Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

BLAM Sosialisasikan Delapan Hasil Penelitian di Samarinda

3 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, berfoto dengan peserta sosialisasi penelitian di Samarinda. Foto: Istimewa

3,883 total views, 2 views today

SAMARINDA, BLAM – Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, menyatakan, kegiatan sosialisasi hasil penelitian adalah salah satu upaya untuk menginformasikan hasil riset yang telah dilakukan Peneliti BLAM kepada publik.

“Mensosialisasikan hasil penelitian juga sekaligus untuk menepis anggapan sebagian orang yang menyatakan kami tidak menghasilkan apa-apa dari kegiatan penelitian. Kami juga membantah anggapan orang, bahwa hasil riset kami hanya akan menjadi tumpukan kertas di perpustakaan,” kata Saprillah, sebelum membuka kegiatan “Sosialisasi Hasil Penelitian 2019”, di Hotel Swiss Bell, Samarinda, Senin pagi, 25 November 2019.

Sejak pagi hingga sore, BLAM mensosialisasikan delapan hasil penelitian tahun 2019 dari tiga bidang penelitian.

Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, misalnya, mensosialisasikan tiga riset mereka, yaitu “Indeks Karakter Siswa di KTI”, “Implementasi Kebijakan Pengangkatan Guru Pendidikan Agama pada Sekolah”, dan “Pengelolaan dan Pemberdayaan Guru Non Pegawai Negeri Sipil di Madrasah Negeri”.

Tiga judul penelitian tersebut masing-masing dipresentasikan Dr. Hj. Mujizatullah, Dr. Badruzaman, dan Amiruddin, yang dimoderatori Abdul Rahman.

Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan menyajikan penelitian “Efektivitas Pelayanan Bimbingan Manasik Haji pada Kementerian Agama di KTI” dan “Best Practice Kerukunan Umat Beragama di KTI”, yang disosialisasikan kordinator bidangnya, Sitti Arafah, dan dipandu Muh. Irfan Syuhudi.

Sementara Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, mensosialisasikan riset “Ragam Sumbangsih Migran Bugis dalam Pengembangan Pendidikan Keagamaan Islam,” “Moderasi Beragama dalam Tradisi Lisan Masyarakat,” dan  “Kajian Konten Khutbah Jumat pada Masjid Perkotaan.”

Mereka yang menyajikan presentasi adalah Muh. Zubair, Abu Muslim, dan Syarifuddin. Sedangkan Husnul Fahimah Ilyas bertindak selaku moderatornya.

Saprillah menyatakan, sosialisasi hasil penelitian BLAM sangat penting, terutama di era serba digital seperti saat ini. Dengan kehadiran internet, sebagian orang cenderung menjadi malas membaca buku. Mereka kemudian hanya mengandalkan informasi yang diperoleh dari sumber internet.

Padahal, kata Saprillah, banyak juga informasi yang beredar di internet tak memiliki sumber jelas, dan menjurus kepada kebohongan. Mereka yang tadinya tidak tahu apa-apa, lantas menjadi sok tahu dan sok pintar, karena mendapatkan informasi dari google.

Masalahnya, kata Saprillah, orang seperti ini biasanya tidak memiliki kemampuan political dari sumber yang sedang dibacanya melalui mesin pencarian google. Padahal, informasi yang terdapat di internet itu dibuat oleh seseorang dengan kepentingan sosial-politik tertentu, tanpa mempertimbangkan aspek sosial politiknya di masyarakat.

Menurut Saprillah, dampak negatif dari zaman digitalisasi adalah orang-orang akan kesulitan lagi membedakan informasi benar, dan informasi bohong. Saprillah lantas mengutip Tom Nichols, yang menulis tentang “Matinya Kepakaran” (The Death of Expertise).

Tom Nichols adalah Profesor di US Naval War College. Buku tersebut ditulis, lantaran ia dihinggapi kegelisahan menyaksikan masyarakat Amerika yang terlihat cuek pada perbincangan wacana publik.

Nichols juga melihat, orang-orang tidak hanya memeroleh informasi yang benar, melainkan memperjuangkan informasi yang salah, sembari tak ingin belajar atau mencari yang benar. Yang diperkirakan fakta dipertahankan, meski sekabur apapun fakta (dalam tanda petik) tersebut.

“Yang jadi persoalan, ketika pakar ditiadakan, informasi yang benar disangkal, dan lantas kebodohan dibanggakan. Setelah matinya kepakaran, orang-orang kemudian merasa benar dengan pengetahuannya yang keliru, seperti yang dikhawatirkan pakar Psikologi Cornell University, Dunning-Kruger,” kata Saprillah.

Teori Dunning-Kruger Effect dicetuskan Profesor Psikologi dari Cornell University, David Dunning dan Justin Kruger, pada 1999. Individu yang mengalami Dunning-Kruger Effect akan merasa kemampuan mereka jauh lebih tinggi dari sebenarnya, yang disebabkan oleh ego.

Nah, itu situasi yang kita hadapi sekarang. Itu sebuah penyakit psikologis, di mana orang mengalami delusi pengetahuan dan delusi kebenaran. Di sinilah penelitian menjadi penting untuk menjadi sains atau semacam alternatif pemikiran dan pendapat dari sesuatu yang tengah kita bincangkan,” jelas Saprillah.

Peserta yang hadir pada kegiatan sosialisasi tampak serius menyimak pemaparan peneliti, sekaligus menanggapi pemaparan sosialisasi penelitian dari masing-masing bidang peneliti.

Bahkan, peserta yang terdiri atas, antara lain, pejabat struktural Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kalimantan Timur, Kantor Kemenag Kota Samarinda, Pemerintah Kota Samarinda, akademisi, FKUB, Lembaga Swadaya Masyarakat, bahkan mengusulkan beberapa topik untuk dijadikan tema penelitian. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *