Sat. Mar 28th, 2020

BLAM

KEREN

Radikalisme: Antara Perjuangan, Ancaman, dan Moderasi Beragama

3 min read

Sumber gambar: satuharapan.com

2,562 total views, 10 views today

Oleh: Arifuddin Ismail (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Rabu, 13 Nopember 2019, sekitar pukul 08.00, aksi bom bunuh diri kembali terjadi di Mapolres Medan. Gerakan ini terasa sangat mengganggu, karena masuk dalam wilayah sosial, terutama yang bersentuhan ranah “tata nilai” dan “sistem” yang sedang berlangsung.

Gerakan ini juga menjadi ancaman bagi banyak orang, khususnya orang-orang yang tidak sepaham atau berbeda dengannya, karena perubahan yang diinginkan dilakukan dengan kekerasan.

Aksi terorisme di Indonesia disinyalir didasari pemahaman agama eksklusif, doktrinal, kaku, disertai semangat juang tinggi dari kelompok radikalisme jihadis, dalam kaitannya dengan penegakan Syariat Islam.

Itulah sebabnya, terorisme selalu dikaitkan radikalisme jihadis. Padahal, tidak semua yang memilih sikap radikalis adalah teroris. Imbas dari sini memunculkan opini negatif dan mendiskreditkan posisi umat Islam, baik pada tingkat nasional maupun di dunia internasional. Terorisme dalam masyarakat Indonesia, eksistensinya dipengaruhi perkembangan dunia, khususnya di Amerika, Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan di Indonesia.

 Terorisme   tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi ada proses yang mendahului,  yaitu  dalam  kaitannya  dengan  “transformasi  keilmuan  agama” atau “transformasi pemahaman keagamaan.” Selain itu, terkait juga dengan situasi sosial yang dianggap merugikan dan mengancam eksistensi keyakinan dan komunitasnya.

Pemahaman agama yang bersifat doktrinal memungkinkan meningkat menjadi radikalisme (dalam bahasa politis), bahkan klimaks transformasinya merusak orang lain atau pedzaliman, istilah lainnya disebut terorisme (radikalisme jihadis).

Radikalisme jihadis merupakan puncak dari pemahaman keagamaan yang sempit. Sisi ini mengkhawatirkan, karena merambah ke dalam “kejahatan kemanusiaan”, dan juga kejahatan terhadap negara. Implikasi sosialnya bisa berakibat munculnya gesekan, goncangan, dan konflik secara terbuka, sehingga menjadi ancaman terhadap tatanan keberagamaan dan kebangsaan.

Radikalisme hadir mengusung seperangkat pemikiran yang berbeda dengan kultur dan tatanan sosial yang mengakar di masyarakat mainstream.

Persoalannya bukan pada substansi inti paham dan pemikiran di antara keduanya, melainkan para radikalis,  justru  membuka  ruang-ruang  konflik  dengan  tuduhan  negatif  terhadap kelompok mainstream, suka menyalahkan, dan menganggap paham mainstream berada pada jalur yang salah, ahlul bid’ah dan sesat, tidak bisa dipakai dalam beragama atau berislam.

Istilah yang dipakai adalah “thoghut”, kepada orang-orang yang tidak sepaham dengannya.  Thoghut adalah orang-orang  yang  tidak menjalankan syariat secara benar. Sandarannya pada an-Nahal 36, yaitu: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat, sembahlah Allah dan jauhi thaghut.

Para pengusung paham ini juga terkesan sangat tidak menyukai kalangan nonmuslim, karena mereka melihat sebagai sekutu Barat yang selama ini merusak Islam. Para tokoh dan pimpinan mereka telah menyuntikkan sentimen keagamaan, seperti konsep jihad dengan doktrinal yang bermakna perang.

Slogan “jihad” merupakan pilihan doktrin perjuangn yang harus ditegakkan. Penanaman doktrin ini diharapkan dapat menyentuh aspek kejiwaan yang bisa menumbuhkan keyakinan, semangat, tekad dengan militansi yang tinggi.

Penanaman paham yang disertai indoktrinasi akan memungkinkan semangat yang ada meningkat menjadi radikalisme, atau dalam istilah lain terorisme. Pada tingkatan ini, paham tadi membahayakan, sehingga mereka akan mendapatkan perlawanan dari kelompok Islam lain, yang tentunya berakibat akan rusaknya persatuan umat.

Penanaman konsep jihad sebagai doktrin yang mendasar bagi kelompok radikalisme dimulai dari pemahaman secara tekstual, karena apa yang tertera pada teks merupakan perwujudan dari yang dikehendaki Allah swt.

Konsep “jihad” dengan makna “perang” secara doctrinal sebagai kebenaran, ditanamkan dengan sentuhan hati yang mendalam. Cara tersebut dianggap ampuh, karena menyentuh hati yang bisa menumbuhkan keyakinan, semangat, tekad, dan fanatisme  yang tinggi.  Itulah sebabnya, radikalisme menjadi ancaman membahayakan, sehingga menjadi momok.

Radikalisme dan terorisme telah menjadi perbincangan untuk mencari alternatif solusi pencegahannya. Konsep-konsep yang diaplikasikan selama ini, dinilai  masih  bersifat  politis,  hukum, dan  ekonomi dengan  pendekatan  formal structural.

Hasilnya belum menunjukkan perkembangan signifikan. Radikalisme masih tumbuh di berbagai segmen kemasyarakatan. Ini menunjukkan, pada satu sisi radikalisme yang sudah mengakar di hati manusia sebagai kebenaran merasa perlu diperjuangkan; tetapi sisi lain menjadi ancaman bagi manusia lainnya.

Upaya pencegahan radikalisme yang dilakukan selama ini, belum banyak menggoyahkan pikiran dan hati kelompok radikalis. Berarti, ada yang perlu mendapat perhatian secara serius.

Salah satu pilihan sebagai solusi alternatif pencegahan radikalisme adalah, melalui moderasi beragama dengan perlakuan-perlakuan tersendiri, terutama pencucian akal pikiran, dalam arti kembali pada penggunaan Akal Sehat, karena titik nadir yang esensial manusia terdapat di akal dan hati yang ditopang oleh pembiasaan kebaikan dalam hidup keseharian. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *