perjumpaan dan penerimaan di antara berbagai pihak yang bahkan berbeda agama untuk bergabung bersama dalam suasana yang kultural dengan tanpa menggerus batas-batas sakralitas masing-masing agama.

Sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal menjadi ruang bersama untuk terlibat aktif dan merayakan perbedaan, dan di sisi lain, secara efektif menjadi modal sosial-kultural dalam menyelesaiakn konflik bernuansa agama. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *