Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Tantangan 2020 Makin Berat, Saprillah Meminta Koreksi Diri Bersama-sama

2 min read

BLAM menggelar kegiatan rapat kerja di Pantai Wisata Bintang Galesong, Takalar. Foto: Arie

3,145 total views, 2 views today

GALESONG, BLAM – Menjelang akhir 2019 dan memasuki 2020, Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) menggelar kegiatan bertajuk “Rapat Kerja 2020 dan Evaluasi Kelitbangan 2019”, selama empat hari, 12 – 15 November 2019, di di Pantai Wisata Bintang Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Selain membahas apa yang bakal direncanakan pada tahun mendatang, kegiatan ini juga akan dijadikan sebagai bahan evaluasi internal kinerja peneliti, pegawai, dan pegawai honorer.

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, mengemukakan, kemungkinan besar terjadi banyak kejutan pada 2020 yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Hal ini mengacu pada pengalaman 2018 dan awal 2019 terkait regulasi, di mana regulasi yang dikeluarkan pemerintah terkesan mendadak, sehingga dianggap merugikan pegawai maupun peneliti.

Dalam kegiatan ini, Saprillah, mengemukakan, tiga hal yang perlu dilakukan secara bersama-sama di lingkungan BLAM. Yang pertama adalah, ia meminta seluruh “anak buahnya” melakukan self correction, atau koreksi terhadap diri sendiri.

“Maksudnya, semua elemen di BLAM tanpa terkecuali, termasuk Kepala BLAM, bersama-sama melakukan self correction terhadap apa yang telah kita perbuat untuk kantor,” kata Saprillah, dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan rapat kerja, Senin sore, 12 November 2019.

Yang kedua, kata dia, semua peneliti maupun pegawai mesti siap menghadapi, dan menyiapkan diri terhadap berbagai perubahan kebijakan dan regulasi, seperti misalnya, strukturisasi dan kemungkinan adanya BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia).

Sejak wacana pembentukan BRIN bergulir, sejumlah peneliti di kementerian agama mulai diliputi beragam pertanyaan, seperti regulasi jenjang kepangkatan, hingga usia pensiun peneliti.

Bahkan, persoalan seputar di mana mereka nanti berkantor, juga menjadi bahan pertanyaan. Apakah tetap berkantor di tempat seperti sekarang ini, dipindahkan ke daerah lain, atau justru digabung dengan instansi lain.

“Kita semua belum tahu apakah BRIN sudah diberlakukan tahun depan atau tidak. Namun, apapun yang terjadi, kita semua harus siap menghadapi segala perubahan tersebut,” ujar Saprillah.

Pesan ketiga, kata pria kelahiran 1977 ini, ia meminta peneliti untuk ikut berkontribusi terhadap pembangunan agama.

“Tentunya, kontribusi kita kepada negara berkorelasi dengan hasil-hasil riset dan kegiatan pengembangan untuk pembangunan agama. Setidaknya, apa yang kita lakukan dapat bermanfaat untuk masyarakat. Misalnya saja moderasi beragama,” kata Saprillah.

Menurut Saprillah, apa yang negara berikan kepada para peneliti “plat merah” (Aparatur Sipil Negara) di seluruh Indonesia sudah menggembirakan. Negara telah memberikan gaji dan tunjangan lebih dari cukup.

“Kadangkala kita tidak menyadari, bahwa negara telah memberikan gaji dan tunjangan besar kepada kita semua. Karena negara memercayai kinerja kita, maka negara negara tak segan-segan memberi kita gaji besar. Nah, sebagai KPA (Kuasa Pengguna Anggaran), tugas saya adalah memastikan gaji dan tunjangan besar itu apakah berkorelasi dengan kontribusi kita terhadap pembangunan agama,” imbuh Saprillah.

Survei Monkey

Malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan mendengarkan pemaparan Kasubid Informasi Kelitbangan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Sri, yang menyajikan metodologi penelitian dengan sistem survei monkey atau survei online.

Sejauh ini, BLAM belum pernah melakukan penelitian menggunakan metodologi survei monkey. Dengan survei monkey, peneliti kemungkinan besar tidak “turun” lapangan, karena mengandalkan teknik informatika (IT). Tentunya, dengan model seperti ini, akan terjadi penghematan anggaran penelitian.

“Survei monkey ini juga untuk menyiasati penurunan anggaran penelitian tahun 2020. Selain itu, ini juga sekaligus menjawab tuntutan stakeholder yang menginginkan memeroleh hasil penelitian yang lebih cepat,” kata Sri. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *