Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Merawat Moderasi Beragama

3 min read

Sumber foto: Dinassalam.com

1,798 total views, 2 views today

Oleh: Aji Sofanudin (Peneliti Balai Litbang Agama Semarang)

Menteri Agama RI, Fachrul Razi, mewacanakan pelarangan cadar dan celana cingkrang bagi pegawai ASN. Kebijakan ini diyakini sebagai jurus jitu menangkal radikalisme.

Selain itu, menangkal radikalisme juga dilakukan melalui hulunya, yakni para penceramah agama. Para penceramah agama diharapkan memberikan kesejukan, kedamaian, serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Kasus penusukan yang menimpa mantan Menkopolhukam Wiranto menyisakan trauma negara. Negara harus lebih aktif mendeteksi bahaya radikalisme.

Ketika wawancara di salah satu televisi nasional (1/11/19), Menteri Agama, Fachrul Razi, menyampaikan akan mengambil beberapa langkah terkait menangkal radikalisme.

Beliau menyampaikan akan menggunakam berbagai pendekatan terhadap para pelaku. Mulai dari memantau, memanggil, melaporkan ujaran kebencian. Tidak menutup kemungkinan juga  menangkap secara langsung.

Mafhum bahwa, radikalisme agama adalah tindakan yang menggunakan idiom agama untuk merusak nilai luhur agama. Sehingga, ada benarnya juga jika pelakunya melakukan memanipulasi agama. Tidak salah juga pelakunya disebut manipulator agama.

Namun, istilah ini hemat kami, sangat menyakitkan bagi tokoh-tokoh agama. Mirip dengan politisi yang melakukan korupsi kemudian dilabeli manipulator politik. Ini juga amat menyakitkan.

Ada baiknya penggunaan istilah yang menimbulkan kebisingan dan kontraproduktif bagi kemajuan bangsa perlu dihindari. Hemat kami, radikalisme bisa ditangkal melalui moderatisme. Inti moderasi adalah jalan tengah, jalan damai, bukan jalan ekstrem.

Wacana beragama itu ibarat bandul. Jika ditarik ke kiri jauh, dia akan mengayun ke kanan secara jauh juga. Jika satu kelompok menyalahkan kelompok lain, yang lain akan membalas pula. Itulah paradigma takfiri, saling mengkafirkan.

Oleh karena, itu bandul harus dijaga selalu ditengah, mengayun dalam irama yang tepat. Sehingga menimbulkan kenyamanan bermasyarakat serta produktif untuk memajukan bangsa.

Istilah manipulator agama selayaknya tidak perlu diperluas. Karena berpotensi memunculkan istilah lain; manipulator politik, manipulator ekonomi, dan seterusnya. Ini justru menambah kebisingan.

Melarang cadar dan celana cingkrang ibarat menarik bandul terlalu kiri. Wacana ini, berpotensi memunculkan wacana tandingan; rok mini dan baju renang dilarang di Indonesia, misalnya.

Isu penegakan disiplin lebih penting diwacanakan ketimbang pelarangan. Sama dengan wacana moderasi beragama terasa lebih soft diterapkan daripada istilah perang terhadap radikalisme agama.

Cadar memang bukan indikator ketaqwaan. Artinya, yang memakai cadar  bukan berarti lebih bertaqwa daripada yang tidak. Tetapi, mengenakan cadar merupakan ekspresi keberagamaan yang dilindungi UU.

Mengenakan cadar ada yg bersifat ideologis yakni Isbal. Ada pula yang hanya bersifat modis. Lebih jauh, tidak tepat menstigma pemakai cadar dan celana cingkrang sebagai pelaku radikalisme.

Teror bisa diselesaikan oleh negara. Tetapi isme tidak bisa. Terorisme yang menggunakan pendekatan ekstrim bisa diselesaikan dengan pendekatan non-ekstrim, yakni pendekatan moderasi.

Moderasi beragama adalah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku ekstrem atau berlebih-lebihan saat mengimplementasikannya.

Moderasi beragama berarti cara beragama jalan tengah. Dengan moderasi beragama, seseorang tidak ekstrem dan tidak berlebih-lebihan saat menjalani ajaran agamanya. Orang yang mempraktikkannya disebut moderat (Kemenag, 2019).

Moderasi beragama menempatkan pemahaman agama pada posisi tengah. Jika lima, maka kita hendaknya berada di posisi tiga. Jika tujuh, nilai tengah ada di posisi empat, dan seterusnya.

Kementerian Agama RI, era Pak Lukman Hakim Saifuddin telah menyusun buku moderasi beragama. Buku tersebut bisa didownload secara gratis melalui: https://balitbangdiklat.kemenag.go.id/preview/buku-moderasi-beragama. Semoga bermanfaat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *