Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

Sosialisasikan Riset di Jayapura, Informan: Ini Bisa Menjadi Referensi Penanganan Masalah Sosial Keagamaan

3 min read

Dua Peneliti BLAM, Sabara dan M. Irfan, bersama Dr. KH. Toni Wanggai dan Fadhal Al-Hamid, di Jayapura. Foto: Istimewa

3,096 total views, 2 views today

JAYAPURA, BLAM – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Sabara Nuruddin dan Muh. Irfan Syuhudi, melakukan lawatan ke Kota Jayapura, Senin-Rabu, 18-20 November 2019.

Lawatan mereka kali ini adalah untuk mensosialisasik1an hasil penelitian “Dinamika Kebangsaan dan Keagamaan pada Masyarakat Perbatasan di Kawasan Timur Indonesia,” yang diteliti pada Juni – Juli 2019, sekaligus memberikan hasil laporan penelitian mereka kepada masing-masing informan.

Selain Jayapura, BLAM juga meneliti di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang berbatasan dengan Malaysia. Penelitian di Jayapura dilakukan Muh. Irfan Syuhudi dan Paisal, sedangkan di Pulau Sebatik oleh Muh. Ali Saputra dan Sabara Nuruddin, yang bertindak selaku koordinator penelitian ini .

Selama sosialisasi, dua Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan itu, bertemu dan berbincang-bincang dengan sejumlah pejabat struktural, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat, yang pernah menjadi informan lapangan mereka.

Mereka adalah Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jayapura, Syamsuddin, Kasi Bimas Katolik Kemenag Kota Jayapura, Hendrikus Harun, Anggota Pokja Majelis Rakyat Papua (MRP) dan Ketua Umum PWNU Papua, Dr. KH. Toni Victor Wanggai, Mantan Ketua Sinode GKI Papua, Pendeta Albeth Yoku, serta Aktivis Majelis Muslim Papua, Sayyed Fadhal Al-Hamid.

Saat mengobrol dengan Kepala Kemenag Kota Jayapura, Syamsuddin, di ruang kerjanya, Selasa pagi, 19 November 2019, Peneliti Muh. Irfan Syuhudi, mengemukakan, hasil risetnya ketika meneliti di Distrik Muara Tami, Jayapura. Muara Tami adalah Distrik yang berbatasan dengan negara Papua Nugini (PNG). Muara Tami sendiri dikenal dengan “daerah perbatasan.”

Sabara Nuruddin, yang pada Maret 2018 lalu, meneliti Fact Finding Kasus Pembangunan Menara Masjid Agung Al-Aqsa di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, juga menjelaskan hasil temuan risetnya itu.

Untuk memperkuat sosialisasi, Sabara juga membawa dan kemudian memberikan laporan penelitiannya itu kepada masing-masing informan yang diajak berdiskusi.  Tak lupa pula, peneliti memberikan buku terbitan BLAM 2018, yang ditulis Peneliti Bimas Agama dan Layanan Keagamaan berjudul “Kuasa, Agama, dan Identitas; Potret Politik Identitas di Indonesia Bagian Timur.”

Jalannya disksusi berlangsung menarik. Apalagi, informan kerap mengaitkan penelitian ini pasca terjadinya kerusuhan di Jayapura, Agustus dan September 2019. Kepala Kemenag Kota Jayapura, Syamsuddin, misalnya. Ia menyatakan, aktivitas para penyuluh agama yang bertugas di Muara Tami pasca terjadi kerusuhan di Jayapura, tidak terganggu dan berjalan seperti biasanya.

“Program kepenyuluhan agama tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja, mereka mesti lebih berhati-hati menjalankan tugas pasca kejadian di Jayapura. Ini juga untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi kepada mereka.

“Kami senang dengan hasil penelitian ini. Kami akan menjadikan referensi penelitian ini dalam mengambil kebijakan,” sambung Syamsuddin.

Kasi Bimas Katolik Kemenag Jayapura, Hendrikus Harun, menyatakan, umat Katolik di Muara Tami yang tinggal di Kampung Mosso, juga tetap menjalankan ibadah di Papua Nugini tanpa gangguan. Sesuai data yang diperoleh peneliti, orang Mosso selama ini memang selalu beribadah ke PNG, karena jaraknya lebih dekat dibanding gereja di Muara Tami.

“Membangun Papua itu juga mesti melalui pendekatan edukasi mental. Bukan sekadar uang dan perbaikan infrastruktur,” kata Hendrikus Harun.

Dr. KH. Toni Wanggai, yang ditemui peneliti pada siang hari, mengemukakan, ketika terjadi kerusuhan di Jayapura, kondisi sosial masyarakat di “daerah perbatasan” berlangsung kondusif. Meski begitu, relasi umat beragama di Muara Tami tetap terbangun harmonis.

“Alhamdulillah, Kota Jayapura sekarang ini sudah aman. Relasi umat beragama dan antaretnis juga sudah kembali harmonis, dan seperti sedia kala. Ini juga berkat peran dan kerjasama sejumlah pihak, seperti pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat, yang langsung bergerak cepat mengantisipasi supaya keributan tidak melebar ke mana-mana,” kata Toni Wanggai.

Pada akhir diskusi, informan yang ditemui mengucapkan terima kasih kepada Peneliti BLAM. Menurut mereka, hasil temuan penelitian BLAM ini memberikan informasi tambahan mengenai kondisi Kota Jayapura dan Papua.

“Kami berterima kasih kepada teman-teman Peneliti BLAM yang meneliti di daerah kami. Tentunya, kami akan menjadikan hasil penelitian BLAM ini sebagai rujukan dan referensi untuk penanganan masalah sosial keagamaan pada masyarakat perbatasan dan pembangunan rumah ibadat di Papua,” kata Toni Wanggai. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *