Sun. Nov 29th, 2020

BLAM

KEREN

Mengenal Asynchronous Learning

5 min read

Sumber gambar: pinterest.com

6,011 total views, 24 views today

Oleh: Badruzzaman (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Pembaca masih ingat metode pembelajaran CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)? Suatu pendekatan pembelajaran yang menitikberatkan pada keaktifan siswa. CBSA menuntut penggunaan berbagai jenis metode untuk mengaktifkan keterlibatan potensi siswa.

Pendekatan pembelajaran ini melibatkan siswa secara fisik, mental, emosi, dan intelektual untuk mencapai tujuan pendidikan yang berhubungan dengan wawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik secara optimal.

CBSA merupakan model pembelajaran yang berdasar pada filosofi pembelajaran Constructivist. Secara epistemologis, Constructivism berasumsi, pelajar memiliki pengetahuan dan pengalaman sebelumnya, yang sering ditentukan oleh lingkungan sosial dan budaya mereka.

Karena itu, pembelajaran dilakukan oleh siswa untuk “membangun” pengetahuan dari pengalaman mereka. Pembelajaran menekankan pada interaksi antar guru dan siswa, antar siswa, dan alat kognitif untuk membentuk konstruksi mental, emosi, dan intelektual siswa.

Era teknologi informasi dan komunikasi saat ini, menuntut para ahli pendidikan untuk menciptakan model pembelajaran baru. Model CBSA yang berakar dari konstruktivisme berkembang menjadi model pembelajaran baru, setelah bersentuhan dengan perkembangan teknologi mutakhir, yaitu Asynchronous learning.

Asynchronous learning adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan bentuk-bentuk pendidikan, pengajaran, dan pembelajaran yang tidak terjadi di tempat yang sama, atau pada waktu yang sama. Ia merupakan metode pengajaran yang berpusat pada siswa dan  menggunakan sumber belajar online untuk memfasilitasi berbagi informasi di luar kendala waktu dan tempat.

Perlu dicatat, Asynchronous learning biasanya diterapkan pada interaksi belajar guru-siswa atau peer-to-peer yang terjadi di lokasi berbeda, atau pada waktu yang berbeda, untuk membangun pengetahuan siswa dari pengalaman pembelajaran online yang tidak melibatkan instruktur, kolega, atau rekan.

Asynchronous learning menerapkan berbagai bentuk pembelajaran digital dan online, di mana siswa belajar dari instruksi yang tidak disampaikan secara langsung (indirect) atau real-time.

Konten pelajaran biasanya dibuat dalam bentuk video yang direkam sebelumnya atau tugas pembelajaran berbasis permainan yang diselesaikan sendiri oleh siswa.

Asynchronous learning juga dapat mencakup berbagai interaksi pembelajaran, termasuk pertukaran email antara guru, papan diskusi online, dan sistem manajemen kursus yang mengatur materi pengajaran dan korespondensi, di antara banyak variasi lain yang mungkin.

Secara historis, Asynchronous learning semula berkembang pada akhir abad 19, ketika pendidikan korespondensi diformalkan. Materi pembelajaran dikirim melalui pos kepada peserta didik yang jauh secara fisik ke dalam kelompok pendidikan.

Pada 1920-an dan 1930-an, teknologi perekaman audio dipergunakan  untuk merekam konten pendidikan (suara guru), lalu disiarkan melalui siaran radio yang merevolusi penyebaran informasi secara massal.

Distribusi signifikan pertama konten pendidikan terjadi selama Perang Dunia II, cabang-cabang militer AS menghasilkan ratusan film pelatihan yang diputar sampai jutaan kali. Asynchronous learning online (Asynchronous E-Learning) mulai dikembangkan  pada awal 1980-an.

Aplikasi, semisal bahasa pemrograman Logo Seymour Papert, siswa dapat belajar dengan kecepatan secara mandiri. Ketika komputer memasuki lebih banyak rumah tangga dan sekolah mulai terhubung ke Internet yang baru lahir, jaringan Asynchronous E-Learning mulai terbentuk.

Quipper

Dewasa ini, banyak sekali aplikasi Asynchronous E-Learning yang diproduksi. Quipper merupakan jenis Asynchronous E-Learning  yang menyediakan konten edukasi berbentuk video. Quipper merupakan perusahaan teknologi edukasi yang memproduksi fasilitas sistem pembelajaran online.

Perusahaan ini didirikan oleh Fumihiro Yamaguchi pada tahun 2010 di London, Inggris. Quipper telah berkembang di 4 (empat) negara yaitu Jepang, Indonesia, Filipina, dan Meksiko. Semula perusahaan ini  melayani Learning Management System (LMS) yang beroperasi antar negara.

Layanan terus berkembang dengan menyediakan fasilitas bimbingan belajar, tutor online hingga masuk perguruan tinggi. Quipper memiliki beberapa produk: Quipper School  bisa diakses secara gratis oleh siswa dan guru. Menyediakan fasilitas upload materi belajar dan tugas.

Quipper Video menyediakan solusi belajar online untuk siswa SMP & SMA dengan akses terhadap ribuan video pembelajaran disertai latihan soal & pembahasan. Video pembelajaran dilengkapi materi persiapan Ujian Nasional (UN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Terdapat pula Quipper Video Masterclass untuk tutor bimbingan belajar secara online. Quipper Campus, merupakan portal informasi untuk para calon mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan seputar kampus dan jurusannya secara lengkap.

Zenius merupakan Asynchronous E-Learning yang sama, diproduksi oleh PT Zenius Education. Perusahaan pendidikan berbasis teknologi ini didirikan oleh putra Indonesia, Sabda PS dan Medy Suharta pada 2007.

Zenius Education menyediakan layanan akses pendidikan dalam format video berbahasa Indonesia yang disajikan secara online melalui website (zenius.net), maupun secara offline dengan media CD dan DVD.

Produk Zenius secara umum terbagi menjadi dua, yaitu: Situs web belajar dan Paket Xpedia 2.0. Ruang guru, aplikasi yang sama berbasis Android ini juga diciptakan oleh dua orang putera Indonesia, Adamas Belva Syah Devara dan Muhammad Iman Usman, pada 2014.

Perusahaan sturtup ini menyediakan program  “ruang belajar” (latihan menyelesaikan soal dalam bentuk video), “ruanglesonline” (media sosial menyediakan konsultasi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah/PR), “digitalbootcam” (grup belajar online se Indonesia), “ruangles” (fasilitas untuk mencari guru frivat), “ruanguji” (layanan untuk menguji kemampuan menjawab soal ujian), dan ruangkelas (sarana kelas virtual untuk guru dan  siswa).

Selain itu, Youtube (sebuah situs berbagi video) dimanfaatkan oleh pengguna (Youtuber) untuk menyebarkan konten-konten edukasi. Lebih sepuluh  akun  yang memanfaatkan media sosial ini sebagai media edukasi.

Jika kita melakukan browsing dengan keyword “belajar”, maka kita akan menemukan berbagai jenis konten edukasi, mulai konten pendidikan PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA, bahkan PT, dan lainnya.

Satuan pendidikan dalam lingkup Kementerian Agama telah juga menggunakan Asynchronous E-Learning.

PTAN

Hampir seluruh Perguruan Tinggi Agama Negeri (PTAN) telah memiliki E-Learning. Beberapa di antaranya: UIN Jakarta, UIN Bandung, UIN Yogyakarta, UIN Makassar, UIN Aceh, UIN Sumatera Utara, UIN Semarang, UIN Palembang, UIN Banten, UIN Lampung, dan UIN Malang.

Juga, UIN Banjarmasin, IAIN Pare-Pare, IAIN Kendari, IAIN Ponorogo, IAIN Purwokerto, IAIN Palu, IAIN Pekalongan, IAIN Samarinda, IAIN Curup, IAIN Surakarta, IAIN Pontianak, IAIN Padangsidimpuan, IAIN Manado, IAIN Lhokseumawe, IAIN Batusangkar dan lainnya.

Ada banyak manfaat  Asynchronous E-Learning. Manfaat yang paling jelas adalah fleksibilitas, yang memungkinkan peserta didik mengatur jadwal belajar mereka. Fleksibilitas ini juga dapat bermanfaat bagi siswa mengatur kebutuhan belajar melalui program online yang tidak diperoleh di ruang kelas.

Siswa dapat merancang jadwal belajar mereka sendiri, siswa dapat berkolaborasi secara interaktif untuk  belajar  atau  bekerja  menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran, siswa dapat mengikuti pembelajaran  online dalam bentuk video, presentasi, dan proyek multimedia lainnya. Peserta didik juga dapat menyesuaikan urusan keluarga, pekerjaan, dan sekolah.

 Asynchronous E-Learning sudah dikenal ramai oleh masyarakat Indonesia. Bahkan beberapa pemerhati pendidikan Indonesia telah memproduksi aplikasi dan konten edukasi berbasis internet tersebut.

Bahkan, hampir semua perguruan tinggi baik negeri maupun swasta telah memiliki E-Learning, termasuk perguruan tinggi agama dalam naungan Kementerian Agama RI. Indonesia telah aktif terlibat memanfaatkan  perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pendidikan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *