Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Refleksi pada Bulan Maulid 1441 H: Pantulan Kemuliaan Nabi Muhammad Saw.

5 min read

Sumber gambar: Fimela.com

3,310 total views, 2 views today

Oleh: H.M.Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, jika seseorang membaca Al-Qur’an, ia akan menemukan ayat-ayat tersebut yang tersebar pada beberapa surah.

Bahkan, salah satu dari 114 surah dari kitab suci umat Islam ini diberi nama dengan nama Rasul Allah yang terakhir ini. Namanya Surah Muhammad, surah ke-47.

Tulisan ini berisi uraian yang dimulai dengan salah satu dari ayat Al-Qur’an. Yakni, Wa rafa‘naa laka dzikraka Artinya, Dan Kami tinggikan sebutan (nama)-mu bagimu. Ayat ini terdapat pada surah Al-Insyirah atau Asy-Syarh/94:4. Surah ini tergolong Makkiyah atau diturunkan pada periode Nabi Muhammad Saw. bermukim di Mekah.

Ketika itu jumlah umat Islam masih sangat sedikit. Mereka berada dalam posisi tertekan. Mereka dihalangi oleh pihak yang memegang kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi untuk mengamalkan ajaran agama dan mengembangkan dakwah Islam.

Sesuai namanya, surah ini menerangkan sejumlah nikmat Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Ayat pertama hingga tiga menyatakan, “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?” Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu (Al-Insyirah/94:1-3).

Beban yang dimaksud, menurut kitab Al-Qur’an dan Terjemahnya adalah kesusahan-kesusahan yang diderita Nabi Muhammad Saw. dalam menyampaikan risalah (2004:902). Rasulullah Saw. merasakan kepedihan di hati akibat berbagai pernyataan dan perlakukan menyakitkan yang ditujukan kepadanya. Pelakunya dari kaumnya sendiri yang menentang dakwahnya.

Sehubungan dengan itu, Allah Swt. memberi kelapangan dada kepada Nabi Saw. untuk  meneruskan dakwahnya dengan jiwa yang rida dan hati yang tenang (Hijazi, XXX, 1968:59).

 Nama Nabi Muhammad Saw. Dimuliakan

Allah Swt. meninggikan sebutan nama Nabi Muhammad Saw. Kedudukan ini dijabarkan dan diperkuat dalam sejumlah ketentuan agama. Nama Nabi Muhammad Saw. disebut sesudah nama Allah pada lafaz azan, doa, dan salat.

Penyebutan seperti itu, menurut Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi mencerminkan kedudukan yang tertinggi di sisi Allah. Ia mempertanyakan apakah ada kedudukan yang lebih tinggi dari itu (Hijazi, XXX, 1968:60).

Azan dalam kajian fikih dipandang sebagai amalan sunat. Sifatnya anjuran. Akan tetapi, membaca dua kalimat syahadat, yakni asyahadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasululah termasuk rukun salat.

Demikian pula hukum membaca salawat kepada Nabi Muhammad Saw., yakni Allahumma shalli ala Muhammad. Lafaz salawat wajib dibaca sesudah syahadat, sebelum menutup salat dengan salam.

Kedua lafaz itu juga wajib dibaca oleh khatib pada waktu menyampaikan khutbah Jumat. Adapun membaca salawat pada waktu berdoa dalam berbagai kesempatan lain hukumnya sunat.

Dengan demikian, penyebutan nama Nabi sebagai suatu penghormatan sesuai ajaran agama wajib dilakukan beberapa kali oleh umat Islam setiap hari. Penyebutan itu menjadi banyak dan berulang-ulang karena juga dianjurkan di luar ketentuan yang sifatnya wajib.

Jika dihitung sejak masa turunnya Al-Qur’an, maka penyebutan nama Nabi Muhammad Saw. dalam pelaksanaan ibadah sudah berlangsung lebih dari 1400 tahun. Jika umat pada zaman Rasulullah Saw. masih terbatas di Mekah dan Madinah serta daerah sekitarnya, maka kini umat berdiam di semua penjuru dunia di lima benua.

Mereka mengagungkan nama Allah Swt. dan mengucapkan nama Rasulullah Muhammad Saw. dalam salat dan rangkaiannya. Mereka menunaikan salat dengan tata cara yang unsur pokoknya sama di semua masjid. Dengan demikian, umat Islam memuliakan Nabi Muhammad Saw. secara nyata.

Walaupun persentasenya kecil, umat Islam di wilayah Western Cape, Afrika Selatan, memiliki hampir dua ratus masjid pada tahun 2018. Walaupun persentase umat Islam di India sekitar empat belas persen, namun jumlahnya sekitar dua ratus juta jiwa pada 2018 (Wikipedia).

Walaupun jumlah Muslim relatif kecil di Korea Selatan,  Jepang, dan Cina, namun terdapat masjid di beberapa kota. Di sana Muslim asli setempat dan Muslim pendatang atau pelancong menunaikan salat Jumat secara bersama-sama.

Beberapa masjid di kota London (2015) menyelenggarakan salat Jumat dua shift karena masjid tidak mampu menampung jamaah. Ini adalah beberapa contoh kecil kehadiran umat di berbagai tempat di muka bumi.

Mereka menempatkan nama Allah dan Rasul-Nya di hati dan dalam ucapan. Umat mengucapkan syahadat dan salawat dalam bahasa Arab, walaupun bahasa ibu mereka berbeda-beda. Umat memperlihatkan kesamaan ucapan, tindakan, dan kebersamaan dalam kegiatan keagamaan.

Balasan bagi Umat yang Bersalawat

Ayat Al-Qur’an memuat perintah yang tegas untuk membaca salawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Firman Allah Swt. menyatakan, Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya (Al-Ahzab/33: 56).

Dalam kitab Al-Qur’an dan Terjemahnya dijelaskan bahwa salawat dari Allah berarti memberi rahmat. Salawat dari malaikat memohonkan ampunan. Salawat dari mukmin berarti doa memohon rahmat (2004:602).

Dengan membaca salawat, seorang Muslim berzikir dan berdoa kepada Allah Swt.  Lafaz  Allahumma pada permulaan salawat berarti, “ya Allah”.

Rasulullah Saw. memiliki kedudukan yang mulia di dunia dan akhirat. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. menjelaskan, Saya adalah pemuka anak cucu Adam di hari kemudian, orang pertama yang tanah kuburnya terbuka, orang pertama yang memberi syafaat dan orang pertama yang diberi syafaat. (Muslim, II, 2011:394; Arraiyyah, 2016:139).

Selain itu, dalam sebuah hadis dijelaskan. Dari Aisyah, ia berkata, “Apabila Rasulullah menunaikan salat, maka ia berdiri hingga dua kakinya bengkak.” Lalu Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah! Mengapa engkau melakukan ini, padahal dosamu telah diampuni, baik yang lalu maupun yang akan datang?” Lalu Rasulullah menjawab,“Wahai Aisyah, apakah tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (Muslim, II, 2011:634)

Para rasul terhindar dari dosa. Artinya, mereka tidak meninggalkan kewajiban, tidak melanggar apa yang diharamkan, dan tidak melakukan sesuatu yang bertetangan dengan akhlak luhur. Pernyataan tersebut mengacu pada sejumlah ayat Al-Qur’an (Sabiq, 1986:288-294).

Sejalan dengan itu, doa untuk Nabi Muhammad Saw. memantul kepada orang yang berdoa. Selain itu, ia mempunyai keistimewaan untuk melakukan pembelaan bagi umatnya. Pembelaan itu disebut dengan syafaat.

Ketentuan untuk mendapatkan syafaat itu diterangkan dalam sejumlah hadis. Di antaranya, Nabi Muhammad Saw. bersabda, Barang siapa bersalawat kepadaku satu salawat, maka Allah akan memberi balasan kepadanya karena salawatnya itu dengan sepuluh anugerah. (HR Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmizi. Terjemah teks berdasarkan riwayat Imam Muslim) (an-Nawawi, 2005:255).

Tuntunan agama terkait salawat mengandung beberapa pelajaran. Di antaranya: (1) Membaca salawat merupakan suatu bentuk kepatuhan kepada Allah Swt.; (2) Manfaat salawat akan kembali kepada umat yang membacanya; (3) Balasan dari Allah jauh lebih banyak bagi umat yang membaca salawat; (4) Umat dipandu agar pandai menghargai orang yang berjasa kepadanya, utamanya di bidang spiritual; (5) Memberi dan menerima perlu dikembangkan secara timbal balik. Urutannya give and take.

Mengucapkan lafaz syahadat dan salawat dalam salat harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Demikian pula lafaz syahadat pada waktu azan dan doa sesudah azan. Semua itu bagian dari ibadah khusus. Pelaksanaan ibadah khusus mengikuti ketentuan Allah dan Rasul-Nya secara ketat.

Sesuai anjuran, umat Islam memiliki semangat yang tinggi untuk banyak membaca salawat. Dorongan itu memacu kreativitas  penciptaan beragam teks salawat kepada Nabi.

Beberapa pakar sastra Arab dan agama Islam membuat teks salawat yang indah dan sarat makna. Ragam teks itu dapat dijumpai pada beberapa kitab Maulid.

Teks itu menjadi masyhur karena sering dibawakan dengan lantunan suara yang indah pada pertemuan khusus. Qasidah Burdah adalah contoh teks yang penuh pesona dan sudah mendunia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *