Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Saprillah: Merayakan Maulid Merupakan Ekspresi Kecintaan kepada Nabi

2 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, memberi sambutan pada acara peringatan Maulid Nabi SAW di Kantor BLAM. Foto: M. Irfan

2,289 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, menyatakan, umat Islam sebaiknya tidak terjebak dengan perdebatan mengenai boleh tidaknya merayakan atau memeringati Maulid Nabi Mumammad SAW.

Menurut Saprillah, perdebatan mengenai boleh tidaknya merayakan Maulid telah berlangsung sejak lama, terutama pasca wafatnya Baginda Rasul. Ada ulama yang membolehkan, tetapi ada juga ulama yang tidak membolehkan, dengan alasan bid’ah.

“Kita tidak boleh ikut-ikutan terjebak dalam perdebatan itu (apakah boleh atau tidak memperingati Maulid). Yang terpenting bagi kita adalah, merayakan kelahiran Nabi merupakan salah satu bentuk ekspresi kecintaan kita terhadap Baginda Rasul,” kata Saprillah, saat memberi sambutan sebelum memulai acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di Aula Kantor BLAM, Senin, 11 November 2019.

“Kita berbahagia dan bergembira atas lahirnya manusia paling mulia di muka bumi. Kata ulama Albusyairi, Nabi Muhammad adalah manusia, tetapi tidak seperti manusia pada umumnya. Beliau ibarat intan permata di antara bebatuan,” sambung Saprillah.

Peringatan Maulid yang mengambil tema “Dengan Memperingati Maulid Nabi SAW Kita Tingkatkan Ketaqwaan kepada Allah SWT dan Kecintaan kepada Rasulullah SAW,” ini dihadiri seluruh pegawai BLAM dan Ibu Dharma Wanita BLAM. Juga, menghadirkan pembacaan barazanji dengan langgam Makassar, yang lazim dikenal dengan istilah a’rate.

Pembawa hikmah Maulid Nabi, H.M. Ashar Tamanggong, juga menyinggung perdebatan perayaan Maulid Nabi, yang tampaknya masih berlangsung “hangat” hingga kini. Menurut Ashar,  mencintai itu tidak perlu dirasionalkan, apalagi terhadap Nabi Muhammad SAW. Bagi dia, cinta itu melampaui ukuran rasionalitas.

“Kalau ada sesuatu yang tidak masuk akal, maka begitulah bentuk perasaan cinta. Bahkan, apabila ada orang yang tengah dilanda cinta, ungkapan-ungkapan yang terkadang tidak masuk akal pun akan menjadi masuk akal. Seperti, “Engkaulah Bulan”, “Engkaulan Matahari.” Tidak ada hiperbola dalam mengungkapkan perasaan cinta,” kata Ashar.

Selain itu, Ashar juga mengajak umat Islam untuk meneladani sikap nabi terhadap keluarganya. Salah satu contoh, menanggalkan segala macam atribut sosial yang melekat pada diri sebelum memasuki rumah dan bertemu keluarga.

Menurut Ashar, Nabi pada saat berada di rumah akan menanggalkan segala pangkat dan jababatn yang ada pada dirinya.

“Sebelum masuk rumah, beliau sudah melepaskan semua jabatan yang ada pada dirinya. Jadi, ketika berada di rumah, beliau adalah seorang ayah bagi anak-anaknya, suami bagi istrinya, dan kakek bagi cucu-cucunya. Sehingga, ketika masuk ke dalam rumah, semua yang ada di dalam rumah berhamburan menyambut kedatangan Nabi, karena yang datang adalah seorang ayah, suami, dan kakek,” kata Ashar.

‘Jadi, mohon maaf. Begitupula kita. Begitu kita masuk ke dalam rumah, kita bukan lagi seorang pejabat dan segala macam embel jabatan lainnya, melainkan seorang ayah, suami, dan cucu yang baik bagi keluarga kita,” imbuh Ashar. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *