Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Mengapa Memperingati Maulid Nabi saw?

4 min read

Sumber gambar: Bincang Syariah

2,492 total views, 4 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Barang siapa membiasakan –di dalam Islam– kebiasaan yang baik (Bid’ah Hasanah), lalu kebiasaan itu diikuti (orang-orang) setelahnya, maka baginya pahala sebagaimana pahala yang diperoleh oleh orang-orang (setelahnya) yang mengerjakan (Sunnah tersebut), tidak dikurangi dari pahala mereka sedikitpun….” Hadits Riwayat Imam Muslim.

Bulan Rabiul Awal merupakan salah satu bulan yang dinantikan oleh berjuta-juta umat Islam di dunia. Pada bulan ini, jutaan umat Islam tumpah ruah dalam kebahagiaan dan menunjukkannya dengan beragam acara, simbol, bahkan dengan penganan aneka rupa. Begitu istimewa bulan ini, karena salah satu hari dalam bulan ini adalah hari kelahiran seorang manusia paling istimewa sepanjang masa.

Dialah Nabi Muhammad saw. Keistimewaan kelahiran Rasulullah inilah, yang kemudian diapresiasi oleh sebagian umat Islam dengan mengadakan beragam acara untuk memeringatinya, atau lazim dengan sebutan peringatan maulid nabi

Riwayat mengenai kapan dimulainya peringatan Maulid Nabi saw, cukup beragam. Ada riwayat yang menyebutkan, yang pertama kali mengadakan peringatan hari kelahiran Nabi saw adalah dari para turunan nabi saw, yakni pada zaman Imam Ja’far Shadiq dan Imam Musa al-Kazhim atau sekitar pertengahan abad kedua hijriyah.

Riwayat sejarah lain menyebutkan, peringatan maulid pertama kali dilakukan Sultan Irbil, yaitu Syeikh Muzhaffaruddin al-Kaukabri, yang merayakan dengan acara peringatan besar-besaran. Peringatan maulid kemudian menjadi sebuah tradisi yang meriah setiap bulan Rabiul Awal oleh umat Islam di berbagai negara.

Di Indonesia, peringatan hari Maulid Nabi saw yang jatuh pada bulan Rabiul Awwal telah menjadi bagian dari tradisi keislaman masyarakat nusantara. Dapat dikatakan, tidak ada satu etnik pun yang dominan pemeluk Islamnya tidak menjadikan peringatan maulid sebagai tardisi keagamaan yang rutin digelar.

Semarak peringatan Maulid Nabi menggaung bahkan sepanjang bulan Rabiul Awwal dari Aceh hingga daerah kepala burung di Papua Barat. Setiap etnik memiliki ragam ekspresi yang berbeda dalam mengapresiasi peringatan maulid Rasul saw. Tentu saja hal ini menjadi khasanah besar dalam kebudayaan masyarakat Islam Indonesia.

Mengapa mesti memperingati Maulid Nabi saw? Bukankah Nabi sendiri tidak pernah mencontohkannya? Tidak adanya contoh dari Nabi saw dan para sahabat bukan menjadi dalil untuk melarang atau menyesatkan peringatan maulid Nabi saw.

Memperingati Maulid Nabi saw, meski tidak dicontohkan sendiri oleh Nabi saw dan para sahabatnya merupakan sebuah tradisi yang baik dan memiliki banyak maslahat bagi umat Islam.

Setidaknya ada beberapa alasan mengapa memperingati Maulid Nabi saw. Pertama; Allah swt memberkati dan mengagungkan hari dan tanah kelahiran para nabi. Apalagi hari kelahiran Rasulullah saw. Karena itu, sudah sepantasnya kita sebagai umat Rasulullah memuliakan hari kelahirannya.

Hal ini berdasar pada kisah dalam sebuah hadits yang dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Bari jilid VII bahwa, ketika dalam perjalanan Mi’raj, Rasulullah saw diperintahkan Jibril shalat dua rakaat di Bethlehem.

Setelah Rasulullah saw. selesai shalat, Jibril lalu bertanya “Apakah kamu tahu di mana kamu shalat saat itu? Rasulullah saw menjawab “tidak” dan Jibril berkata lagi, “kamu shalat di Bethlehem tempat kelahiran Nabi Isa”.

Allah swt merahmati hari hari kelahiran Nabi Isa dengan kesejahteraan sebagaimana termaktub dalam Surat Maryam Ayat 33. Jikalau Allah swt memberkati hari kelahiran Nabi Isa as, bukankah berarti hari kelahiran Rasulullah saw lebih diberkati dan dilimpahi kesejahteraan oleh Allah.

Alasan kedua; peringatan Maulid Nabi saw adalah sebuah tradisi yang sangat penting dalam mengup-grade kecintaan kepada sosok Rasulullah saw. Karena dengan memperingati hari kelahirannya, kita akan mengenang sosok dan kepribadiannya yang sangat mulia.

Kecintaan kepada Rasulullah saw adalah sebuah kemestian bagi setiap umat Islam. Setiap umat Islam diwajibkan untuk lebih mencintai Rasulullah saw lebih dari kecintaan pada apa pun juga di dunia ini.

Cinta menuntut bukti, mencintai seseorang atau sesuatu akan berimplikasi pada kecintaan dan ekspresi pada setiap hal yang berkenaan dengan objek yang kita cintai tersebut. Mencintai Rasul berarti kita mencintai segala hal yang berhubungan dengan rasulullah, dan tidak akan melewatkan momen-momen penting berkenaan dengan diri rasulullah. Maulid atau peristiwa kelahiran beliau adalah momentum besar yang berkenaan dengan diri beliau.

Jalaluddin as-Suyuti (Salah seorang penulis tafsir Jalalain) mengapresiasi peringatan maulid sebagai ungkapan kecintaan sekaligus rasa syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Saw ke muka bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam Kitab al-Ni’mah al-Kubra Ala al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam.

Menurutnya, memperingati maulid Nabi saw adalah ungkapan kecintaan sekaligus kesyukuran atas kehadiran beliau di muka bumi menghidayahi umat manusia dan menyelamatkannya dari lembah kesesatan.

Alasan ketiga sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Ahzab ayat 21; “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu ada contoh yang baik bagi orang-orang yang mengharap (Ridho) Allah, dan percaya terhadap hari akhir, serta orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah SWT.”

Memeringati maulid Nabi saw menjadi sangat penting bagi umat Islam, guna semakin mendekatkan diri kepada sang Nabi dan menjadi momentum pengingat akan kemuliaan akhlak dan keagungan pribadi beliau. Dengan memperingati Maulid Nabi saw akan memantik ghirah keislaman kita dengan meneladani kepribadian beliau yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Namun, hal yang patut diingat, kesemarakan dalam peringatan Maulid Nabi saw hendaknya tidak diarahkan pada aspek seremonial belaka yang bahkan mungkin menjurus kepada hal yang bersifat hura-hura.

Kesemarakan peringatan Maulid Nabi saw mestinya diarahkan pada penghayatan akan perjalanan hidup Nabi saw dan menjadikan peringatan Maulid Nabi saw benar-benar menjadi momentum syiar yang diarahkan pada peningkatan kecintaan kepada Nabi dengan menghidupkan sunnahnya dan meneladani akhlak mulianya. Sehingga, substansi peringatan Maulid Nabi saw dapat benar terrealisasi dan berbekas di jiwa umat Islam yang merayakannya.

“Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (Qs. Ibrahim: 5).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *