Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Cergam Aksara Lontara Moderasi Beragama Kini Hadir di Makassar

3 min read

Inilah cerita bergambar aksara lontara tentang moderasi beragama di Sulsel. Sumber gambar: Dok. BLAM

3,015 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Anak Anda ingin membaca cerita bergambar (cergam) beraksara lontara? Gampang! Cergam beraksara lontara kini hadir di Makassar, dan bahkan menjadi yang pertama, atau satu-satunya di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Tidak percaya? Peneliti Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) sudah membuktikannya, dan sebentar lagi diterbitkan.

Nah, yang bikin tambah menarik, selain menggabungkan bahasa Indonesia dengan aksara lontara, sembilan cergam ini mengangkat tema tentang moderasi beragama, yang diangkat dalam kisah kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Sulsel. Keren, kan?

Koordinator Tim Cergam Aksara Lontara, Husnul Fahimah Ilyas, menyatakan, cergam beraksara lontara, yang ditujukan buat anak-anak Sekolah Dasar (SD) ini, sedang “naik cetak”, dan sebentar lagi bakal terbit.

Menurut Husnul, mereka tertarik membuat cergam beraksara lontara, lantaran hingga kini belum dijumpai ada cergam beraksara lontara (Bugis-Makassar) di Sulsel.

Di samping itu, kata Husnul, pengenalan aksara lontara penting diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini, supaya mereka mengantongi bekal pengetahuan memadai, dan pada akhirnya, paham mengenai sejarah di Sulsel.

“Dalam cergam ini, kami memilih tema toleransi beragama dan moderasi beragama yang dipadukan dengan lokalitas setempat. Bagi kami, tema seperti ini sangat penting untuk menyadarkan anak-anak kita, bahwa Indonesia adalah negara multikultur. Karena itu, meskipun berbeda agama dan etnis, kita harus tetap saling menghormati dan saling menghargai,” jelas Husnul.

Cergam yang dibuat Peneliti Lektur BLAM ini terdiri atas sembilan judul, yang diambil dari berbagai daerah di Sulsel, seperti Kabupaten Pangkep, Barru, Sidrap, Wajo, Bone, Sinjai, Gowa, Takalar, dan Jeneponto.

Kesembilan judul cergam tersebut adalah:

  1. Awal Mula Islamisasi di Sulsel, ditulis Husnul Fahimah Ilyas
  2. Kisah Karaeng Pattingalloang dan Syekh Yusuf (Abu Muslim)
  3. Kisah Andi Tenri dan Arifin (La Mansi)
  4. Teman Sepermainan (Muh. Subair)
  5. Dollah dan Robert (Wardiah Hamid)
  6. Tifa dan Maria (Muh. Sadli Mustafa)
  7. Berbeda Itu Indah (Syarifuddin)
  8. Aco dan Beddu (Faizal Bachrong)
  9. Aku Cinta Indonesia (Muh. Nur)

Sebelum menulis kisah seperti yang tertuang di dalam cergam, sembilan peneliti mendatangi daerah yang dijadikan sasaran pencarian literatur.

Setelah berada di lokasi masing-masing, para peneliti kemudian mencari sejumlah informan yang memahami tentang tema yang mereka inginkan, dan kemudian mendiskusikannya. Hasil diskusi inilah yang nantinya menjadi bahan untuk dikisahkan dalam cergam.

Sebelum diterbitkan, Husnul dan kawan-kawan melewati beberapa kali proses tahapan. Termasuk, mengundang peserta dan narasumber untuk memberi masukan maupun kritikan terhadap kegiatan pengembangan ini.

Yang tak kalah pentingnya, Tim Lektur mengundang khusus ilustrator Prodi Seni Rupa Unismuh Makassar, yaitu Makmun (Amoeng Bungsu), Rahman, Musfir Rizal Pratama, dan Darmawan Eka Hastari.

“Setelah melihat hasil cergam ini, kampus Unismuh Makassar mengajak kami bekerjasama untuk menyosialisasikan cergam ini,” tutur Husnul.

Kepala BLAM

Di tempat terpisah, Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, mengaku salut dengan cergam beraksara lontara yang dihasilkan “anak-anak” Lektur. Menurutnya, ada dua hal yang ditawarkan Peneliti Lektur dalam pembuatan cergam ini, yaitu konservasi nilai-nilai lokal dan moderasi beragama.

Menurut Saprillah, konservasi nilai-nilai lokal, dalam hal ini aksara lontara, tentu penting diperkenalkan kepada anak-anak mulai sejak usia dini, supaya tetap berlangsung koneksivisitas dengan sejarah masa silam.

Di masa era digitalisasi seperti sekarang ini, lanjut Saprillah, tentu sangat disayangkan apabila ada anak-anak tidak peduli lagi dengan sejarah masa silam. Jika itu terjadi, anak-anak dikhawatirkan bisa kehilangan basis historis mereka.

Sementara moderasi beragama menjadi sangat penting dalam waktu belakangan ini, mengingat kalangan anak-anak sekolah rentan terpengaruh dengan paham-paham ekslusivisme. Banyak kasus, anak-anak menutup diri dan tidak ingin bergaul dengan temannya, karena berbeda agama atau suku.

“Dengan moderasi beragama dalam cergam ini, kita berharap anak-anak sejak ini menyadari bahwa negara kita adalah negara multikultural dan beragam agama, dan sudah semestinya kita hidup saling menghargai dan saling menghormati di tengah perbedaan itu,” kata Saprillah. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *